Terkena Tilang saat Berangkat Ujian Pertama

20:16:00 Mad Solihin 0 Comments

Tadi pagi sewaktu berangkat kuliah saya mendapat tilang di Sapen. Ini untuk yang ketiga kalinya dan uang Rp. 100.000,- pun melayang. Benar-benar polisi yang kebangeten. Padahal sedang buru-buru mau ujian. Hadeh, daripada motornya yang di tahan mending bayar walau sebenarnya sayang juga si, lebih baik di sidang. Tapi karena yang saya bawa hanya foto copian STNK, maka agak sulit untuk  polisi segera menuliskan surat tilang, belum lagi SIM juga tidak punya.
Sebelumnya di tempat yang sama, saya juga terkena tilang untuk yang kedua kalinya. Waktu itu kebetulan STNK ada, sehingga saya memilih membayar Rp. 50.000,- daripada sidang. Alasannya karena jika sidang akan memboroskan waktu toh juga paling tidak jauh selisihnya, berbekal pengalaman tilang yang pertama dan sidang. Walaupun sebenarnya lebih baik sidang si, karena jika sidang sudah jelas uang itu masuk kas negara. Berbeda jika di tilang langsung bayar, itu biasanya masuk ke saku polisi yang menilang.
Kunci motorku lansung dikembalikan setelah saya membayar Rp. 100.000,-. Tak menunggu lama, saya langsung melajukan motorku berangkat ke kampus untuk ujian. Sampai disana ujian baru saja mulai. Setelah minta ijin masuk kepada pengawas, saya cari kursi yang kosong dan saya dapati kursi paling utara pojok baris ke dua.
Makul yang diujikan hari ini adalah Pembelajaran Akidah Akhlak dan Metodologi PAI. Seperti ujian semester-semester sebelumnya, saya merasa kebingungan. Untung saja sifatnya openbook dan pengawasnya juga santai sehingga mengerjakanpun agak santai juga.
Diakhir perkuliahan setelah saya sampai rumah, teman saya Restu mengirim pesan lewat BB. Inti dari pesan itu adalah bahwa ujian yang baru saja dilakukan adalah pembodohon. Sistem ujian yang tak jauh seperti sebelumnya. Pengawas sibuk dengan HP dan sosial medianya sendiri sehingga ketika ada mahasiswa melakukan diskusia atau apapun di kelas, pengawas lebih banyak diam. Katanya lagi, bahwa ujian ini bukan ujian smeseter tapi ujian satu jam. Bukan hasil dari belajar salam 6 bulan, tetapi hasil dari bertanya pada mabh google. Dan inilah ironisnya.
Dalam status BB, salah satu teman saya mengatakan bahwa ujian telah berjalan dengan lancar dan sukses. Jika saya menyimpulkan mahasiswa ini menggunakan persepsi nyaman. Artinya bahwa yang penting saya mengerjakan dan yakin bahwa jawabannya benar atau setidaknya mendekati benar.
Jika saya memilih, maka saya lebih memilih dengan pendapat teman saya yang menggunakan nalar kritis tentang sistem pembodohan. Walaupun yang saya rasakan, saya nyaman dengan proses pembodohan ini. Yang jelas harus punya tempat menyalurkan kreativitas, baik di organisasi atau kegiatan-kegiatan yang mendukung tergalinya bakat yang terpendam.

Pringamba (Sigaluh, Banjarnegara), 09 Januari 2015

You Might Also Like

0 comments: