Penutup Pidato Khas NU

1:34:00 PM Mad Solihin 0 Comments

Malam itu duduklah sekelompok pemuda yang sedang asyik bercanda tawa. Kelekar membahana ketika pembicaraan lucu membuat suasana begitu rame. Dua gelas kopi dengan beberapa makanan ringan untuk cemilan ditambah tiga bungkus rokok yang berbeda membuat mereka semakin betah melek mbengi (terjaga dari tidur). Cerita ini dan itu yang muncul sepontanitas dan saling bergantian menimpali ketika ada yang berbicara, menjadikan suasananya hidup. Kali ini, Anwar angkat bicara dengan bertanya kepada kelima teman yang ada di depannya.
Pernah mendengar orang  NU, Muhammadiyah, dan SI menutup pidato belum. Kira-kira pada tahu gak perbedaannya?” tanya Anwar kepada temannya.
Setahu saya kalau NU itu “Wallahul muwwafiq ila Aqwamith Tharieq”, terus kalau Muhammadiyah itu “Billahit Taufiq wal Hidayah” dan SI apa ya, yang jelas terakhir “Ilaa Sabilil Haq”. Tukas Zuhri menimpali.
Wah saya baru paham, pantas ketika Pak Zuhdi selesai pasti pakai kata “Ila Sabilil Haq”, ya ya paham saya sekarang”, kata Miftah seketika sambil menerawang ingatannya saat beberapa kali ia mendengar pidato dan sambutannya dalam pertemuan rutin bulanan.
Iya itulah ciri khas masing-masing untuk mengindikasikan bahwa ia itu ikut apa?” kata Anwar menjelaskan. “Kira-kira ada yang tahu siapa pencetus kalimat Wallahul muwwafiq ila Aqwamith Tharieq itu?” tanyanya lagi.
Siapa ya?” seru teman-teman saling berpandangan mencari jawaban.
Siapa hayo, ada yang tahu gak?” tanya Anwar memburu. Sejenak suasana menjadi sepi, setelah Anwar menyeruput kopi hitam yang ada di depannya, ia berkata lagi. “Yang menciptakan kata itu adalah Almaghfurlah KH. Ahmad Abdul Hamid Kendal. Beliau merupakan salah satu kyai NU yang suka mengoleksi dan mendokumentasikan berbagai hasil karya para tokoh dan produk-produk organisasi”, katanya menjelaskan.
Kamu dapat dari mana informasi ini”, tanya Riski ingin tahu.
Saya dapat dari Majalah Suara NU edisi 25 November 2014 dibagian Salam Redaksi Hal 4,” jawabnya singkat.
Suasana menjadi hening membuat ringkikan suara jangkring terdengar begitu jelas. Hawa dingin yang begitu menusuk tubuh membuat Riski melarikan diri untuk pindah ke alam mimpi. Nuha yang sedari tadi telah menguap beberapa kali pun mengikutinya, sedang yang lain masih duduk sambil bercengkerama, menikmati kopi dan sesekali mengisap rokok yang ada di tangannya.

Pringamba (Sigaluh, Banjarnegara). Kamis, 22 Januari 2015. 01:11 WIB

You Might Also Like

0 comments: