Berlatih Tanggungjawab

09:32:00 Mad Solihin 0 Comments

Malam jum’at kemarin ketika saya berada di Banjar tepatnya di gedung pcnu, ayah saya sms dan mengatkan bahwa Bibi Musfiroh dan Ti (dua adik ibu saya) berada di Purworejo dan mengharapkan  ibu saya supaya bisa ke Purworejo. Satu-satunya cara untuk mengabulkan permintaan bibi adalah diri saya yang mengantar, karena hanya sayalah anak laki-laki satu-satunya. Mau tidak mau sayapun mengiyakan dan akan pulang besok pagi.
Dalam situasi seperti ini saya sudah punya dua agenda acara sebenarnya. Pertama pada jum’at pagi untuk menemui Tarso di Karangkobar. Dan yang kedua pada sabtu pagi untuk rapat lanjutan membahas pelantikan BEM karena kebetulan saya yang menjadi ketua panitia. Sebagai salah satu taggungjawab atas apa yang sudah saya jadwalkan, maka pada pagi harinya sayapun menghubungi Tarso lewat BBM perihal tidak bisa ke Kerangkobar karena harus mengantar ibu ke Purworejo. Pun demikian dengan agenda rapat pada hari Sabtu, karena saya tak mungkin meninggalkan ibu saya pulang sendiri maka saya menghubungi Lutfhi selaku ketua BEM perihal ketidakharian saya pada rapat tersebut dan berpesan untuk setiap sie kegiatan mendiskusikan kebutuhan apa yang diperlukan.
Dari dua kejadian diatas sayapun belajar bahwa apa yang sudah kita jadwalkan dengan orang lain harus dipertanggungjawabkan. Mengkonfirmasi jika kita berhalangan. Ini penting, karena ada beban moral, apalagi sebagai seorang pemimpin yang dari situ sebuah kepercayaan dipertaruhkan. Selain itu saya juga belajar bahwa terkadang sesuatu itu tak sesulit yang kita bayangkan.
Berangkat ke Dogleg (Brondong, Bruno) Purworejo
Seperti yang saya katakan tadi malam bahwa saya akan pulang besok pagi. Maka pada pagi harinya sayapun pulang dan sampai dirumah sekitar setengah delapan. Saya dapati rumah kosong, karena ibu dan ayah saya sedang pergi berziarah bersama keluarga besar mbah Marto. Suatu rutinitas jum’at pagi yang dari situ semua keluarga berkumpul.
Saya berangkat sekitar setengah sembilan bersama dengan ibu. Tak lupa, buah salak menjadi kebiasaan yang tak pernah absen karena disana tak ada buah salak. Menerobos lewat sawangan, wadas lintang dan sampai di Bruno sekitar pukul sebelas. Butuh waktu satu jam setengah agar sampai disana. Memang lumayan cepat, namun yang tak saya suka adalah jalannya yang rusak. Meskipun ada sebagian yang sudah bagus tetapi itu hanya sedikit. Bahkan karena tak kuat menjaga keseimbangan, di jalan rolak sayapun jatuh sehingga spion kanan harus pecah lagi. Padahal belum lama saya ganti.
Kami mampir di rumah Yu In, namun karena tidak ada di rumah saya dan ibu langsung menuju ke rumah Uwa (Kakak dari ibu saya). Disana hanya ada Yusron saudara sepupu saya karena ibu dan ayahnya masih di kebun. Sedang Mbah Putri yang kami kira di situ ternyata berada di tempat lik Bini sehingga Bibi Mus dan bibi Ti juga berada di sana.
Jam 12 kurang bersama dengan Yusron, saya pergi ke masjid untuk sholat jum’at. Ada sedikit perbedaan di sini. Ketika beberapa daerah pada umumnya jam 12 atau setengah 1 sudah selesai, maka disini jam setengah 1 baru munggah (mulai khutbah). Selain itu jumlah jama’ah yang hadir untuk sholat jum’at tak ada 40 orang sehingga ketika selesai sholat jum’at ditambah dengan sholat dhuhur. Bukan karena tak mau sholat jum’at, tetapi karena memang hanya segitu jumlah masyarakatnya. Dan yang didaerah lagi sudah tidak ada, maka disini masih ada perempuan ikut jum’atan, termasuk mbahku.
Ada hal yang membuat hatiku terusik. Bangunan masjid yang seperti mushola dan jika melihat jedela, kacanya dipenuhi oleh debu dan kotoran yang menandakan bahwa jendela tersebut tak pernah dibersihkan. Bentuk atapnyapun masih tradisional, jika sekarang masjid menggunakan mustaka maka masjid tersebut masih menggunakan semacam gendi yang diletakan tengkurap.
Pun dengan jama’ah, kebanyakan mereka adalah orang yang sudah tua. Anak muda atau remaja seolah tak ada karena kebanyakan dari mereka merantau, mengundi nasib di perantauan. Kampung yang dulu ketika saya masih SD berkunjung ke sana masih rame, kini sepi dan akan ramai ketika lebaran idul fitri tiba. Mereka yang merantau akan pulang, melepas kerinduan dan memohon maaf kepada orang tua serta sanak sauadara.

Pringamba (Sigaluh, Banjarnegara), 07 Maret 2015. 23:55

You Might Also Like

0 comments: