Berkah Membuat SIM

1:06:00 PM Mad Solihin 0 Comments

TDC LPK Kartika
Dua kali terkena tilang di Sapen Wonosobo saat mau berangkat kuliah yang membuat uang Rp. 200.000,- melayang menjadikan saya merasa trauma dan was-was ketika mengendari sepeda motor. Bukan karena takut, tetapi karena sungguh disayangkan jika uang yang saya miliki, habis untuk membayar tilang sebab uang tersebut tak mungkin lari ke kas negara melainkan ke kantong-kantong oknum yang melakukan operasi zebra tersebut. Belum lagi keadaaan keluarga yang bagi saya uang tersebut sangatlah berarti. Maka untuk menghindari operasi zebra yang sekarang sedang sering dilakukan, saya mengambil jalur Kalierang-Mendolo (Patung Pahlawan), 4 kali lebih jauh dari jalur biasa ketika berangkat kuliah. Keadaan inilah yang mendesak saya untuk  segera membuat SIM.
Tiga hari yang lalu saat saya pulang dan mengutarakan keinginan untuk membuat SIM, ibu saya menyarankan untuk mengajak adiknya Lik Ani yang di Brayut. Itu juga karena ibu saya ditawari oleh Lik Ani yang kebetulan anaknya yang bernama Priono baru saja membuat SIM. Maka tadi pagi saya menyempatkan untuk membuat SIM yang kebetulan hari Libur dan ini adalah pengalaman pertama saya. Awalnya saya mau mengajak Mas Puji adiknya Lik Ani sebagaimana sore kemarin saya utarakan kepada Lik Parman, suaminya Lik Ani. Yang malam itu juga kebetulan keluar dan menemui mas Puji.
Pagi tadi sekitar pukul tujuh kurang Lik Parman ke rumah dan mengabarkan bahwa saya di suruh untuk menemuinya saja di Ruko. Namun, berbeda dengan bayangan saya, Mas Puji yang ada dalam anganku ternyata Mas Wiji. Agak kaget sebenarnya saat saya pergi ke Ruko dan saya dapati penghuninya yang tak lain adalah Mas Puji masih tidur. Niat saya untuk mengajaknya menemani membuat SIM menciut, maklum saya orang yang pemalu dan pendiam yang tak banyak humoris sehingga cukup sulit untuk mudah kakrab dengan orang baru apalagi usianya lebih tua.
“Apa tidak berani membuat SIM sendiri?” tanya Mas Puji ketika awal saya membuka pintu Ruko dan membuatnya terbangun.
“Belum mas, masalahnya belum pernah,” jawab saya jujur.
Sekitar setengah jam saya di sana. Obrolan demi obrolan terkait dengan alamat rumah dan seputar SIM membuat saya tertantang. Masa sudah mahasiswa apalagi ketua ipnu tidak berani? Maka saya putuskan untuk berangkat sendiri. Ada rasa ragu sebenarnya untuk mengiyakan bahwa saya berani, namun karena saya merasa tidak enak jika ia harus menemani, mengingat bahwa menunggu itu sangat menyebalkan apalagi orang yang saya ajak belum akrab. Oleh karena itu saya meminta arahan bagaimana prosesnya dan menuliskan pada sebuah kertas. Dimana harus daftar dan berapa registrasinya. Setelah dijelaskan alur yang harus saya lewati dan menuliskan pada selembar kertas, saya segera pamitan.
Pertama sebagaimana yang di tunjukan oleh Mas Puji, saya ke LPK “Kartika” sebelah selatan Pasar Wage. Di sana saya mendaftar untuk membuat persyaratan membuat SIM C dengan membayar registrasi sebesar Rp. 280.000,-. Setelah itu saya mengikuti tes berkendara dengan mengemudikan sepeda motor secara zig-zag dan memutari angka 8. Setelah itu saya diarahkan ke sebuah ruangan untuk tes teori dengan menjawab “Benar/Salah” dengan soal berjumlah 30. Dan untuk lulus harus benar minimal 25. Dalam tes tersebut saya mendapat point 29. Selesai tes teori saya di suruh ke tempat awal registrasi dan langsung mendapat Serifikat Baik.
Selesai dari TDC LPK Kartika, saya langsung menuju ke Kantor Kepolisian dan sesuai prosedur untuk cek kesehatan. Disinilah untuk pertama kalinya saya tahu bahwa golongan darah yang saya miliki adalah A. Di usia yang hampir 21 tahun baru tahu golongan darahnya. Ada keganjilan ketika saya melihat surat keterangan sehat sebelum lanjut ke prosedur selanjutnya, di situ tertera tinggi dan berat badan. Tanpa tanya kepadaku, di situ telah di isi. Mungkin karena sudah terbiasa dan kalaupun meleset tidaklah terlalu sehingga ketika meilhat saya, langsung saja menuliskan tinggi dan berat badannya. Registrasi di tempat ini adalah Rp. 30.000,-.
Surat Keterangan Dokter
Langkah selanjutnya adalah pergi ke Loket Bank untuk pembayaran registrasi sebesar Rp. 100.000,-. Selesai membayar, pergi ke Loket 1 ataupun 2 untuk meminta formulir data diri. Jika formulir sudah terisi semua, serahkan formulir tersebut bersamaan dengan sertifikat dari LDK Kartika dan surat keterangan sehat dari dokter ke loket 1. Habis itu tunggu sampai ada panggilan.
Untuk menyerahkan Data Pendaftaran
Setengah jam lebih menunggu akhirnya di panggil juga. Dan kali ini adalah tes teori. Lulus tes teori kemudian tes zig-zag dan mengitari angka 8. Selesai dari sini langsung mengumpulkan berkas yang tadi telah di uji. Karena banyak yang sedang membuat SIM maka harus menunggu dulu hingga mendapat panggilan untuk foto. Di tempat ini, saya di foto dan tes sidik jari.
Selesai foto, saya di suruh untuk membuat Kartu Sidik Jari dengan membayar Rp. 15.000,-. Selesai membuat kartu sidik jari, saya masuk ke ruang foto untuk menanyakan SIM nya sudah jadi apa belum. Seorang polisi yang betugas di sana menyambut kedatanganku. Dan akhirnya jadilah SIM C di tanganku.

Pringamba (Sigaluh, Banjarnegara). Kamis, 22 Januari 2015. 

You Might Also Like

0 comments: