Silaturahim menyambung Komunikasi

Silaturahim menyambung Komunikasi

23:26:00 Add Comment
Pagi tadi (26/2) sekitar pukul 06.30 WIB saya meluncur dari Yogyakarta ke Ungaran. Setelah dua hari disana, untuk menyambung komunikasi saya berkunjung ke Ungaran setelah beberapa kali acara diskusi tak bisa hadir.
Dalam perjalanan dari Yogyakarta ke Ungaran sempat kesasar di daerah Magelang, tepatnya di Bandongan. Bandongan yang saya kira jalur alternatif ke Semarang ternyata bukan, kata seorang pedagang roti di pasar Bandongan bahwa Bandongan Sumowono itu masih jauh. Maka sayapun balik arah dan seperti biasa mengikuti petunjuk plang yang dipajang di jalan-jalan. Hingga akhirnya ketemu juga jalur yang saya cari.
Di daerah Secang setelah pertigaan tajam, tepatnya di depan rumah makan, 3 polisi berpatroli menghadang dan menghentikan pengendara sepeda motor termasuk saya. Saya merasa tenang karena telah memiliki SIM dan setelah saya perlihatkan SIM serta STNK, polisi yang memeriksa langsung menyilahkan saya untuk melanjutkan perjalanan. Ini adalah kali keduanya saya terkena tilang setelah mempunyai SIM. Artinya dua kali SIM yang telah saya buat menyelamtkan dari operasi zebracros. Dalam hati sayapun membatin dan bersyukur, andaikan belum punya SIM pastilah harus membayar. Jika dalam sekali kena tilang keluar uang 100.000 untuk menghindari sidang, maka empat kali tilang udah bisa untuk membuat SIM dengan masa berlaku 5 tahun. Walau sebenarnya SIM juga hanyalah simbolitas semata.
Membuat Simpul
Sampai di Ungaran sekitar pukul setengah sepuluh. Dan saya berkenalan dengan dua orang yang sedang Suluk, namanya Adi dan Mansur. Percakapan dengan Adi tambah nyambung ketika ia bertanya apakah saya kenal dengan Rifki, ketua PC IPNU Pemalang. Ternyata perkenalan yang walau sekejap ketika saya berkunjung ke Banyumas ketika Lakmud membawa berkah tersendiri. Dalam percakapan dengan Adi saya mendapat inspirasi baru tentang betapa pentingnya menjalin hubungan, membuat simpul yang bisa menyatukan kader potensial daerah yang tersebar di beberapa daerah. Seperti di Pemalang, setiap satu bulan sekali ada pertemuan yang melibatkan alumni PMII untuk berkumpul dan berdiskusi. Ada yang sudah berdomisili, ada yang dari Jakarta, Yogya dan Adi sendiri dari Purworejo menyempatkan untu pulang. Dari forum diskusi itulah ia kenal dengan Rifki.
Diskusi atau berkumpul walau segelintir orang tetapi itu menjadi kekuatan tersendiri. Karena di zaman sekarang akses atau informasi akan mudah didapat jika mempunyai jaringan. Sehingga bagi mereka yang sedang merantau di daerah lain ketika pulang ke tanah kelahirannya sendiri tidak bingung apa yang akan dilakukannya.
Catatan Harian
Di Ungaran ini saya sempat membaca buku Catatan seorang Demonstran karya Soe Hok Gie. Buku tersebut berisi catatan harian yang ia tulis sejak masih berusia remaja. Buku tersebutlah yang membuat saya merasa terinspirasi untuk tetap melanjutkan membuat catatan harian. Jika saat ini masih belum banyak yang membaca, tetapi suatu saat nanti saya yakin bahwa tulisan catatan harian yang saya torehkan tersebut akan menjadi rujukan atau setidaknya menjadi bahan untuk sekedar tahu seperti apa tulisan saya tersebut.
Wal hasil semoga tulisan yang sederhana ini bisa menginspirasi dan menjadi bahan latihan untuk selanjutnya bisa menjembatani saya untuk menjadi penulis hebat.

Ungaran, 27 Februari 2015. 00:34

Leadership ala Dahlan Iskan

06:23:00 Add Comment
Leaership ala Dahlan Iskan
Leadership ala Dahlan Iskan, itulah judul buku yang baru saja selesai saya baca kamarin malam. Buku yang ditulis oleh Elshabrina ini bercerita tentang Dahlan Iskan, ketika ia kecil sampai pada saat usia 24 tahun dan hijrah ke Luar Jawa tepatnya Samarinda, Kalimantan Timur. Ia memulai karirnya di bidang Jurnalistik dengan bekerja sebagai reporter pada sebuah surat kabar yang ada disana. Satu tahun kemudian, ia pindah ke surat kabar yang lain yaitu Majalah Tempo dengan profesi sebagai wartawan. Enam tahun kemudian ia baru memimpin Jawa Post. Pun demikian, bahwa Jawa Post pada awalnya dalam keadaa kritis namun karena kegigihan Dahlan Iskan, maka sekarang Jawa Post menjadi salah satu surat kabar yang mempunyai bergaining posisition di masyarakat.
Dari ilustrasi di atas saya mengambil kesimpulan bahwa sukses itu butuh waktu. Berawal dari nol/langkah kecil yang dijalani dengan tekun dan disiplin. Dan terkait umur, saya kira masih banyak hal bisa kita lakukan untuk mencapai sukses jika saat ini umur kita sudah lebih dari 25 tahun atau bahkan lebih dan masih belum punya kepastian.
Sesuai dengan judul buku, bahwa buku ini menjelaskan mengenai gaya kepemimpinan Dahlan Iskan, diataranya adalah :
# Talk Less Do More. Sedikit bicara dan banyak bekerja. Kerja, Kerja dan Kerja. Salah satu contoh adalah sesusai ia dilantik menjadi Mentri BUMN, ia langsung mengajak wakilnya untuk berkunjung ke kantornya yang baru. Prinsip yang pertama ini adalah Kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas.
# Efisiensi Waktu dan Tempat. Gaya yang kedua ini agak saya sukai dan bisa dipraktekan. Yaitu saat beliau menjabat sebagai Menteri BUMN, ia kuarangi rapat seremonial dan banyak digunakan untuk bekerja. Untuk meniasati hal itu, beliau membuat group BBM. Ada yang anggotanya khusus menteri, wakil menteri dan semua direktur utama BUMN yang bergerak di bidang pangan. Sehingga informasi yang ada bisa di share tanpa menunggu waktu rapat, lebih cepat, terbuka dan menembus batas-batas hirarkhi dan birokrasi.
# Perhatian dan Tidak Segan Memuji Orang Lain. Sebagai seorang pemimpin kemampuan memuji sangatlah dibutuhkan apalagi kepada anggotanya. Ini penting, karena sikap seorang pemimpin sangatlah berpengaruh terhadap anggotanya. Sehingga janganlah segan untuk memuji, karena setiap orang akan merasa senang dipuji dan ketika hati senang, kinerja mereka akan dengan sendirinya berubah menjadi lebih baik.
# Berani dan Tegas Memutuskan. Sebagai seorang pemimpin ketegasan dan keberanian sangatlah dibutuhkan apalagi ketika di level bawah tidak ada titik temu dan tarik-menarik pendapat. Ketika seorang pemimpin tidak tegas, maka seorang pemimpin akan dipimpin oleh mereka yang seharusnya dipimpin.
# Terjun Langsung ke Lapangan. Ibda’ binafsi, mulailah dari diri sendiri. Sebagai seorang pemimpin menjadi contoh adalah hal yang paling efektif. Karena jika hanya omongan, maka anggota merasa enggan untuk melakukannya apalagi jika pemimpin tak pernah membuktikan atau mempraktekan apa yang diucapkannya.
Banjarnegara, 21 Februari 2015


Cinta itu membunuhmu

08:37:00 Add Comment
Jum’at sore, 13 Februari 2015 sesuai dengan janji saya untuk menemani Mas Mustofa (nama samaran) pergi ke Banjarnegara, saya pergi ke Purbalingga merapat di gedung PCNU Purbalingga menemui mas Rokhmat. Dalam waktu menunggu karena katanya mas Mustofa dan temannya sampai di Stasiun pukul 18.00 WIB saya sharing dan berbagi pengalaman perihal IPNU. Suka duka, permasalahan dan pengorbanan melelahkan mewarnai suasana waktu itu. Pun sama sebenarnya, bahwa dalam setiap organisasi motor penggerak yang menjadi inti berjalannya suatu kegiatan hanya segelintir orang yang benar-benar total dan merasakan kepahitan. Dari percakapan itu juga saya mendapat keberanian ketika mas Rokmat mengatakan bahwa ia beberapa kali menemui sesepuh terkait pendanaan pelantikannya minggu depan sendiri. Saat itupun saya sadar bahwa saya terlalu takut jika tanpa ada teman sehingga beberapa kali ketika saya akan melakukan sowan-sowan akhirnya tertunda hanya karena saya sendiri.
***
Sorenya sekitar setengah tujuh bersama dengan mas Rokhmat saya pergi ke Stasiun KA Purwokerto untuk menjemput mas Mustofa dan temannya, Ketua PC IPNU Madiun Ahmad Aziz Mustofa. Saya merasa beruntung dekat dengan PC IPNU Purbalingga karena di sana begitu rame dan hubungan emosional sesama pengurus begitu akrab. Bahkan terselip didalam hati ingin bergabung dengan PC Purbalingga. Kamipun bermalam disana sejenak untuk mengistirahatkan badan.
Pagi hari sekiar jam 8, saya bersama mas Mustofa dan mas Aziz pergi ke Banjarnegara tepatnya di Klampok. Karena hanya Klampok saja tahunya, maka kamipun harus bertanya sana sini dulu sebelum akhirnya ketemu juga alamat yang dituju. Beruntung karena ada ciri-ciri yang bisa kami telusuri, rumahnya dekat dengan Rumah Sakit Emanuel, bapaknya juragan Mbako dan ibunya pedagang di pasar. Karena tujuannya adalah memastikan, maka kamipun hanya bertanya kepada tetangganya dan alhamdulillah kami bertemu dengan orang yang murah hati, namanya Pak Salbani. Meskipun sudah tua dan berumur sekitar 70 an tahun, namun tetap sehat dan masih setia dengan warung dagangannya.  
Pak Salbani
Dari beliaulah akhirnya kami tahu siapa sebenarnya orang yang kami cari. Walau awalnya hanya basa-basi dan masih tertutup, namun ketika mas Mustofa menceritakan yang sebenarnya maka Pak Salbanipun akhirnya terbuka. Bahwa Nisa, orang yang ia tanyakan adalah kekasihnya dulu. Karena  sudah terikat oleh rasa cinta (mungkin) dan beberapa kali juga pernah jalan bareng, maka ketika Nisa meminta kepada Mas Mustofa untuk mentransfer uang 2 juta yang katanya untuk membeli buku buat referensi ujian skripsi, dengan mudahnya mas Mustofa mengiriminya. Namun, nasib begitu mudah berubah dan terkadang bahkan sering tidak sesuai yang kita harapkan. Mas Mustofa dan Nisa karena terpisah oleh jarak dan kesibukan masing-masing, ditambah kabar bahwa Nisa dijodohkan oleh ayahnya, hubunganpun begitu renggang bahkan selama 8 bulan tak ada komunikasi.
Cinta itu membunuhmu. Ah, cinta apa sih sebenarnya cinta? Entahlah, akan tetapi karena faktor itulah Mas Mustofa masih berharap dengan Nisa dan ingin memastikan benarkah ia sudah menikah. Dari Pak Salbani akhirnya iapun tahu bahwa Nisa yang ia dambakan bukanlah jodohnya. Dan yang masih mengganjal adalah bagaimana agar uang itu bisa kembali.
Dalam hati sayapun kagum kepada Pak Salbani karena ia bisa menjaga ucapannya. Kejelekan orang lain walau sebenarnya diketahui, tak ia ceritakan malah menyuruh kami untuk menemui langsung kepada orang tuanya.
Pengalaman diatas memberikan saya pelajaran bahwa orang yang kita cintai saat ini belum tentu menjadi jodoh kita. Jadi, jika menjalin hubungan yang wajar-wajar saja.

Banjarnegara, 19 Februari 2015

Guru itu dibentuk Bukan Dilahirkan

12:18:00 Add Comment
Micro Teaching Terakhir
“Guru itu dibentuk Bukan Dilahirkan”, demikianlah pesan Bu Hj. Purwatinigsih, Senin sore (10/2) ketika perpisahan micro teaching. Pesan itu disampaikan kepada kami ketika semua anak sudah maju semua.
Sebelumnya saya selaku ketua mewakili kelompok telah mengucapkan terima kasih atas bimbingannya selama ini dan juga meminta maaf apabila selama ini kami banyak kesalahan. Setelah itu beliau menanggapi dengan berpesan bahwa guru itu dibentuk bukan dilahirkan, sehingga mereka yang sudah lihai karena pergulatan mereka menjadi guru sudah lama.
Mad Solihin n Bu Purwatiningsih
Beliau juga menyampaikan bahwa kritikan dan masukan yang dia berikan selama ini sama sekali bukan untuk menjatuhkan namun semua itu untuk kebaikan. Dan nantinya dari micro teaching ini bisa menjadi bekal dan tidak kaget manakala terjun mengajar secara langsung. Selain itu, dari micro teaching ini juga bisa dijadikan untuk mengukur sejauh mana kemampuan yang kami miliki dan dari keempat mapel PAI, mana yang lebih nyaman dan dikuasai.
Terimkasih juga saya pribadi ucapkan kepada kelompok 7 : Restu, Rizal, Joko, Nafsiyah, Iin, Sofi, Imeh, Lely, Ulfa, Dwi, dan Winda. Selamat belajar dan mengenali diri.
Joko, Nafsiyah, Lely, Winda, Ulfa, Bu Pur, Imeh, Dwi, Iin, Sofi, Rizal

Banjarnegara, 11 Februari 2015

Mencegah itu Lebih Baik

11:25:00 Add Comment
Servis Motor
Satu bulan lebih motor yang selalu menemani kemanapun saya pergi belum di servis. Ini artinya jadwal untuk servis harus diagendakan dan alhamdulillah pagi tadi sudah terlaksana. Mungkin bagi orang lain servis dan ganti oli bisa sampai 2 bulan, namun tidak bagi saya. Dua kali kehabisan oli yang menyebabkan turun mesin membuat saya khawatir manakala jarak waktu servis sudah melebihi satu bulan. Selain biaya bengkel yang pasti lebih dari dua ratus lima puluh ribu, minimal satu minggu baru jadi. Belum lagi layaknya motor baru, harus ada rezen juga. Yang jelas begitu merpotkan. Dan alasan inilah yang membuat saya harus benar-benar hati-hati.
Servis kali ini saya habis Rp. 70.000,- dengan rincian Rp. 35.000,00 untuk oli, Rp. 20.000,00 untuk jasa servis dan Rp. 15.000,00 untuk membeli spion. Sebenarnya tidak ada rencana untuk servis hari ini, namun karena kekhawatiran jika nanti turun mesin lagi mamaksa saya mau tidak mau harus servis. Maka uang Rp. 100.000,00 yang ayah berikan saya gunakan untuk servis walau sebenarnya banyak kebutuhan lain yang juga butuh uang.
Skala prioritas. Mungkin itulah yang harus didahulukan. Daripada harus menanggung resiko turun mesin lagi, lebih baik mencegahnya toh juga uang sebesar Rp. 55.000 bisa bertahan sampai satu bulan lebih. Bukankah mencegah itu lebih baik?

Banjarnegara, 11 Februari 2015

Tuhan Selalu Punya Cara Memenuhi Kebutuhan Hamba-Nya

10:51:00 Add Comment
Slip Setoran Semester 6
Harapan untuk mendapat keringanan biaya kuliah kini telah kandas. Persyaratan yang mengharuskan prestasi ataupun hafal al-qur’an tak mungkin dapat saya penuhi, pun demikian dengan teman sekelas yang sama-sama mengajukan keringanan biaya kuliah.
Dari dialah saya tahu bahwa keterangan kurang mampu bukanlah alasan. Menurut Warek II yang mengurusi administrasi mahasiswa, ketika teman saya tanya, beliau menjawab, “Jika persyaratan kurang mampu saya terima, maka semua mahasiswa akan mengaku miskin”, tukasnya.
Sayapun tertawa ketika mendapat kabar mengenai persyaratan tersebut. Yang secara tidak langsung memberi label bahwa kampus ini diperuntukan untuk orang miskin.
Kini orang tualah yang menjadi sandaran, tumpuan harapan dan menanggung beban biaya perkuliahan. Ah, betapa malu sebenarnya diri ini. Namun, apalah daya memang baru ini yang bisa saya lakukan. Hanya semangat untuk sukses lah yang terngiang, berharap suatu saat nanti bisa meringankan beban mereka.
Tuhan selalu punya cara untuk memenuhi kebutuhan hamba-Nya. Itulah yang saya yakini. Meskipun keringanan biaya kuliah tak saya dapatkan, alhamdulillah buah petainya laku dengan harga Rp. 1.100.000,- Ini artinya kurang Rp. 100.000,- karena tagihan semester 6 sebesar Rp. 1.200.000,-. Dan itu tidak terlalu berat, kalaupun harus meminjam ya itu sudah biasa.

Banjarnegara, 11 Februari 2015

Layla Majnun

22:57:00 Add Comment
Layla Majnun
Enam jam, begitulah waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan novel Layla-Majnun. Dimulai dari pukul setengah tujuh sehabis magrib dan selesai pukul 00.30 WIB kemarin, 7 Februari 2015. Buku karya Nizami Ganjavi ini disadur oleh Sholah Gisymar. Diterbitkan oleh penerbit Babul Hikmah dengan ketebalan 180 halaman.
Yang membuat saya bisa menyelesaikan novel ini dalam sekali duduk adalah karena ini novel yang tentunya tidak memerlukan analisa pemahaman jlimet. Bacaan ringan apalagi tentang roman cinta. Ketertarikan pada buku ini adalah ketika pertama kali saya tanpa sengaja menemukannya di rak dan ketika melihat sampulnya, disitu tertulis diterjemahkan kedalam 108 bahasa, #Internasional Best Seller. Inilah yang menarik saya untuk membuka dan melihat-lihat buku yang berwarna merah muda dengan sampul plastik sebagai pelindungnya. Saat saya buka, di situ tertulis Layla-Majnun maka setelah sedikit membaca kata pengantar saya putuskan untuk meminjamnya.
Novel ini bercerita mengenai kisah seorang pemimpin Kabilah Bani Amir yang kaya raya. Namun apalah arti kekayaan jika tak punya keturuanan untuk meneruskannya? Setiap malam ia berdoa dan berbagai carapun telah ia lakukan supaya istrinya hamil. Sayang, kebahagiaannya pupus ketika seorang anak yang sekian lama ia rindukan kehadirannya, meninggalkanya karena terbuai oleh jerat asmara pada Layla. Gadis berparas cantik nan jelita, pandai dan membuatnya mabuk kerana keindahannya.
Qays, itulah nama pemuda yang rela meninggalkan harta dan semua yang ia milki. Mengembara ke hutan dan gurun dengan pakaian compang-camping hingga orang-orang menyebutnya gila, Majnun. Ia merintih karena cintanya tak ia dapatkan, terhalang oleh ego ayah Layla. Lantunan syair pun keluar dari mulutnya tiada hendi. Syair kepedihan yang ketika orang mendengarnya akan iba dan kasihan kepadanya. Tiada hari tanpa nama Layla keluar dari mulutnya. Dengan berteman dengan binatang buas, ia habiskan masa mudanya di gua gurun sahara yang jauh dari tempat tinggalnya.
Kesetiaan pada janji yang telah ia lantunkan bersama Layla terjaga hingga ajalnya tiba. Begitupun dengan Layla, meskipun ia sempat menikah dengan Ibnu Salam, pemuda pilihan ayahnya tak sedikitpun tubuhnya tersentuh demi mempertahankan cinta suci dan kesetiaan jadi pada Qays. Ya, meskipun rintangan membentang dan tiada jalan untuk mereka bisa bersama namun hati mereka selalu satu. Jarak yang jauh tak membuat mereka lantas mengaburkan janji setia yang telah mereka buat justru rintangan itu membuat keduanya semakin kuat jalinan asmaranya.

Banjarnegara, 8 Februari 2015

Gus Dur, Siapa Sih Sampean?

16:13:00 Add Comment
Gus Dur, Siapa Sih Sampean?
“Gus Dur, Siapa Sih Sampean? Tafsir Teoritik atas Tindakan dan Pernyataan Gus Dur” itulah judul buku yang baru saja selesai saya baca. Buku setebal 290 halaman ini diterbitkan oleh Penerbit Erlangga pada tahun 1999. Buku yang ditulis oleh Al-Zastrouw Ng. ini menceritakan tindakan dan pernyataan Gus Dur yang di anggap kontroversial dan plin plan sebagaimana tertulis dalam judul. Namun dibalik tindakan dan pernyataan itu tersembunyi prinsip mendalam yang secara konsisten dipegang oleh Gus Dur.
Dalam buku ini pada bab pertama diceritakan siapa itu Gus Dur, bagaimana perjalanan hidupnya mulai dari kecil hingga sampai pada waktu ia menjadi tokoh yang tindakan dan pernyataannya itu mengejutkan. Pada point ini perlu saya perjelas bahwa tokoh yang bernama Gus Dur ini telah mengenyam berbagai buku sejak masih besekolah di SMEP Yogyakarta. Tak tanggung lagi, buku yang ia baca adalah buku berbahasa Inggris diantaranya : Ernest Hemingway, John Steinbach dan Williah Faulkner. Tak cukup itu, berbagai buku yang berhaluan kanan juga ia baca. Sehingga wajar ketika dewasa pemikirannya begitu luas, dan itu tidak lain karena disebabkan oleh sifat keranjingan/rakusnya dalam membaca.
Di Yogyakarta karena tak kerasan di pondok, akhirnya ia tinggal di kost, tepatnya di rumah tokoh lokal Muhammadiyah yang bernama Haji Junaidi. Dari sinilah pemikirannya mulai berkembang karena setiap malam ia ikut berdiskusi bersama Haji Junaidi dan anggota Muhammadiyah lainnya.
Dari berlembar-lembar halaman yang telah saya baca tersebut ada beberapa point yang menurut penulis penting :
Pertama, untuk mempertahankan ide atau gagasan yang kita miliki, kita harus berani menanggung resiko. Cacian, hujatan, fitnah dan berbagai gunjingan yang menyudutkan harus siap untuk kita hadapi.
Kedua, sebagai seorang pemimpin harus berani menanggung resiko. Ejekan dan cacian hingga hilang popularitas bukanlah hal yang harus diperjuangkan, asalkan masyarakat bisa hidup aman dan damai.
Ketiga, teologi pembebasan. Peran agama disini bukan hanya sebatas pada simbol formal namun harus dipahami dengan kacamata universal.
Beberapa hal diatas tentunya belum bisa mewakili atas apa yang tertera dibuku atau apa yang ada dalam pikiran penulis, namun karena keterbatasan kemampuan dalam menuliskan kembali apa yang telah saya pahami sehingga hanya coretan inilah yang bisa terangkum dalam bingkai paragraf. Apalagi beberapa point penting yang seharusnya saya catat dalam sela-sela membaca tak saya lakukan dan akhirnya menyebabkan saya sedikit kesusahan untuk menuliskan kembali.

Pringamba (Sigaluh, Banjarnegara). Sabtu, 7 Februari 2015

Kepuasan Dibalik Menulis

15:36:00 Add Comment
Suara Merdeka edisi Rabu, 4 Februari 2015 Hal 31
Ada kepuasan tersendiri ketika tulisan yang kita buat dapat terbit. Itulah yang saya rasakan sekarang, meskipun tulisan tersebut sudah diedit oleh redaksi pengelola berita. Tetapi setidaknya tulisan itu ada karena saya yang menulisnya terlebih dahulu dalam bentuk rilis.
Tulisan tersebut terbit di situs NU Online dan koran Suara Merdeka. Di NU Online sudah ada 3 tulisan saya yang terbit yaitu Diklatama CBP KPP, Pelantikan PCNU Banjarnegara dan terakhir adalah Pelatihan Gerakan Lalin. Tulisan ini saya kirim lewat email yang tertera di situs tersebut dan alhamdulilah terbit juga ternyata.
Di koran Suara Merdeka, ada dua tulisan saya yang terbit. Pertama adalah kegiatan Diklatama CBP KPP dan yang kedua adalah Latihan Gerakan Lalu Lintas yang terbit hari ini, Rabu (4/2) Hal 31. Tulisan tersebut saya kirimkan ke Pak Miftah, senior saya di IPNU. Melalui beliaulah tulisan tersebut kemudian dikirimkan ke wartawan suara merdeka yang kebetulan temannya.
Hal 31 Suara Merdeka
Tulisan asli saya berupa rilis kegiatan sebelum dikirimkan ke NU Online ataupun Suara Merdeka adalah Diklatama CBP KPP 2014, Pelantikan PCNUBanjarnegara dan Latihan Gerakan Lalu Lintas. Dari ketiga tulisan tersebut saya belajar bahwa ada beberapa bagian yang perlu diedit dan yang paling kentara adalah judul.
Beberapa tulisan diatas setidaknya memantapkan bahwa saya mempunyai bakat kepenulisan yang bisa menguatkan keinginan saya untuk menjadi seorang wartawan ataupun penulis buku. Karena dari tulisanlah saya akan dikenang, baik dalam segi nama ataupun pemikiran. Sebagaimana ulama-ulama terdahulu, mereka selalu dikenang karena karyanya berupa kitab kuning sampai sekarang masih ada dan dikaji di berbagai pesantren.
Pun demikian dengan Pramodya Ananta Tour, Soekarno, WS Renda dan berbagai penulis, sastrawan yang namanya sekarang masih dikenang, itu semua karena mereka memupunyai karya yaitu tulisan.

Banjarnegara, 4 Februari 2015

Jalan Tak Ada Ujung

18:09:00 Add Comment
Jalan Tak Ada Ujung
Tepat pukul 17:15 WIB telah saya selesaikan buku berjudul “Jalan Tak Ada Ujung” karya pengarang terkenal dan bersejarah Muchtar Lubis. Sudah lama sejak saya bersekolah di SD, Mts dan MA nama itu beberapa kali muncul ketika pelajaran bahasa Indonesia, namun baru kali ini saya benar-benar membaca karyanya secara utuh. Buku ini saya pinjam di perpusda Wonosobo, Kamis 29 Januari 2015. Buku yang saya pinjam karena ingin berteman dengan sastra, mendalami bagaimana cara menulis novel ataupun cerpen, maka sayapun mencari buku dan kebetulan saya temukan buku tersebut.
Buku ini bercerita dengan latar waktu tahun 1946 an ketika masih dalam suasana peperangan. Pasukan Belanda diteruskan Jepang yang tiada henti-hentinya membuat ketakutan warga Indonesia. Penggeledahan yang datang secara tiba-tiba masuk ke rumah-rumah warga. Tembak menembak pun menjadi hal yang biasa.
Guru Isa, itulah nama tokoh utama dalam novel tersebut. Seseorang guru dengan segudang ketakutan dan permasalahan. Miskin, Impotent dan tak suka kekerasan yang semua itu selalu menemani hari-harinya. Fatimah istri Guru Isa yang pada akhirnya mengadopsi anak berusia 4 tahun, Salim namanya. Hazil sahabatnya, seorang anak muda yang semangat perjuangan kemerdekaannya menggebu-gebu. Yang karena seringnya bertandang kerumah Guru Isa, tak kuasa menahan gejolak rasa pada Fatimah. Pun dengan Fatimah, yang selama ini merasa kesepian walau bersuami, hasratnya yang tak pernah terpenuhi menyambut kedatangan Hazil dengan tangan terbuka.
Dalam akhir cerita, Hazil dan Rahmat melemparkan granat di depan bioskop tempat orang Belanda berkumpul, dengan Guru Isa mendapat tugas untuk melihat dan melaporkan hasilnya. Akhirnya Hazilpun tertangkap dan sebagai bagian dari kelompok, Guru Isa akhirnyapun tertangkap berkat laporan dari Hazil. Kamar dengan jeruji besi menjadi persinggahan akhir cerita dengan ketakutan sebagai temannya.

Banjarnegara, 2 Februari 2015