Silaturahim menyambung Komunikasi

23:26:00 Mad Solihin 0 Comments

Pagi tadi (26/2) sekitar pukul 06.30 WIB saya meluncur dari Yogyakarta ke Ungaran. Setelah dua hari disana, untuk menyambung komunikasi saya berkunjung ke Ungaran setelah beberapa kali acara diskusi tak bisa hadir.
Dalam perjalanan dari Yogyakarta ke Ungaran sempat kesasar di daerah Magelang, tepatnya di Bandongan. Bandongan yang saya kira jalur alternatif ke Semarang ternyata bukan, kata seorang pedagang roti di pasar Bandongan bahwa Bandongan Sumowono itu masih jauh. Maka sayapun balik arah dan seperti biasa mengikuti petunjuk plang yang dipajang di jalan-jalan. Hingga akhirnya ketemu juga jalur yang saya cari.
Di daerah Secang setelah pertigaan tajam, tepatnya di depan rumah makan, 3 polisi berpatroli menghadang dan menghentikan pengendara sepeda motor termasuk saya. Saya merasa tenang karena telah memiliki SIM dan setelah saya perlihatkan SIM serta STNK, polisi yang memeriksa langsung menyilahkan saya untuk melanjutkan perjalanan. Ini adalah kali keduanya saya terkena tilang setelah mempunyai SIM. Artinya dua kali SIM yang telah saya buat menyelamtkan dari operasi zebracros. Dalam hati sayapun membatin dan bersyukur, andaikan belum punya SIM pastilah harus membayar. Jika dalam sekali kena tilang keluar uang 100.000 untuk menghindari sidang, maka empat kali tilang udah bisa untuk membuat SIM dengan masa berlaku 5 tahun. Walau sebenarnya SIM juga hanyalah simbolitas semata.
Membuat Simpul
Sampai di Ungaran sekitar pukul setengah sepuluh. Dan saya berkenalan dengan dua orang yang sedang Suluk, namanya Adi dan Mansur. Percakapan dengan Adi tambah nyambung ketika ia bertanya apakah saya kenal dengan Rifki, ketua PC IPNU Pemalang. Ternyata perkenalan yang walau sekejap ketika saya berkunjung ke Banyumas ketika Lakmud membawa berkah tersendiri. Dalam percakapan dengan Adi saya mendapat inspirasi baru tentang betapa pentingnya menjalin hubungan, membuat simpul yang bisa menyatukan kader potensial daerah yang tersebar di beberapa daerah. Seperti di Pemalang, setiap satu bulan sekali ada pertemuan yang melibatkan alumni PMII untuk berkumpul dan berdiskusi. Ada yang sudah berdomisili, ada yang dari Jakarta, Yogya dan Adi sendiri dari Purworejo menyempatkan untu pulang. Dari forum diskusi itulah ia kenal dengan Rifki.
Diskusi atau berkumpul walau segelintir orang tetapi itu menjadi kekuatan tersendiri. Karena di zaman sekarang akses atau informasi akan mudah didapat jika mempunyai jaringan. Sehingga bagi mereka yang sedang merantau di daerah lain ketika pulang ke tanah kelahirannya sendiri tidak bingung apa yang akan dilakukannya.
Catatan Harian
Di Ungaran ini saya sempat membaca buku Catatan seorang Demonstran karya Soe Hok Gie. Buku tersebut berisi catatan harian yang ia tulis sejak masih berusia remaja. Buku tersebutlah yang membuat saya merasa terinspirasi untuk tetap melanjutkan membuat catatan harian. Jika saat ini masih belum banyak yang membaca, tetapi suatu saat nanti saya yakin bahwa tulisan catatan harian yang saya torehkan tersebut akan menjadi rujukan atau setidaknya menjadi bahan untuk sekedar tahu seperti apa tulisan saya tersebut.
Wal hasil semoga tulisan yang sederhana ini bisa menginspirasi dan menjadi bahan latihan untuk selanjutnya bisa menjembatani saya untuk menjadi penulis hebat.

Ungaran, 27 Februari 2015. 00:34

You Might Also Like

0 comments: