Galau Tingkat Tinggi

8:00:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Di beranda gedung lantai bertingkat itu, duduklah seorang pemuda menatap hilir mudik para pengendara sepeda motor dan mobil. Duduk di sebuah tangga yang hanya berbalut semen, mungkin karena sebelahnya sudah di kramik sehingga yang sebelah tak perlu di keramik atau mungkin karena keterbatasan anggaran. Entahlah, itu menjadi urusan yang sudah tua.
Riski, itulah nama pemuda yang mengenakan kaos hitam bergambar Gus Dur di bagian depannya. Ia duduk melamun, menerawang jauh ke angkasa, membayangkan kuatkah ia menjalani amanat yang dipegangnya, menjadi ketua ipnu. Rasanya semakin lama semakin gak karuan. Sekilas membayangkan kabupaten tetangga yang sudah tertata, ah sungguh berat nian perjuangannya.
Sore tadi yang seharusnya pengurus kumpul, tak ada yang datang. Semua sibuk dengan aktifitasnya sendiri, sibuk denngan kenyamanannya sendiri, padahal waktu hanya tinggal pas 1 bulan untuk mempersiapkan pelantikan. Tapi mana, seolah tak ada yang peduli. Di kabari atau tidak sama saja, nguwiel. Inikah yang namanya ujian. Ingin sebenarnya ia marah, marah pada mereka yang selalu beralasan sibuk. Namun iapun membayangkan bahwa organisai yang dipimpinya bukanlah organisasi profit yang bsa mencukupi kebutuhan kadernya. Sudah ada yang ikut, juga syukur.
Tumbal. Mungkin itulah kata yang bisa mewakili keadaannya, siap menjadi tumbal demi kesuksesan organisasinya. Kesana kemari mengunjungi kader yang ada. Berjuang agar tetap hidup meskipun sulit.
Ia meremas botol air mineral yang ada ditangannya. Melampiaskan kegundahan pikirannya yang soolah otaknya sudah tak muat. Dalam, hati ia ingin berteriak sejadi-jadinya. Saat ia akan mengeluh, iapun teringat bahwa tak pernah ada gunanya mengeluh, jalani saja. Bukankah dengan semakin sulitnya masalah, semakin matang kepribadian kita. Atau membayangkan ucapan konyol temannya, bahwa berjuang harus siap luar dalam, harta, tenaga dan pikiran. Bukankah Mbah Hasyim dan Mbah Wahab Chasbullah lebih sulit perjuangannya. Masa hanya masalah seperti ini mengeluh. Ah, Riski. Kamu pasti bisa, yakinlah bahwa perjuanganmu pasti akan ada manfaatnya. Ingatkah ucapan Bapak Mutori, “Seorang ketua itu layaknya supir kereta api. Ada penumpang atau tidak tetap jalan terus. Jika sekarang belum ada penumpangnya, mungkin lain waktu ada yang akan menumpang. Yang penting jangan pernah berhenti. Jalan terus.”
Langit semakin gelap. Suara adzan magribpun terdengar berkumandang saut menyaut dari masjid satu dengan masjid yang lain. Sebelum ia beranjak dari tempat duduknya, iapun mengingat kegiatan akhir diklatama. Awalnya meski bingung tapi pas hari-H juga ternyata biasa, malah banyak ilmu yang didapat. Kalau ia hanya terhenti pada tataran ide tanpa ada pengeplikasiannya, maka tak pernah bisa merasakan belajar yang sesungguhnya.

Banjarnegara, 24 Januari 2015

You Might Also Like

0 comments: