Cinta itu membunuhmu

8:37:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Jum’at sore, 13 Februari 2015 sesuai dengan janji saya untuk menemani Mas Mustofa (nama samaran) pergi ke Banjarnegara, saya pergi ke Purbalingga merapat di gedung PCNU Purbalingga menemui mas Rokhmat. Dalam waktu menunggu karena katanya mas Mustofa dan temannya sampai di Stasiun pukul 18.00 WIB saya sharing dan berbagi pengalaman perihal IPNU. Suka duka, permasalahan dan pengorbanan melelahkan mewarnai suasana waktu itu. Pun sama sebenarnya, bahwa dalam setiap organisasi motor penggerak yang menjadi inti berjalannya suatu kegiatan hanya segelintir orang yang benar-benar total dan merasakan kepahitan. Dari percakapan itu juga saya mendapat keberanian ketika mas Rokmat mengatakan bahwa ia beberapa kali menemui sesepuh terkait pendanaan pelantikannya minggu depan sendiri. Saat itupun saya sadar bahwa saya terlalu takut jika tanpa ada teman sehingga beberapa kali ketika saya akan melakukan sowan-sowan akhirnya tertunda hanya karena saya sendiri.
***
Sorenya sekitar setengah tujuh bersama dengan mas Rokhmat saya pergi ke Stasiun KA Purwokerto untuk menjemput mas Mustofa dan temannya, Ketua PC IPNU Madiun Ahmad Aziz Mustofa. Saya merasa beruntung dekat dengan PC IPNU Purbalingga karena di sana begitu rame dan hubungan emosional sesama pengurus begitu akrab. Bahkan terselip didalam hati ingin bergabung dengan PC Purbalingga. Kamipun bermalam disana sejenak untuk mengistirahatkan badan.
Pagi hari sekiar jam 8, saya bersama mas Mustofa dan mas Aziz pergi ke Banjarnegara tepatnya di Klampok. Karena hanya Klampok saja tahunya, maka kamipun harus bertanya sana sini dulu sebelum akhirnya ketemu juga alamat yang dituju. Beruntung karena ada ciri-ciri yang bisa kami telusuri, rumahnya dekat dengan Rumah Sakit Emanuel, bapaknya juragan Mbako dan ibunya pedagang di pasar. Karena tujuannya adalah memastikan, maka kamipun hanya bertanya kepada tetangganya dan alhamdulillah kami bertemu dengan orang yang murah hati, namanya Pak Salbani. Meskipun sudah tua dan berumur sekitar 70 an tahun, namun tetap sehat dan masih setia dengan warung dagangannya.  
Pak Salbani
Dari beliaulah akhirnya kami tahu siapa sebenarnya orang yang kami cari. Walau awalnya hanya basa-basi dan masih tertutup, namun ketika mas Mustofa menceritakan yang sebenarnya maka Pak Salbanipun akhirnya terbuka. Bahwa Nisa, orang yang ia tanyakan adalah kekasihnya dulu. Karena  sudah terikat oleh rasa cinta (mungkin) dan beberapa kali juga pernah jalan bareng, maka ketika Nisa meminta kepada Mas Mustofa untuk mentransfer uang 2 juta yang katanya untuk membeli buku buat referensi ujian skripsi, dengan mudahnya mas Mustofa mengiriminya. Namun, nasib begitu mudah berubah dan terkadang bahkan sering tidak sesuai yang kita harapkan. Mas Mustofa dan Nisa karena terpisah oleh jarak dan kesibukan masing-masing, ditambah kabar bahwa Nisa dijodohkan oleh ayahnya, hubunganpun begitu renggang bahkan selama 8 bulan tak ada komunikasi.
Cinta itu membunuhmu. Ah, cinta apa sih sebenarnya cinta? Entahlah, akan tetapi karena faktor itulah Mas Mustofa masih berharap dengan Nisa dan ingin memastikan benarkah ia sudah menikah. Dari Pak Salbani akhirnya iapun tahu bahwa Nisa yang ia dambakan bukanlah jodohnya. Dan yang masih mengganjal adalah bagaimana agar uang itu bisa kembali.
Dalam hati sayapun kagum kepada Pak Salbani karena ia bisa menjaga ucapannya. Kejelekan orang lain walau sebenarnya diketahui, tak ia ceritakan malah menyuruh kami untuk menemui langsung kepada orang tuanya.
Pengalaman diatas memberikan saya pelajaran bahwa orang yang kita cintai saat ini belum tentu menjadi jodoh kita. Jadi, jika menjalin hubungan yang wajar-wajar saja.

Banjarnegara, 19 Februari 2015

You Might Also Like

0 comments: