Gus Dur, Siapa Sih Sampean?

4:13:00 PM Mad Solihin 0 Comments

Gus Dur, Siapa Sih Sampean?
“Gus Dur, Siapa Sih Sampean? Tafsir Teoritik atas Tindakan dan Pernyataan Gus Dur” itulah judul buku yang baru saja selesai saya baca. Buku setebal 290 halaman ini diterbitkan oleh Penerbit Erlangga pada tahun 1999. Buku yang ditulis oleh Al-Zastrouw Ng. ini menceritakan tindakan dan pernyataan Gus Dur yang di anggap kontroversial dan plin plan sebagaimana tertulis dalam judul. Namun dibalik tindakan dan pernyataan itu tersembunyi prinsip mendalam yang secara konsisten dipegang oleh Gus Dur.
Dalam buku ini pada bab pertama diceritakan siapa itu Gus Dur, bagaimana perjalanan hidupnya mulai dari kecil hingga sampai pada waktu ia menjadi tokoh yang tindakan dan pernyataannya itu mengejutkan. Pada point ini perlu saya perjelas bahwa tokoh yang bernama Gus Dur ini telah mengenyam berbagai buku sejak masih besekolah di SMEP Yogyakarta. Tak tanggung lagi, buku yang ia baca adalah buku berbahasa Inggris diantaranya : Ernest Hemingway, John Steinbach dan Williah Faulkner. Tak cukup itu, berbagai buku yang berhaluan kanan juga ia baca. Sehingga wajar ketika dewasa pemikirannya begitu luas, dan itu tidak lain karena disebabkan oleh sifat keranjingan/rakusnya dalam membaca.
Di Yogyakarta karena tak kerasan di pondok, akhirnya ia tinggal di kost, tepatnya di rumah tokoh lokal Muhammadiyah yang bernama Haji Junaidi. Dari sinilah pemikirannya mulai berkembang karena setiap malam ia ikut berdiskusi bersama Haji Junaidi dan anggota Muhammadiyah lainnya.
Dari berlembar-lembar halaman yang telah saya baca tersebut ada beberapa point yang menurut penulis penting :
Pertama, untuk mempertahankan ide atau gagasan yang kita miliki, kita harus berani menanggung resiko. Cacian, hujatan, fitnah dan berbagai gunjingan yang menyudutkan harus siap untuk kita hadapi.
Kedua, sebagai seorang pemimpin harus berani menanggung resiko. Ejekan dan cacian hingga hilang popularitas bukanlah hal yang harus diperjuangkan, asalkan masyarakat bisa hidup aman dan damai.
Ketiga, teologi pembebasan. Peran agama disini bukan hanya sebatas pada simbol formal namun harus dipahami dengan kacamata universal.
Beberapa hal diatas tentunya belum bisa mewakili atas apa yang tertera dibuku atau apa yang ada dalam pikiran penulis, namun karena keterbatasan kemampuan dalam menuliskan kembali apa yang telah saya pahami sehingga hanya coretan inilah yang bisa terangkum dalam bingkai paragraf. Apalagi beberapa point penting yang seharusnya saya catat dalam sela-sela membaca tak saya lakukan dan akhirnya menyebabkan saya sedikit kesusahan untuk menuliskan kembali.

Pringamba (Sigaluh, Banjarnegara). Sabtu, 7 Februari 2015

You Might Also Like

0 comments: