Kaum Muda Membaca Indonesia

11:28:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Kaum Muda Membaca Indonesia
Selasa sore (27/01) tepatnya pukul 18:07 WIB di sebuah kamar berukuran 2x2,5 M, saya telah menyelesaikan bacaan buku berjudul  “Kaum Muda Membaca Indonesia” yang diterbitkan oleh DCSC Publising. Buku setebal 169 halaman ini berisi 20 Artikel Terbaik dalam lomba menulis bertemakan “Hata Rajasa Writing Competition 2012” yang diadakan oleh Pusat Studi Harapan Rakyat (PSHR). Dua puluh tulisan ini adalah hasil seleksi dari 1.200 naskah tulisan yang masuk ke panitia dalam rentang waktu tiga minggu (Hal ii).
Dua puluh tulisan dalam buku yang saya pinjam dari sekolah saya dulu (MA Walisongo) ini terbagi menjadi dua kategori, sepuluh tulisan terbaik tingkat mahasiswa sedang sepuluhnya lagi adalah tingkat pelajar. Dalam analisis saya setelah membaca sampai selesai, tulisan yang ada dalam buku ini menjelaskan kondisi perekonomian Indonesai tahun 2012 sebagaimana tahun diadakannya lomba ini. Tulisan-tulisan tersebut juga berisi pandangan para penulis dalam melihat Indonesia serta harapan dan penawaran solusi ketika mereka menilai bahwa Indonesai tertinggal dari Negara Gajah (India 1950) dan Negara Naga (China 1949) yang notabane dalam memperoleh kemerdekaan lebih dulu Indonesia (1945).
Yang membuat saya lebih berkesan membaca buku ini adalah ketika sampai pada 10 tulisan tingkat pelajar. Di situ disuguhkan ide mengenai entrepreneurshipatau berjiwa usaha secara mandiri. Dalam tulisan-tulisan tersebut ada beberapa baris kata yang cukup menggelitik mengenai keadaan bangsa Indonesia saat ini. Diantaranya adalah :
Pertama, bahwa Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat yang artinya kuantitas SDM nya banyak. Namun, kebanyakan SDM itu kurang berkualitas dan tidak memiliki kemampuan entrepreunership. Yang lebih ironis adalah Lembaga Pendidikan atau sekolah yang sejatinya memiliki peran terdepan dalam menyiapkan dan sekaligus mencetak generasi berjiwa entrepreunership justru selama ini hanya mencetak lulusan pencari kerja bukan pembuat lapangan pekerjaan. Sekolah telah berhasil membuat mindset dan menanamkan doktrin sebagai generasi pemburu kerja ditengah sempit serta terbatasnya lapangan pekerjaan.
Kedua, orientasi pendidikan di Indonesia lebih menitiberatkan pada content based, dimensi “kepintaran” (otak kiri/kognitif), bahkan pemenuhan target degree holder (penyandang gelar).
Ketiga, dunia pendidikan saat ini masih asyik dengan multiple choice (pilihan ganda), seperti halnya kuis yang akhir-akhir ini marak di Televisi, bukan melatih untuk mempersiapkan output yang mandiri. Peserta kuis dan masyarakat tidak dilatih dengan kreativitas dan analisis masalah. Kemampuan problem solvingmereka juga rendah dan hanya mengandalkan pilihan hitam-putih untuk menjadi kaya.
Selain beberapa hal diatas, membaca buku “Kaum Muda Membaca Indonesia” juga membuat saya berimajinasi untuk mengadakan lomba menulis mengingat sebagai ketua ipnu yang mempunyai ladang garapan pelajar, tentunya ada kecocokan dan sesuai dengan misi organisasi pengkaderan dan kepelajaran.
Yang terakhir adalah menjadikan saya sebagai generasi muda termotivasi untuk terus belajar supaya bisa berkarya membuat perubahan. Sebagaimana sejarah membuktikan bahwa pergerakan dan perubahan itu dilakukan oleh generasi muda. Dr. Soetomo mendirikan Budi Utomo (1908) pada usia 20 tahun. Ki Hajar Dewantoro mendirikan Indische Partij pada usia 20 tahun dan Bung Hatta mendirikan Perhimpunan Indonesia (1924) di Belanda pada usia 21 tahun. Sebagai penutup ingatkah kalian dengan ucapan Soekarno, “Beri saya sepuluh pemuda maka akan saya goncangkan dunia”.

Pringamba (Sigaluh, Banjarnegara). Selasa, 27 Januari 2015

You Might Also Like

0 comments: