Layla Majnun

22:57:00 Mad Solihin 0 Comments

Layla Majnun
Enam jam, begitulah waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan novel Layla-Majnun. Dimulai dari pukul setengah tujuh sehabis magrib dan selesai pukul 00.30 WIB kemarin, 7 Februari 2015. Buku karya Nizami Ganjavi ini disadur oleh Sholah Gisymar. Diterbitkan oleh penerbit Babul Hikmah dengan ketebalan 180 halaman.
Yang membuat saya bisa menyelesaikan novel ini dalam sekali duduk adalah karena ini novel yang tentunya tidak memerlukan analisa pemahaman jlimet. Bacaan ringan apalagi tentang roman cinta. Ketertarikan pada buku ini adalah ketika pertama kali saya tanpa sengaja menemukannya di rak dan ketika melihat sampulnya, disitu tertulis diterjemahkan kedalam 108 bahasa, #Internasional Best Seller. Inilah yang menarik saya untuk membuka dan melihat-lihat buku yang berwarna merah muda dengan sampul plastik sebagai pelindungnya. Saat saya buka, di situ tertulis Layla-Majnun maka setelah sedikit membaca kata pengantar saya putuskan untuk meminjamnya.
Novel ini bercerita mengenai kisah seorang pemimpin Kabilah Bani Amir yang kaya raya. Namun apalah arti kekayaan jika tak punya keturuanan untuk meneruskannya? Setiap malam ia berdoa dan berbagai carapun telah ia lakukan supaya istrinya hamil. Sayang, kebahagiaannya pupus ketika seorang anak yang sekian lama ia rindukan kehadirannya, meninggalkanya karena terbuai oleh jerat asmara pada Layla. Gadis berparas cantik nan jelita, pandai dan membuatnya mabuk kerana keindahannya.
Qays, itulah nama pemuda yang rela meninggalkan harta dan semua yang ia milki. Mengembara ke hutan dan gurun dengan pakaian compang-camping hingga orang-orang menyebutnya gila, Majnun. Ia merintih karena cintanya tak ia dapatkan, terhalang oleh ego ayah Layla. Lantunan syair pun keluar dari mulutnya tiada hendi. Syair kepedihan yang ketika orang mendengarnya akan iba dan kasihan kepadanya. Tiada hari tanpa nama Layla keluar dari mulutnya. Dengan berteman dengan binatang buas, ia habiskan masa mudanya di gua gurun sahara yang jauh dari tempat tinggalnya.
Kesetiaan pada janji yang telah ia lantunkan bersama Layla terjaga hingga ajalnya tiba. Begitupun dengan Layla, meskipun ia sempat menikah dengan Ibnu Salam, pemuda pilihan ayahnya tak sedikitpun tubuhnya tersentuh demi mempertahankan cinta suci dan kesetiaan jadi pada Qays. Ya, meskipun rintangan membentang dan tiada jalan untuk mereka bisa bersama namun hati mereka selalu satu. Jarak yang jauh tak membuat mereka lantas mengaburkan janji setia yang telah mereka buat justru rintangan itu membuat keduanya semakin kuat jalinan asmaranya.

Banjarnegara, 8 Februari 2015

You Might Also Like

0 comments: