Hanya Allahlah Tempat Mengadu

22:32:00 Add Comment
Ilustrasi
Malam ini saya silaturahim ke tempat Gus Zahid bersama Syafiq. Dan tentunya banyak hikmah yang kami dapat sebagaimana dalam hadits yang menerangkan bahwa silaturahim itu banyak manfaatnya. Dan itu terbukti, ilmu demi ilmu kami dapat yang saya yakin itu tidak ada dalam bangku sekolah.
Sebagaimana posisi saya sebagai kader IPNU, maka misi kedatangan saya adalah meminta masukan dan arahan seputar kegiatan IPNU, yakni DIKLATAMA II sebagai agenda terdekatnya. Dan umumnya kegiatan yang sudah-sudah, kami datang dari pintu ke pintu dengan membawa proposal. Ya jika yang didatangi adalah yang murah hati, jika tidak, kesel menjadi bagian yang terpisahkan. Dan itu menjadi keprihatinan tersendiri.
Dari situlah sebuah gagasan untuk menggandeng unsur pemerintahan ditawarkan. Gagasan dimana kita harus jemput bola dengan membuka komunikasi terlebih dahulu. Mencari informasi terkait program yang bisa disinergikan dengan IPNU. Dalam hal ini dibutuhkan sebuah kecerdasan untuk membaca peluang, update informasi dan tentunya keberanian untuk menjalin komunikasi.
Selain itu, yang membuat saya malu adalah ketika beliau menyampaikan tentang mengeluh. Selama ini dari mulai IPNU, Lakspedam dan NU, beliau tidak pernah mengeluh kepada manusia. Suatu hal yang agaknya menjadi kebiasaan saya selama ini, mengeluh di sana sini. Ah, malunya diri ini.
Wejangan yang cukup mengena adalah ketika beliau menyampaikan perihal do’a yang selama ini beliau panjatkan yang jika ditertemahkan kira-kira seperti ini, “Ya Allah lelahkan saya dalam membagikan rezeki dan mudahkan saya dalam mencari rezeki”. Do’a yang mengandung arti yang sangat dalam.
Dari itu juga, beliau juga menyampaikan bahwa hanya Allah lah tempat untuk mengeluh. “Allahusshomad”, itulah pegangan beliau.

Banjarnegara, 31 Maret 2015

Pengalaman Menjadi Ketua Panitia Pelantikan BEM FITK UNSIQ

01:29:00 Add Comment
Saat Sambutan Ketua Panitia
Pada pelantikan BEM FITK UNSIQ, Senin, 23 Maret 2015 yang lalu saya berkesempatan untuk menjadi ketua panitia. Ada sensasi tersendiri yang saya rasakan, sensasi itu adalah bahwa saya ternyata mampu. Ya, setidaknya bisa dilihat dari acara yang terbilang sukses.
Berawal dari rapat pasca raker dengan agenda terdeat adalah pelantikan, yang pada rapat tersebut melalui proses pemilihan dengan menuliskan pada kertas yang dibagi ke pengurus yang hadir. Dan nama saya menduduki posisi terbanyak sehingga mau tidak mau sayapun menyanggupi untuk menjadi ketua panitia.
Sebagaimana rapat-rapat sebelumnya, siapapun yang menjadi ketua panitialah yang memimpin rapat teknis dan pembagian tugas. Disitulah saya belajar untuk memimpin rapat walau dalam hati, saya merasa tidak mempunyai kemampuan seperti teman yang lain. Sayapun mmenuliskan struktur kepanitianaan yang diperlukan, mulai dari sekretaris, bendahara dan beberapa sie, mulai dari sie acara, sie konsumsi, sie perlengkapan, sie pubdekdok dan sie humas.
Pengalaman menjadi ketua panitia ini saya merasa agak ringan, pasalnya ketua panitia hanya mengkoordinir. Paling kalau ada yang harus ikut turun tangan adalah ketika menemui Dekan, Rektor, Nembusi Pemateri dan tanda tangan. Selebihnya sudah ada yang mengerjakan sesuai tupoksinya atau bahasa yang bisa mewakili mungkin, profesional.
Pengalaman tersebut sangat kontras ketika ada kegiatan di IPNU. Saya sebagai seorang ketua harus siap menjadi apapun. Ketua, sekretaris, bendara, sie perlengkapan, sie konsumsi dan sebagainya yang kesemuanya mau tidak mau saya harus mau.
Sesuai dengan posisi saya sebagai ketua IPNU, saya merasakan bahwa rangkap jabatan sangatlah menyulitkan. Itu tidak lain adalah ketika dalam organisasi kita dituntut untuk profesional, namun disisi lain juga kita dituntut juga untuk profesional juga. Sebagaimana contoh kemarin hari MInggu, ketika H-1 sebelum acara pelantikan dan proses persiapan tempat saya cukup bingung, pasalnya di hari tersebut juga ada acara NU yaitu penyambutan Mensos pada acara peringatan 100 hari longsor jemblung. Sebagai ketua IPNU yang harusnya ikut penyambutan di Karangkobar, namun disisi lain juga sebagai ketua panitia yang juga harus mempersiapkan untuk acara pelantikan. Disinilah saya belajar mengenai betapa rangkap jabatan yang kedua-duanya sangat penting bukanlah sesuatu yang baik. Karena suatu waktu pasti akan tabrakan dan konsentrasipun terbagi.
Sayapun menyadari bahwa keberhasilan acara pelantikan itu adalah karena kerja team, yang karena kolektivitas itulah sehingga acara bisa berjalan dengan lancar. Puncak kepuasan saya menjadi ketua panitia adalah saya punya kesempatan untuk menguji mental dihadapan ratusan mahasiswa dan petinggi kampus saat sambutan ketua panitia. Walau katanya banyak yang bilang bahwa suaraku cempreng. Biarlah, setidaknya saya pernah menjadi ketua panitia dan belajar banyak hal. Dan semoga menjadi salah satu langkah saya untuk menjadi orang besar nantinya. 
Tampak dari Kejauhan

Banjarnegara, 29 Maret 2015. 01:05
Ternyata Saya Terdampar di UNSIQ

Ternyata Saya Terdampar di UNSIQ

22:28:00 Add Comment
Dua setengah tahun yang lalu ketika masih akrab dengan masa putih abu-abu, sebuah pikiran untuk kuliah dan mendapat stempel “mahasiswa” begitu terpatri dalam hati. Keinginan itu muncul karena melihat beberapa kakak alumni senior meneruskan pendidikan mereka di perguruan tinggi. Ada yang di Semarang, Yogyakarta dan Wonosobo. Pilihan terakhir inilah yang paling banyak diminati oleh para kakak kelas, sehingga dalam benak saya, gambaran Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) adalah tujuan kemana nanti saya akan mengejar impian menjadi mahasiswa.
Selain alasan di atas, ada beberapa alasan yang akhir-akhir ini baru saya pahami dan mungkin bisa disebut dengan alasan konyol.
Tidak ada pilihan lain. Kenapa saya sebut tidak ada pilihan lain? Itu karena waktu itu saya masih di pondok dan ketika ingin pamit pindah, Abah Yai belum mengizinkan dan menyuruh saya untuk ikut membantu di sana. Sebagai seorang santri yang telah mendapat pendidikan dari sejak MTs sampai MA, akhirnya sayapun itba’ kepada apa yang dikatakan oleh Abah Yai. Mengikuti jejak kakak-kakak kelas, Universitas Sains Al-Qur’an adalah tujuan saya untuk melanjutkan pendidikan pada tingkatan perguruan tinggi. Selain paling dekat jaraknya dari Sigaluh, daerah pesantren yang saya temapati, Universitas Sains Al-Qur’an adalah satu-satunya Universitas yang berbasic keagamaan dan cukup terpandang di Wonosobo. Dengan pendirinya adalah Mbah KH. Muntaha Al-Hafidz guru dari pengasuh pesantren yang saya tempati. Sehingga saat itu UNSIQ adalah pilihan yang paling cocok menurut saya.
Tidak ada pandangan. Jujur, kenapa saya memilih di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dengan Program Studi Pendidikan Agama Islam adalah karena mengikuti jejak kakak kelas yang kebanyakan dari mereka mengambil PAI serta angan-angan saya waktu itu PAI lah yang sesuai dengan latar belakang pendidikan sebelumnya dan rasanya lebih mudah. Saat itu tak ada kesadaran bahwa lulusan dari PAI nantinya akan menjadi guru, walau sudah ada yang bilang dan mendengar perihal tersebut. Namun yang ada di benak saya saat itu adalah hanya kebanggaan dan kebahagiaan bisa kuliah.
Saya baru menyadari tentang apa hakekat sebenarnya tujuan akhir dari prodi yang saya ambil kalau tidak salah sewaktu semester 3. Perkuliahan semeseter awal sampai dua saya jalani tanpa beban dan sesuai alur.  Kini, saya mulai menyadari dan memahami diri sendiri kenapa saya tidak mempunyai pandangan. Itu tidak lain adalah karena pergaulan saya berkutat hanya pada teman sekolah dan setelah itu kembali ke habitus pesantren. Tidak menggunakan HP atau bergaul dengan mereka yang sekolah di Sekolah di luar. Keadaan guru yang menurut saya masih belum menumbuhkan jiwa intropeksi, kemana jalan yang harus di tempuh oleh murid. Dari situlah saya merasa bahwa itu yang menjadikan saya terdampar tanpa perencanaan.
Ikut IPNU
Masih segar dalam ingatan ketika waktu itu, Sabtu 2 hari sebelum Ujian Madrasah saya memutuskan untuk ikut acara Sekolah kaderisasi Berkelanjutan (SKB) IPNU IPPNU yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah IPNU IPPNU. Saat itu saya di ajak oleh kakak seniorku, Mizanto. Sejak itulah saya mulai aktif di organisasi hingga akhirnya ikut dalam kepengurusan IPNU di tingkat Kabupaten menjadi Bendahara yang selama 6 tahun vakum. Dua tahun kemudian pada acara Konferensi Cabang (Konfercab) tanggal 10-20 April 2014 bertempat di Pesantren Al-Fatah saya terpilih menjadi ketua.
Mengalir dan tanpa punya pandangan. Begitulah waktu itu ketika saya diamanati menjadi ketua. Beruntung walau tidak terlalu aktif, saya sudah mempunyai pengalaman ikut organisasi PMII di kampus dan sedikit banyak belajar sewaktu masih menjadi bendahara pada periode sebelumnya.
Dalam berproses di organisasilah saya menemukan apa kecenderungan yang saya minati. Menjadi penulis dan wartawan, itulah yang menjadi cita-citaku. Walau memang ketika saya korekasi, tarbiyah bukan lah jurusan yang sesuai. Keinginan ini muncul saat saya membaca buku bahwa para ulama terdahulu adalah orang-orang yang produktif dalam menelurkan karya. Begitupun dengan gagasan Pramodya Ananta Tour yang mengatakan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Angan-angan saya ketika menjadi guru saya sudah banyak pengalaman sehingga bisa memotivasi dan mendidik siapa yang menjadi murd saya agar berhasil dan mempunyai pandangan kedepan. Dan pengalaman itu ingin saya dapat dari proses wartawan yang kesehariannya selalu bergulat dengan lapangan.
Demikianlah gambaran singkat mengapa saya terdampar di UNSIQ terkhusus di Prodi PAI yang notebane tujuan akhirnya adalah guru.
Banjarnegara,  18 & 19 Maret 2015
Wartawan Harus Netral

Wartawan Harus Netral

01:38:00 Add Comment
Hari ini saya berkesempatan bertemu dengan Bapak Asmaji Muchtar, Warek III Unsiq. Bersama dengan Akhmad Luthfi Ali saya samapaikan maksud kedatangan kami yaitu memohon untuk menjadi pemateri pada acara seminar pendidikan dengan tema Peningkatan kompetensi Mahasiswa FITK Menghadapi Persaingan Global senin depan (23/3). Dalam seminar tersebut, kami berharap beliau menyampaikan dengan sudut pandang bahwa lulusan FITK tidak harus menjadi guru, mengingat setiap tahun lulusan Fakultas Tarbiyah itu overload tidak sebanding dengan kebutuhan.
Rencana awal dalam seminar, nantinya kami akan hadirkan juga Bapak Arifin Siddiq, Dekan FITK sebagai pemateri pembanding dengan sudut pandang keprofesioalan seorang guru. Bagaimana guru yang baik dan sesuai dengan kriteria kode etik seorang guru.
Sebagaimana yang sering saya ucapkan kepada orang-orang dekat bahwa keinginan saya adalah menjadi wartawan. Seperti itu jugalah yang saya katakan ketika Pak Asmaji menanyakan perihal apa cita-cita saya setelah lulus. Dengan suara lantang dan penuh keyakinan, saya mengutarakan keinginan yang selama ini terpatri dalam hatiku.
Menanggapi jawaban saya, Pak Asmaji mengajarkan kepada kami bahwa seorang wartawan harus menghilangkan pikiran kotak-kotak. Mengilangkan sentimen golongan dan harus bersikap netral. Pun demikian dengan berita yang diliput, harus yang berbobot bukan hanya berita kecelakaan. Melaiankan berita mengenai anggaran daerah dll.
Dalam kesempatan tersebut, kami juga belajar mengenai pentingnya menghargai karya orang lain.

Banjarnegara, 17 maret 2015. 1:33
Menerjang Hujan

Menerjang Hujan

13:00:00 Add Comment
Ba’da maghrib kemarin (Rabu, 12 Maret  2015) ketika hujan deras masih mengguyur bumi, saya memaksakan diri untuk menerjangnya. Saya paksakan diri untuk pergi ke Rakit sebagaimana yang telah saya ucapkan pada pagi harinya kepada Lu-lu ketika saya masih berada di Kantor Kemenag mengikuti Rapat Koordinasi dan Pembinaan Penyuluh Agama Islam Non PNS.
Ada keengganan sebenarnya, hujan deras, sudah sore dan harus mengeluarkan bensin tentunya. Jika bukan karena ingin berkhidmat memperjuangkan IPNU mungkin saya lebih baik memilih bersantai di rumah tanpa memikirkan orang lain. Namun, amanah menjadi ketua membuat saya merasa bahwa saya harus bergerak, prihatin dan mengalah. Ketika pengurus lain mungkin masih sibuk dengan dunianya sendiri, saya harus bergerak melakukan sesuatu yang tak dilakukan oleh pengurus yang lain. Dan itu wajib hukumnya  bagi seorang pemimpin jika ingin organisasi yang dipimpin ingin maju.
Dan sore itu, dengan niat untuk berlatih menepati janji sesuai apa yang telah saya ucapkan juga sebagai salah satu bentuk memberikan teladan, ibda’ binafsii. Memulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Tidak hanya lisan yang mengeluaran ucapan sampai berbusa-busa, namun membuktikan dengan tindakan nyata. Dan itu bukan pertama kalinya saya harus menerjang derasnya air hujan, bahkan berkali-kali.
Akan tetapi ada rasa kepuasan tersendiri, belajar untuk menikmati hujan, bersabar dan tentunya menjadikan sebagai sebuah kenangan.
Sabagaimana pada hari-hari yang lalu, kegiatan yang selama ini ada dan terealisasi adalah hasil dari obrolan ringan antara saya dengan teman-teman di Rakit. Dan malam ini sebuah obrolan mengenai gambaran tentang Diklatama II, Tindak Lanjut pasca Diklatama II dan beberapa permasalahan IPNU yang kini menyelimuti menjadi bahan topik pembicaraan. Dan karena saking asyiknya tak terasa sudah jam 1 lebih, bersama dengan Adnan, Fikri dan Lu-lu di sebuah kamar berukuran 3,5 x 3 M lantai 2.

Rakit (Banjarnegara), 13 Maret 2015
Tentukan Prioritas dan Bersikaplah Profesional

Tentukan Prioritas dan Bersikaplah Profesional

07:00:00 Add Comment
Bulan Maret ini saya merasa bahwa kegiatan benar-benar menyita banyak waktu. IPNU, BEM dan kuliah. Di tambah lagi HMP, headuh bingung ini. Bingung di sini karena di semua tempat saya menjadi orang yang harus total (penting, red). Di BEM, pada tanggal 23 Maret 2015 mendatang akan ada pelantikan dan kebetulan saya yang menjadi ketua panitia. Di IPNU, sebagai seorang ketua harus siap ke sana kemari walaupun seorang diri. Dan agenda yang harus segera di selesaikan adalah masalah menjadi tuan ruah rapat koordinasi CBP KPP se-Jawa Tengah dan Rekercab. HMP PAI, sebagai seorang sekjend tentu harus lebih intens dan ada dalam setiap kegiatan. Belum lagi kuliah, sepertinya ada banyak waktu yang harus rela untuk ditinggalkan.
Berat, sulit dan menantang terkumpul menjadi satu. Dan yang paling penting adalah menantang. Ya, saya merasa tertantang untuk bisa mensukseskan acara. Karena di situ saya belajar tentang komunikasi dan bermasyarakat. Menjadi ketua panitia, dalam kepengurusan BEM tahun lalu menjadi sekretaris kegiatan adalah hal yang biasa. Sehingga ketika pada tanggal 3 Maret 2015 saat rapat pengurus bem saya di tunjuk untuk menjadi ketua panitia saya menyanggupinya, walau sebenarnya sibuk juga di IPNU. Faktor yang membuat saya menyanggupinya adalah karena saya merasa tertantang dan ingin belajar leadership serta mengalahkan rasa takut bahwa saya mampu dan punya kompetensi untuk memimpin.
Menjadi tuan rumah rapat koordinasi CBP KPP se Jawa Tengah. Ketika ditawari oleh mas Burhan waktu itu saya baru dari Wiramastra. Mungkin karena tergesa-gesa sehingga setelah saya koordinasi dengan teman-teman saya menyanggupinya. Di sini saya juga merasa tertantang untuk bisa. Walau pada akhirnya saya juga yang harus mumet sendiri. Mungkin hanya tempat dan konsumsi, tetapi ada hal lain-lain yang tidak bisa di duga. Konsumsi yang dalam pandangan saya beres, ternyata ada kendala. Belum lagi usulan mendadak yang katanya ada yang menginap. Headuh, mumet ini. Akhirnya acara yang katanya sederhana menjadi tidak sederhana bagi kami. Mungkin jika pc yang lain itu bukanlah masalah, namun ini baru saja bangun langsung harus siap memikul sesuatu dan lagi-lagi harus siap maju sak dan awak. Namun, setidaknya saya belajar untuk lain waktu harus benar-benar melihat dan memahami kemampuan diri sehingga tidak tergesa-gesa mengambil keputusan.
Sekjend HMP PAI. Awal kepengurusan niat dalam diri saya adalah mengawal karena semua yang ada disana tergolong baru sehingga bersama dengan Ibnu, saya ingin sedikit memberi warna dan share pengalaman kepada teman-teman. Namun, lagi-lagi karena menjadi sekjend adalah salah satu pengrus inti yang sebenarnya wajib hadir dalam acara membuat saya bingung. Bingung di sini karena saya harus bisa menghadiri acara namun disisi lain, ada juga kegiatan yang tak bisa ditinggal karena saya menjadi orang yang mengurusi, katakanlah IPNU.
Perkuliahan. Dalam perkuliahan mungkin bisa dikatakan bahwa di situ hanya ada pembahasan yang jika tidak ikut tidaklah masalah. Namun, disisi lain absensi juga merupakan salah satu kriteria untuk menentukan penilaian oleh seorang dosen. Dan semoga tidak banyak waktu yang tinggalkan untuk perkuliahan.
Beberapa hal di atas, membuat saya belajar bahwa harus ada prioritas tertentu yang harus dipilih. Artinya ada hal yang memang harus disanggupi tetapi jika di semua tempat harus menjadi orang yang total, ini sulit karena saya yakin tidaklah fokus sehingga kegiatan tidaklah maksimal. Bolehlah menjadi ketua panitia bem, namun jika dalam organisasi lain di suruh jadi ketua penitia lagi katakanlah ketua panitia hmp, maka pilihlah salah satu. Karena menjadi ketua di dua tempat akan membuat pemikiran bercabang. Pun demikian tenaga, tentu tidak akan maksimal.
Banjarnegara, 11 Maret 2015 
Perjuangan, Ya Butuh Pengorbanan Tho?

Perjuangan, Ya Butuh Pengorbanan Tho?

05:58:00 Add Comment
Selasa kemarin setelah mengikuti rapat dengan MWC dan Muslimat Sigaluh, rasa bimbang muncul dalam diriku. Pasalnya konsumsi untuk kegiatan Rapat Koordinasi CBP KPP se-Jawa Tengah pada 21 Maret mendatang belum clear. Padahal waktu hanya tinggal 10 hari. Muslimat Sigaluh yang saya harapkan bisa mengatasi ternyata tidak bisa. Mereka beralasan jika kegiatan dari provinsi masa gak ada dana? Sehingga ketika akan menarik sodakohan dari warga mereka tidak mau. Ah, rasanya benar-benar kacau.
Kejadian ini setidaknya membuat saya belajar bahwa untuk menentukan kegiatan benar-benar dibutuhkan perencanaan yang matang. Apalagi yang ke sana kemari hanya saya seorang diri. Ini benar-benar membuat saya merasa bingung. Jika tak punya kegiatan yang lain, mungkin itu tidak jadi masalah, tetapi banyak agenda dan kegiatan selain mengrusi kegiatan tersebut.
Masa iya ipnu setingat PW gak ada dana? Ah, perlu ditanyakan ini kerjanya.
Biarlah ini menjadi semacam pembelajaran yang jika berhasil semoga bisa membuat diri yang lemah ini berubah menjadi lebih kuat dan tangguh. Namanya saja juga belajar dan berjuang, tentu kesalahan dan kekurangan adalah hal yang wajar adanya. Selain itu, perjuangan itu ya harus ada pengorbanan, baik tenaga, pikiran, waktu dan uang.

Banjarnegara, 11 Maret 2015
Berlatih Tanggungjawab

Berlatih Tanggungjawab

09:32:00 Add Comment
Malam jum’at kemarin ketika saya berada di Banjar tepatnya di gedung pcnu, ayah saya sms dan mengatkan bahwa Bibi Musfiroh dan Ti (dua adik ibu saya) berada di Purworejo dan mengharapkan  ibu saya supaya bisa ke Purworejo. Satu-satunya cara untuk mengabulkan permintaan bibi adalah diri saya yang mengantar, karena hanya sayalah anak laki-laki satu-satunya. Mau tidak mau sayapun mengiyakan dan akan pulang besok pagi.
Dalam situasi seperti ini saya sudah punya dua agenda acara sebenarnya. Pertama pada jum’at pagi untuk menemui Tarso di Karangkobar. Dan yang kedua pada sabtu pagi untuk rapat lanjutan membahas pelantikan BEM karena kebetulan saya yang menjadi ketua panitia. Sebagai salah satu taggungjawab atas apa yang sudah saya jadwalkan, maka pada pagi harinya sayapun menghubungi Tarso lewat BBM perihal tidak bisa ke Kerangkobar karena harus mengantar ibu ke Purworejo. Pun demikian dengan agenda rapat pada hari Sabtu, karena saya tak mungkin meninggalkan ibu saya pulang sendiri maka saya menghubungi Lutfhi selaku ketua BEM perihal ketidakharian saya pada rapat tersebut dan berpesan untuk setiap sie kegiatan mendiskusikan kebutuhan apa yang diperlukan.
Dari dua kejadian diatas sayapun belajar bahwa apa yang sudah kita jadwalkan dengan orang lain harus dipertanggungjawabkan. Mengkonfirmasi jika kita berhalangan. Ini penting, karena ada beban moral, apalagi sebagai seorang pemimpin yang dari situ sebuah kepercayaan dipertaruhkan. Selain itu saya juga belajar bahwa terkadang sesuatu itu tak sesulit yang kita bayangkan.
Berangkat ke Dogleg (Brondong, Bruno) Purworejo
Seperti yang saya katakan tadi malam bahwa saya akan pulang besok pagi. Maka pada pagi harinya sayapun pulang dan sampai dirumah sekitar setengah delapan. Saya dapati rumah kosong, karena ibu dan ayah saya sedang pergi berziarah bersama keluarga besar mbah Marto. Suatu rutinitas jum’at pagi yang dari situ semua keluarga berkumpul.
Saya berangkat sekitar setengah sembilan bersama dengan ibu. Tak lupa, buah salak menjadi kebiasaan yang tak pernah absen karena disana tak ada buah salak. Menerobos lewat sawangan, wadas lintang dan sampai di Bruno sekitar pukul sebelas. Butuh waktu satu jam setengah agar sampai disana. Memang lumayan cepat, namun yang tak saya suka adalah jalannya yang rusak. Meskipun ada sebagian yang sudah bagus tetapi itu hanya sedikit. Bahkan karena tak kuat menjaga keseimbangan, di jalan rolak sayapun jatuh sehingga spion kanan harus pecah lagi. Padahal belum lama saya ganti.
Kami mampir di rumah Yu In, namun karena tidak ada di rumah saya dan ibu langsung menuju ke rumah Uwa (Kakak dari ibu saya). Disana hanya ada Yusron saudara sepupu saya karena ibu dan ayahnya masih di kebun. Sedang Mbah Putri yang kami kira di situ ternyata berada di tempat lik Bini sehingga Bibi Mus dan bibi Ti juga berada di sana.
Jam 12 kurang bersama dengan Yusron, saya pergi ke masjid untuk sholat jum’at. Ada sedikit perbedaan di sini. Ketika beberapa daerah pada umumnya jam 12 atau setengah 1 sudah selesai, maka disini jam setengah 1 baru munggah (mulai khutbah). Selain itu jumlah jama’ah yang hadir untuk sholat jum’at tak ada 40 orang sehingga ketika selesai sholat jum’at ditambah dengan sholat dhuhur. Bukan karena tak mau sholat jum’at, tetapi karena memang hanya segitu jumlah masyarakatnya. Dan yang didaerah lagi sudah tidak ada, maka disini masih ada perempuan ikut jum’atan, termasuk mbahku.
Ada hal yang membuat hatiku terusik. Bangunan masjid yang seperti mushola dan jika melihat jedela, kacanya dipenuhi oleh debu dan kotoran yang menandakan bahwa jendela tersebut tak pernah dibersihkan. Bentuk atapnyapun masih tradisional, jika sekarang masjid menggunakan mustaka maka masjid tersebut masih menggunakan semacam gendi yang diletakan tengkurap.
Pun dengan jama’ah, kebanyakan mereka adalah orang yang sudah tua. Anak muda atau remaja seolah tak ada karena kebanyakan dari mereka merantau, mengundi nasib di perantauan. Kampung yang dulu ketika saya masih SD berkunjung ke sana masih rame, kini sepi dan akan ramai ketika lebaran idul fitri tiba. Mereka yang merantau akan pulang, melepas kerinduan dan memohon maaf kepada orang tua serta sanak sauadara.

Pringamba (Sigaluh, Banjarnegara), 07 Maret 2015. 23:55

Pengaruh Keberanian Seorang Pemimpin dalam Menentukan Keputusan

01:25:00 Add Comment
Pengaruh Keberanian Seorang Pemimpin
Minggu sore, 1 Maret 2015 saya mendapat sms dari Uswatun Khasanah perihal pertemuan rapat koordinasi CBP KPP se-Jateng yang akan dilaksanakan pada tanggal 21 Maret 2015 mendatang. Ketika itu saya sedang berada di Wiramastra mengantarkan rekapan kurikulum sekolah dari Bu Nikmah kepada Pak Slamet, Kepala MA Ma’arif Bawang. Setelah saya baca ternyata itu dari Mas Burhan. Saat ia saya hubungi, ia mengatakan ingin mengadakan pertemuan tersebut di Banjarnegara.
Maka sayapun menghubungi Lulu untuk meminta masukannya. Saat itu terjadi tarik menarik pendapat antara iya dan tidak. Setelah beberapa lama bertukar pendapat dengan berbagai argumen pendukung dan referensi kemungkinan resiko yang terjadi, maka sayapun berusaha untuk meng-iya-kan walau Lulu juga berusaha untuk bertanya menyakinkan benar-benar siap atau tidak. Hingga akhirnya sayapun menunggu waktu terlebih dahulu untuk mendapat masukan dari teman-teman CBP yang lain.
Dalam hati saya merasa tertantang untuk memberanikan diri meng-iya-kan. Sebagai seorang ketua yang memegang kendali, keberanian untuk menentukan keputusan adalah hal yang sangat penting. Pasalnya hal itu mempengaruhi orang yang kita pimpin. Jika sebagai seorang pemimpin tidak tegas dan sering galau antara iya dan tidak saat memutuskan sesuatu, maka orang yang dipimpinpun juga akan menilai bahwa pemimpin penakut.
Resiko adalah hal yang wajar dan wajib ada dalam setiap keputusan. Maka ketika menentukan keputusan harus tegas, jika siap maka katakan siap dan jika tidak maka katakan tidak. Jangan berada ditengah-tengah karena itu akan membuat orang lain bingung. Misal ketika kita di minta menjadi tuan rumah dalam suatu perumpulan, jika kita mengatakan siap ataupun tidak secara langsung maka yang memintapun tak bingung dan mantap. Namun jika kita ragu antara siap dan tidak maka akan membuat yang meminta juga bingung mau memutuskan seperti apa.
Tantangan itu membuat kita belajar. Iya, itulah yang saya rasakan saat ini. Ketika kita menentukan sesuatu misal kegitan pada bulan depan, maka kitapun akan berusaha agar kegiatan tersebut bisa tercapai. Permasalahan-permasalahan yang muncul itulah yang membuat kita belajar. Seperti keputusan yang saya ambil perihal menjadi tuan rumah rapat koordinasi CBP KPP se-Jateng. Dari keputusan tersebut saya belajar untuk nembusi tempat dan konsumsi kepada muslimat.

Banjarnegara, 5 Maret 2015