Ternyata Sudah 21 Tahun

Ternyata Sudah 21 Tahun

19:07:00 Add Comment
Alhamdulillah puji syukur pada Dzat yang telah memberikan kehidupan sehingga sampai detik ini, tepat pada usia yang ke 21 saya masih bisa menghirup udara dan telah merasakan berbagai nikmat yang kadang sayapun tak menyadarinya. Terima kasih ya Allah atas segala nikmat dan maafkanlah jika nikmat itu terkadang saya gunakan untuk bermaksiat.
Terima kasih Ibu dan Bapak yang walau sampai saat ini tak pernah kalian ucapkan Selamat Ulang Tahun padaku atau bahkan tak hafal tanggal lahirku, namun saya yakin bahwa dalam setiap doa kalian selalu terselip namaku. Do'a ikhlas kalianlah yang telah mengantarkan kemudahan dalam setiap langkahku. Terima kasih dan maaf jika saat ini belum bisa membantu. Allahu yarham 'alakuma.
Terima kasih juga kepada semua keluargaku terutama Mb' Nur dan Kang Sutras yang telah mengrimkan sepeda motor sehingga sayapun bisa berkeliling, berjalan kesana kemari yang dari situ banyak pengalaman berharga saya dapatkan. Jazakumullah semoga kemudahan selalu menyertai kalian.
Terima kasih kepada semua guruku yang telah mengajari berbagai ilmu sebagai bekal dalam mengarungi bahtera kehidupan yang penuh ombak dan badai. Walau tak saya sebut satu persatu, namun nama kalian masih lekat dalam ingatanku. Semoga kebaikan kalian mendapat balasan yang lebih baik dan tercatat sebagai amal jariyah yang dari setiap ilmu yang telah kalian sampaikan mengalir pahala dari-Nya.
Terima kasih juga kepada semua sahabatku, baik yang mengucapkan ultah dan do'a ataupun yang tidak. Dari kalian saya banyak belajar bahwa hidup itu tak bisa sendiri dan harus saling menghargai. Semoga keberkahan, kesehatan dan kemudahan dalam segala hal tercurah juga kepada kalian semua. Maaf tak bisa membalas satu persatu.
Terima kasih juga kepada seseorang yang sampai hari ini belum juga membuka fb, yang lebih sibuk dengan bait-bait indah klasik. Semoga Allah selalu memudahkanmu.
Allah, di hari yang bahagia ini saya mempunyai harapan. Berilah saya umur panjang agar saya banyak belajar dan bisa menjadi lebih bijaksana. Berilah saya kekuatan dan kesehatan agar bisa berjuang memikul tanggung jawab, memajukan ipnu ippnu di Banjarnegara melestarikan warisan Mbah Hasyim Asy'ari. Berilah saya kecerdasan agar bisa merangkai kata demi kata menjadi kalimat, paragraf dan sebuah cerita yang bermanfaat, mengispirasi dan sebagai bukti bahwa saya pernah ada. Tepatnya bisa menulis buku dalam waktu tidak melebihi umur 24 tahun.
Tulisan ini saya copas dari postingan fb yang telah saya publikasikan. Sebagai bahan refleksi bahwa ternyata usia saya sudah 21 tahun, usia yang terbilang semakian tua, sepertiga dari umur Rasulullas saw.

Banjarnegara, 28 Januari 2015

Kaum Muda Membaca Indonesia

11:28:00 Add Comment
Kaum Muda Membaca Indonesia
Selasa sore (27/01) tepatnya pukul 18:07 WIB di sebuah kamar berukuran 2x2,5 M, saya telah menyelesaikan bacaan buku berjudul  “Kaum Muda Membaca Indonesia” yang diterbitkan oleh DCSC Publising. Buku setebal 169 halaman ini berisi 20 Artikel Terbaik dalam lomba menulis bertemakan “Hata Rajasa Writing Competition 2012” yang diadakan oleh Pusat Studi Harapan Rakyat (PSHR). Dua puluh tulisan ini adalah hasil seleksi dari 1.200 naskah tulisan yang masuk ke panitia dalam rentang waktu tiga minggu (Hal ii).
Dua puluh tulisan dalam buku yang saya pinjam dari sekolah saya dulu (MA Walisongo) ini terbagi menjadi dua kategori, sepuluh tulisan terbaik tingkat mahasiswa sedang sepuluhnya lagi adalah tingkat pelajar. Dalam analisis saya setelah membaca sampai selesai, tulisan yang ada dalam buku ini menjelaskan kondisi perekonomian Indonesai tahun 2012 sebagaimana tahun diadakannya lomba ini. Tulisan-tulisan tersebut juga berisi pandangan para penulis dalam melihat Indonesia serta harapan dan penawaran solusi ketika mereka menilai bahwa Indonesai tertinggal dari Negara Gajah (India 1950) dan Negara Naga (China 1949) yang notabane dalam memperoleh kemerdekaan lebih dulu Indonesia (1945).
Yang membuat saya lebih berkesan membaca buku ini adalah ketika sampai pada 10 tulisan tingkat pelajar. Di situ disuguhkan ide mengenai entrepreneurshipatau berjiwa usaha secara mandiri. Dalam tulisan-tulisan tersebut ada beberapa baris kata yang cukup menggelitik mengenai keadaan bangsa Indonesia saat ini. Diantaranya adalah :
Pertama, bahwa Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat yang artinya kuantitas SDM nya banyak. Namun, kebanyakan SDM itu kurang berkualitas dan tidak memiliki kemampuan entrepreunership. Yang lebih ironis adalah Lembaga Pendidikan atau sekolah yang sejatinya memiliki peran terdepan dalam menyiapkan dan sekaligus mencetak generasi berjiwa entrepreunership justru selama ini hanya mencetak lulusan pencari kerja bukan pembuat lapangan pekerjaan. Sekolah telah berhasil membuat mindset dan menanamkan doktrin sebagai generasi pemburu kerja ditengah sempit serta terbatasnya lapangan pekerjaan.
Kedua, orientasi pendidikan di Indonesia lebih menitiberatkan pada content based, dimensi “kepintaran” (otak kiri/kognitif), bahkan pemenuhan target degree holder (penyandang gelar).
Ketiga, dunia pendidikan saat ini masih asyik dengan multiple choice (pilihan ganda), seperti halnya kuis yang akhir-akhir ini marak di Televisi, bukan melatih untuk mempersiapkan output yang mandiri. Peserta kuis dan masyarakat tidak dilatih dengan kreativitas dan analisis masalah. Kemampuan problem solvingmereka juga rendah dan hanya mengandalkan pilihan hitam-putih untuk menjadi kaya.
Selain beberapa hal diatas, membaca buku “Kaum Muda Membaca Indonesia” juga membuat saya berimajinasi untuk mengadakan lomba menulis mengingat sebagai ketua ipnu yang mempunyai ladang garapan pelajar, tentunya ada kecocokan dan sesuai dengan misi organisasi pengkaderan dan kepelajaran.
Yang terakhir adalah menjadikan saya sebagai generasi muda termotivasi untuk terus belajar supaya bisa berkarya membuat perubahan. Sebagaimana sejarah membuktikan bahwa pergerakan dan perubahan itu dilakukan oleh generasi muda. Dr. Soetomo mendirikan Budi Utomo (1908) pada usia 20 tahun. Ki Hajar Dewantoro mendirikan Indische Partij pada usia 20 tahun dan Bung Hatta mendirikan Perhimpunan Indonesia (1924) di Belanda pada usia 21 tahun. Sebagai penutup ingatkah kalian dengan ucapan Soekarno, “Beri saya sepuluh pemuda maka akan saya goncangkan dunia”.

Pringamba (Sigaluh, Banjarnegara). Selasa, 27 Januari 2015
Dilema Pelantikan, Festival Rebana atau Seminar?

Dilema Pelantikan, Festival Rebana atau Seminar?

01:09:00 Add Comment
Bingung, dilema ataupun galau ketika dihadapkan pada sebuah pilihan adalah lumrah sebagai seorang manusia yang normal. Manusia yang mempunyai keterbatasan dalam segala hal dan manusia yang tak punya kekuatan kecuali Allah lah yang memberinya. Manusia yang selalu berpikir meminimalisir resiko sekecil mungkin ataupun kalau ada sesuatu yang harus dipiih, maka pilihan itu akan cenderung pada sesuatu yang tak jauh dari zona nyaman.
Itulah yang saya alami saat ini. Dilema atas sebuah pilihan antara pelantikan disertai dengan festival rebana sesuai rencana awal atau dengan seminar yang tentunya lebih mudah dan tak terlalu memakan banyak tenaga. Yang membuat saya bingung adalah jika festival rebana, untuk persiapan masih belum ada walau sudah ada gambaran. Dan sesuai dengan saran dari Gus Zahid kemarin  Sabtu (24/01) selaku pembina, ia menyarankan untuk seminar dengan mengangkat tema yang sesuai dengan kondisi banjarnegara saat ini terkait kepelajaran. Inilah yang membuat saya merasa dilema. Jika sesuai dengan saran dari Gus Zahid, tetapi dari teman-teman khususnya Lu-lu menginginkan Festival Rebananya. Maka saat malam minggu (24/01) di rumahnya Lu-lu masih dalam tanda tanya antara festival rebana dan seminar, akhirnya kami memutuskan untuk Festival Rebana dan kamipun membahasanya hingga terkantuk-kantuk. Tetapi mempertimbangkan terkait waktu dan tenaga masih susah, karena dari keseluruhan pengurus paling hanya berapa yang siap dan peduli.
Yang menjadi puncak kebingungan saya secara pribadi adalah masalah pendanaan. Waktu sudah mepet, tetapi proposal belum jadi. Belum lagi nantinya yang akan terjun untuk bersama sowan-sowan juga kelihatannya lebih sibuk dengan kepentingannya sendiri-sendiri. Ya inilah yang saya alami saat ini. Tak hanya itu, masalah pengurus yang ada dalam SP untuk dilantik juga perlu pendekatan lagi ditambah seragam apa yang mau dipakai. Siapkah dan maukah mereka dibebani walau hanya sekedar mengganti seragam? Karena sebagai kader yang kebanyakan baru bahkan mengenalpun juga belum, mlitansinya pasti belum ada.
Inikah tantangan yang harus saya hadapi? Tantangan yang akan menjadi kenikmatan ketika segala sesuatunya sudah terlampoi. Entahlah, semoga menjadi pembelajaran yang mengasah kebjaksanaan dan kedewasaan saya.

Banjarnegara, 26 Januari 2015. 01:07
Galau Tingkat Tinggi

Galau Tingkat Tinggi

08:00:00 Add Comment

Di beranda gedung lantai bertingkat itu, duduklah seorang pemuda menatap hilir mudik para pengendara sepeda motor dan mobil. Duduk di sebuah tangga yang hanya berbalut semen, mungkin karena sebelahnya sudah di kramik sehingga yang sebelah tak perlu di keramik atau mungkin karena keterbatasan anggaran. Entahlah, itu menjadi urusan yang sudah tua.

Riski, itulah nama pemuda yang mengenakan kaos hitam bergambar Gus Dur di bagian depannya. Ia duduk melamun, menerawang jauh ke angkasa, membayangkan kuatkah ia menjalani amanat yang dipegangnya, menjadi ketua ipnu. Rasanya semakin lama semakin gak karuan. Sekilas membayangkan kabupaten tetangga yang sudah tertata, ah sungguh berat nian perjuangannya.

Sore tadi yang seharusnya pengurus kumpul, tak ada yang datang. Semua sibuk dengan aktifitasnya sendiri, sibuk denngan kenyamanannya sendiri, padahal waktu hanya tinggal pas 1 bulan untuk mempersiapkan pelantikan. Tapi mana, seolah tak ada yang peduli. Di kabari atau tidak sama saja, nguwiel. Inikah yang namanya ujian. Ingin sebenarnya ia marah, marah pada mereka yang selalu beralasan sibuk. Namun iapun membayangkan bahwa organisai yang dipimpinya bukanlah organisasi profit yang bsa mencukupi kebutuhan kadernya. Sudah ada yang ikut, juga syukur.

Tumbal. Mungkin itulah kata yang bisa mewakili keadaannya, siap menjadi tumbal demi kesuksesan organisasinya. Kesana kemari mengunjungi kader yang ada. Berjuang agar tetap hidup meskipun sulit.

Ia meremas botol air mineral yang ada ditangannya. Melampiaskan kegundahan pikirannya yang soolah otaknya sudah tak muat. Dalam, hati ia ingin berteriak sejadi-jadinya. Saat ia akan mengeluh, iapun teringat bahwa tak pernah ada gunanya mengeluh, jalani saja. Bukankah dengan semakin sulitnya masalah, semakin matang kepribadian kita. Atau membayangkan ucapan konyol temannya, bahwa berjuang harus siap luar dalam, harta, tenaga dan pikiran. Bukankah Mbah Hasyim dan Mbah Wahab Chasbullah lebih sulit perjuangannya. Masa hanya masalah seperti ini mengeluh. Ah, Riski. Kamu pasti bisa, yakinlah bahwa perjuanganmu pasti akan ada manfaatnya. Ingatkah ucapan Bapak Mutori, “Seorang ketua itu layaknya supir kereta api. Ada penumpang atau tidak tetap jalan terus. Jika sekarang belum ada penumpangnya, mungkin lain waktu ada yang akan menumpang. Yang penting jangan pernah berhenti. Jalan terus.”

Langit semakin gelap. Suara adzan magribpun terdengar berkumandang saut menyaut dari masjid satu dengan masjid yang lain. Sebelum ia beranjak dari tempat duduknya, iapun mengingat kegiatan akhir diklatama. Awalnya meski bingung tapi pas hari-H juga ternyata biasa, malah banyak ilmu yang didapat. Kalau ia hanya terhenti pada tataran ide tanpa ada pengeplikasiannya, maka tak pernah bisa merasakan belajar yang sesungguhnya.

Banjarnegara, 24 Januari 2015

Berkah Membuat SIM

13:06:00 Add Comment
TDC LPK Kartika
Dua kali terkena tilang di Sapen Wonosobo saat mau berangkat kuliah yang membuat uang Rp. 200.000,- melayang menjadikan saya merasa trauma dan was-was ketika mengendari sepeda motor. Bukan karena takut, tetapi karena sungguh disayangkan jika uang yang saya miliki, habis untuk membayar tilang sebab uang tersebut tak mungkin lari ke kas negara melainkan ke kantong-kantong oknum yang melakukan operasi zebra tersebut. Belum lagi keadaaan keluarga yang bagi saya uang tersebut sangatlah berarti. Maka untuk menghindari operasi zebra yang sekarang sedang sering dilakukan, saya mengambil jalur Kalierang-Mendolo (Patung Pahlawan), 4 kali lebih jauh dari jalur biasa ketika berangkat kuliah. Keadaan inilah yang mendesak saya untuk  segera membuat SIM.

Tiga hari yang lalu saat saya pulang dan mengutarakan keinginan untuk membuat SIM, ibu saya menyarankan untuk mengajak adiknya Lik Ani yang di Brayut. Itu juga karena ibu saya ditawari oleh Lik Ani yang kebetulan anaknya yang bernama Priono baru saja membuat SIM. Maka tadi pagi saya menyempatkan untuk membuat SIM yang kebetulan hari Libur dan ini adalah pengalaman pertama saya. Awalnya saya mau mengajak Mas Puji adiknya Lik Ani sebagaimana sore kemarin saya utarakan kepada Lik Parman, suaminya Lik Ani. Yang malam itu juga kebetulan keluar dan menemui mas Puji.

Pagi tadi sekitar pukul tujuh kurang Lik Parman ke rumah dan mengabarkan bahwa saya di suruh untuk menemuinya saja di Ruko. Namun, berbeda dengan bayangan saya, Mas Puji yang ada dalam anganku ternyata Mas Wiji. Agak kaget sebenarnya saat saya pergi ke Ruko dan saya dapati penghuninya yang tak lain adalah Mas Puji masih tidur. Niat saya untuk mengajaknya menemani membuat SIM menciut, maklum saya orang yang pemalu dan pendiam yang tak banyak humoris sehingga cukup sulit untuk mudah kakrab dengan orang baru apalagi usianya lebih tua.

“Apa tidak berani membuat SIM sendiri?” tanya Mas Puji ketika awal saya membuka pintu Ruko dan membuatnya terbangun.

“Belum mas, masalahnya belum pernah,” jawab saya jujur.

Sekitar setengah jam saya di sana. Obrolan demi obrolan terkait dengan alamat rumah dan seputar SIM membuat saya tertantang. Masa sudah mahasiswa apalagi ketua ipnu tidak berani? Maka saya putuskan untuk berangkat sendiri. Ada rasa ragu sebenarnya untuk mengiyakan bahwa saya berani, namun karena saya merasa tidak enak jika ia harus menemani, mengingat bahwa menunggu itu sangat menyebalkan apalagi orang yang saya ajak belum akrab. Oleh karena itu saya meminta arahan bagaimana prosesnya dan menuliskan pada sebuah kertas. Dimana harus daftar dan berapa registrasinya. Setelah dijelaskan alur yang harus saya lewati dan menuliskan pada selembar kertas, saya segera pamitan.

Pertama sebagaimana yang di tunjukan oleh Mas Puji, saya ke LPK “Kartika” sebelah selatan Pasar Wage. Di sana saya mendaftar untuk membuat persyaratan membuat SIM C dengan membayar registrasi sebesar Rp. 280.000,-. Setelah itu saya mengikuti tes berkendara dengan mengemudikan sepeda motor secara zig-zag dan memutari angka 8. Setelah itu saya diarahkan ke sebuah ruangan untuk tes teori dengan menjawab “Benar/Salah” dengan soal berjumlah 30. Dan untuk lulus harus benar minimal 25. Dalam tes tersebut saya mendapat point 29. Selesai tes teori saya di suruh ke tempat awal registrasi dan langsung mendapat Serifikat Baik.

Selesai dari TDC LPK Kartika, saya langsung menuju ke Kantor Kepolisian dan sesuai prosedur untuk cek kesehatan. Disinilah untuk pertama kalinya saya tahu bahwa golongan darah yang saya miliki adalah A. Di usia yang hampir 21 tahun baru tahu golongan darahnya. Ada keganjilan ketika saya melihat surat keterangan sehat sebelum lanjut ke prosedur selanjutnya, di situ tertera tinggi dan berat badan. Tanpa tanya kepadaku, di situ telah di isi. Mungkin karena sudah terbiasa dan kalaupun meleset tidaklah terlalu sehingga ketika meilhat saya, langsung saja menuliskan tinggi dan berat badannya. Registrasi di tempat ini adalah Rp. 30.000,-.
Surat Keterangan Dokter
Langkah selanjutnya adalah pergi ke Loket Bank untuk pembayaran registrasi sebesar Rp. 100.000,-. Selesai membayar, pergi ke Loket 1 ataupun 2 untuk meminta formulir data diri. Jika formulir sudah terisi semua, serahkan formulir tersebut bersamaan dengan sertifikat dari LDK Kartika dan surat keterangan sehat dari dokter ke loket 1. Habis itu tunggu sampai ada panggilan.
Untuk menyerahkan Data Pendaftaran
Setengah jam lebih menunggu akhirnya di panggil juga. Dan kali ini adalah tes teori. Lulus tes teori kemudian tes zig-zag dan mengitari angka 8. Selesai dari sini langsung mengumpulkan berkas yang tadi telah di uji. Karena banyak yang sedang membuat SIM maka harus menunggu dulu hingga mendapat panggilan untuk foto. Di tempat ini, saya di foto dan tes sidik jari.

Selesai foto, saya di suruh untuk membuat Kartu Sidik Jari dengan membayar Rp. 15.000,-. Selesai membuat kartu sidik jari, saya masuk ke ruang foto untuk menanyakan SIM nya sudah jadi apa belum. Seorang polisi yang betugas di sana menyambut kedatanganku. Dan akhirnya jadilah SIM C di tanganku.

Pringamba (Sigaluh, Banjarnegara). Kamis, 22 Januari 2015. 

Hari Pertama Micro Teaching

13:47:00 Add Comment
Saat Mengawali Pelajaran
Selasa, 20 Januari 2015 adalah hari pertama proses pembelajaran micro teaching dengan dosen pembimbing Bu Hj. Purwaningsih. Dalam perjalanan berangkat, di Sapen polisi ternyata melakukan operasi zebra lagi. Dan sayapun langsung membalik memilih jalan terobosan Kalierang-Mendolo.
Micro teaching ini adalah proses pembelajaran praktek mengajar teman sendiri yang dalam kelompok ada 12-25 anak. Dan kelompok saya kebetulan ada 12 anak.
Sebagaimana kesepakatan pada rabu kemarin (14/01) bahwa dalam satu minggu ada dua kali masuk yaitu hari selasa dan rabu pukul 09.00 WIB yang dalam satu pertemuan ada 6 anak yang maju. Dan beradasarkan urutan absen, saya mendapat giliran pada pertemuan pertama ini.
Satu persatu maju mempraktekan bagaimana cara mengajar yang diawali oleh Nafsiah dan sialnya saya kebagian akhir sehingga dari teman-teman terlihat sudah lelah dan lesu. Sialnya lagi materi yang saya sampaikan adalah SKI yang banyak ceritanya.
Berbeda dengan yang lain, ketika giliran untuk maju, saya menyuruh teman saya untuk memfoto. Namun malah di vidio. Saat saya melihat vidio bagaimana cara saya mengajar, ternyata banyak kata “eeee”. Semoga pada pertemuan selanjutnya bisa lebih baik.

Banjarnegara, 20 Januari 2015
Penutup Pidato Khas NU

Penutup Pidato Khas NU

13:34:00 Add Comment
Malam itu duduklah sekelompok pemuda yang sedang asyik bercanda tawa. Kelekar membahana ketika pembicaraan lucu membuat suasana begitu rame. Dua gelas kopi dengan beberapa makanan ringan untuk cemilan ditambah tiga bungkus rokok yang berbeda membuat mereka semakin betah melek mbengi (terjaga dari tidur). Cerita ini dan itu yang muncul sepontanitas dan saling bergantian menimpali ketika ada yang berbicara, menjadikan suasananya hidup. Kali ini, Anwar angkat bicara dengan bertanya kepada kelima teman yang ada di depannya.
Pernah mendengar orang  NU, Muhammadiyah, dan SI menutup pidato belum. Kira-kira pada tahu gak perbedaannya?” tanya Anwar kepada temannya.
Setahu saya kalau NU itu “Wallahul muwwafiq ila Aqwamith Tharieq”, terus kalau Muhammadiyah itu “Billahit Taufiq wal Hidayah” dan SI apa ya, yang jelas terakhir “Ilaa Sabilil Haq”. Tukas Zuhri menimpali.
Wah saya baru paham, pantas ketika Pak Zuhdi selesai pasti pakai kata “Ila Sabilil Haq”, ya ya paham saya sekarang”, kata Miftah seketika sambil menerawang ingatannya saat beberapa kali ia mendengar pidato dan sambutannya dalam pertemuan rutin bulanan.
Iya itulah ciri khas masing-masing untuk mengindikasikan bahwa ia itu ikut apa?” kata Anwar menjelaskan. “Kira-kira ada yang tahu siapa pencetus kalimat Wallahul muwwafiq ila Aqwamith Tharieq itu?” tanyanya lagi.
Siapa ya?” seru teman-teman saling berpandangan mencari jawaban.
Siapa hayo, ada yang tahu gak?” tanya Anwar memburu. Sejenak suasana menjadi sepi, setelah Anwar menyeruput kopi hitam yang ada di depannya, ia berkata lagi. “Yang menciptakan kata itu adalah Almaghfurlah KH. Ahmad Abdul Hamid Kendal. Beliau merupakan salah satu kyai NU yang suka mengoleksi dan mendokumentasikan berbagai hasil karya para tokoh dan produk-produk organisasi”, katanya menjelaskan.
Kamu dapat dari mana informasi ini”, tanya Riski ingin tahu.
Saya dapat dari Majalah Suara NU edisi 25 November 2014 dibagian Salam Redaksi Hal 4,” jawabnya singkat.
Suasana menjadi hening membuat ringkikan suara jangkring terdengar begitu jelas. Hawa dingin yang begitu menusuk tubuh membuat Riski melarikan diri untuk pindah ke alam mimpi. Nuha yang sedari tadi telah menguap beberapa kali pun mengikutinya, sedang yang lain masih duduk sambil bercengkerama, menikmati kopi dan sesekali mengisap rokok yang ada di tangannya.

Pringamba (Sigaluh, Banjarnegara). Kamis, 22 Januari 2015. 01:11 WIB
Menjadi Ketua, Harus Siap Tenaga, Waktu, Pikiran dan Harta

Menjadi Ketua, Harus Siap Tenaga, Waktu, Pikiran dan Harta

01:03:00 Add Comment
Sudah menjadi hal yang umum bahwa ketua harus siap segalanya, tenaga, pikiran, waktu dan harta. Dan itulah yang saya alami saat ini. Menjadi ketua ipnu yang bertugas dalam hal kaderisasi membuatku banyak merasakan sesuatu yang tak pernah dimiliki oleh seorang yang bukan ketua.
Sore tadi ketika rekan-rekan CBP pulang dari Jemblung Karangkobar setelah mengikuti pengajian memperingati 40 hari, saya mendapat sms bahwa mereka sudah sampai di terminal. Dan karena hujan, maka saya menjemput mereka untuk selanjutnya menginap di pcnu. Ba’da maghrib sebagaimana umumnya anak pondok, mereka terlihat lemas dan tanpa berkata sayapun tahu bahwa mereka lapar. Agak dilema, jika membelikan makanan padahal dompet sedang tipis, tetapi jika tidak sama halnya saya tak peka. Ah, andai aku kaya atau ipnu punya kas mungkin akan berbeda keadaannya.
Sebelumnya saya membeli gorengan seharga Rp. 10.000,- Setelah sholat maghrib saya berikan uang Rp. 20.000,- untuk mereka gunakan membeli nasi rames di warung yang berada pas di depan gd. Pcnu. Walau sebenarnya itu tak seberapa, tetapi semoga bisa bermanfaat dan sedikit mengobati rasa lelah dan lapar mereka.
Sama hal nya kemarin setelah acara pelantikan pcnu di pendapa dipayudha adigraha, setelah selesai acara, mereka berjalan sampai ke pcnu karena tak ada yang mengantar. Setelah saya tanya, ternyata dari pagi mereka belum makan. Berharap di pengajian ada, eh nyatanya hanya snack ringan. Sempat bingung menyuruh mereka untuk sum atau memakai uang yang saya miliki.
Dengan penuh harap sayapun mencari alternatif lain, yaitu sms ke pak Khozin menanyakan adakah anggaran untuk membeli makanan. Alhamdulillah ada dan beliau menyuruhku untuk menunggu di alun-alun depan BRI. Maka setelah sholat maghrib saya mengajak kowi untuk menemui beliau dan setelah menunggu sekitar seperempat jam beliau sampai dan memberikan uang Rp. 200.000,-
Setelah saya terima uangnya, saya langsung menuju ke warung padang yang ada di barat alun-alun dan memesan makanan. Alhamdulillah, ada kepuasan tersendiri ketika melihat anggota rekan-rekan cbp bisa makan. Yang jelas harus siap untuk mengeluarkan harta untuk anggotanya.
Tentang tenaga, waktu dan pikiran, beberapa kali saya harus berjalan sendiri ketika yang lain susah atau tak bisa dihubungi. Oh Tuhan, inikah perjuangan yang harus saya lalui. Berilah saya patner yang siap untuk berjalan dan bergerak bersama.

Banjarnegara, 20 Januari 2015. 00:59
Game Asyik

Game Asyik

21:08:00 Add Comment
Malam hari ini dalam  rangka untuk persiapan  micro teaching besok, saya mencoba mencari referensi mengajar yang mengasyikan di internet. Biasa, andalan  utama saya menggunakan you tobe biar jelas bagaimana gerakannya. Dalam kesempatan ini saya menemukan beberapa game menarik yang salah satunya adalah link ini https://www.youtube.com/watch?v=2FpdeKHvT5o.
Ada beberapa game yang saya suka. Dari mulai awal gerakan yang menggunakan gerakan tangan mengikuti lagu “Naik Delman”. Game pingsut dengan mengganti batu dengan samson, gunting dengan harimau dan kertas dengan Laila. Kemudian game menyebutkan angka yang diacak secara tepat. Dan yang terakhir adalah dengan mengurutkan angka 1, 2 dan urutan ketiga di ganti dengan kata ‘hu’, begitu setrusnya.
Alhamdulillah satu ilmu yang saya dapat dan semoga bermanfaat.

Banjarnegara, 19 Januari 2015

Dhaeng Sekara

09:09:00 Add Comment
Dhaeng Sekara, Novel Sejarah Majapahit
Hari ini Minggu, 18 Januari 2015 selesai juga Buku Dhaeng Sekara, Telik Sandi Tanah Pelik Majapahit karya Agus Sunyoto. Sebuah buku novel yang menceritakan tentang Majapahit. Buku yang untuk menyelesaikannya emang butuh paksaan sehingga tidak berlarut-larut kemana pergi harus dibawa.
Buku setebal 488 halaman ini saya beli ketika ada pameran buku yang diadakan oleh Perpusda Banjarnegara pada tanggal 31/10/2014 lalu seharga Rp. 30.000,-
Buku ini menceritakan kisah perjalanan seorang pemuda bernama Mahesa Sekar, seorang abdi Majapahit hingga mendapat gelar Dhaeng Sekara menjadi nayakaparaja mendampingi Kertawijaya. Dalam perjalanan itulah diceritakan tentang kondisi Kerajaan Majapahit yang saat itu terdapat banyak permasalahan yang tidak lain karena perebutan kekuasaan.
Kisah seorang pemuda bernama Mahesa Sekar yang ketika masih kecil keluarganya di bantai oleh para perampok. Ia diselamatkan oleh Resi Damarmaya dan mengasuhnya hingga beliau meninggal yang kemudian ia belajar kepada Kakek Bantal yang tiada lain adalah keluarga dari Sultan Zainal Abidin Achmad Bahian Shah, Yang Dipertuan Pasai, dan diberi gelar Raja Muda Ibrahim. Namun, setelah sekitar kurang lebih 8 tahuan, ia meminta ijin kepada junjungannya di Pasai untuk mengembar dan menyebarkan islam di tanah Majaphit.
Diakhir bacaan yang tertulis Malang, 20 Februari 1995 saya langsung pergi menerwang ke Daftar Pustaka. Wuih ternyata ada 36 bahan refenrensinya, padahal untuk membaca satu buku saja begitu malas.

Banjarnegara, 18 Januari 2015
Selamat Ulang Tahun Kasih

Selamat Ulang Tahun Kasih

19:34:00 Add Comment
Teruntuk adikku, Lentera dalam Hidupku
Koriyatul Lailiyah

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh ...
Kaifa chaluk dek ..? Semoga keselamatan dan kesehatan selalu tercurah kepadamu. Aamiin.
“Selamat Ulang Tahun Dek” Semoga dengan bertambahnya usia engkau menjadi tambah dewasa, tambah bijaksana, tambah pintar dan tambah mulia pula akhlaknya. Selalu diberi kesehatan dan kemudahan oleh Allah dalam segala kebaikan dan apa yang engkau cita-citakan bisa tercapai.
Kasih, benarkah garis takdir akan menyatukan kita dalam maghligai rumah tangga nantinya? Entahlah. Semua masih menjadi rahasia-Nya, menjadi misteri yang yang tak pernah kita ketahui seperti apa endingnya. Namun bukan berarti tidak bisa, karena kita masih mempunyai jalan ikhtiyar untuk menggapai ridho-Nya.  
Kasih, melalui tulisan ini saya hanya ingin berpesan “Jadilah pribadi Emas/ Mutiara”. Pribadi yang tak setiap orang mampu memilikinya. Yang dalam keadaan apapun engkau selalu menjadi istimewa. Pun andai hari ini saya masih belum punya sesuatu yang sepadan untuk memilikinya, saya akan berusaha dan memohon kepada Dzat yang telah menciptakan diri ini supaya pantas untuk memilikinya.
Yang tak kalah penting adalah engkau selalu bisa menjadi pribadi hangat yang ketika orang lain berada di dekatmu mereka merasa nyaman.
Kasih, mungkin hanya ini yang dapat saya berikan. Semoga bisa menjadi obat kerinduan yang selama ini membara dalam relung jiwa serta bisa membuatmu tersenyum.
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh ...
Pringamba (Sigaluh, Banjarnegara), Sabtu, 17 Januari 2015
Yang Merindukanmu
Mad Solihin

Terjungkir dari Mobil

13:31:00 Add Comment
Saat Melakukan Pendaftaran 
Rabu malam, 14 Januari 2015 tanpa di duga mobil yang saya kendarai terjungkir. Ini adalah pengalaman yang mengesankan, pengalaman yang mungkin tak bisa dilupakan sekaligus untuk pertama kalinya mengalami musibah yang tak seorangpun menginginkannya. Hanya saja beruntung tak ada luka sedikitpun yang saya alami.  
Kejadian ini berawal ketika kami dalam perjalanan ke Mandiraja untuk mengambil bendera. Di daerah Bawang saat mobil yang kami kendarai ingin menyalip truck tronton, tiba-tiba truck tronton agak memepet sehingga membuat Pak Khozin kaget dan ngrulak hingga akhirnya kecelakaanpun tak bisa dihindari. Mobilpun menabrak warung dan terjungkir hingga berbalik arah. Alhamdulillah walau ada yang terluka pun tidak begitu parah yang langsung di bawa ke RSI Bawang.
Setidaknya ini menjadi pelajaran yang berharga bahwa musibah bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Tak terkecuali meskipun seseorang itu mempunyai niat yang baik.

Banjarnegara, 16 Januari 2015

Kesetrum Kabel Listrik

01:31:00 Add Comment
Lu-lu Faizal, Aldi, Saya
Minggu lalu (11/01) setelah rapat usai, salah satu anggota CBP, Aldi namanya, tersetrum kabel listrik. Kejadian itu bermula ketika Aldi dan dua temannya sedang bergurau di teras gd pcnu lant. 3 yang kebetulan sangat dekat dengan kabel listrik. Tanpa sengaja Aldi yang sedang mengayunkan tangan ke belakang langsung bersentuhan dengan kabel listrik, seketika itu kabel yang bertegangan tinggi membakar tangan hingga mengelupas sebagian kulitnya.
Hampir saja jatuh andai saja teman yang di sampingnya tak segera memeganginya. Sontak teman-teman yang lain geger dan segera melihatnya. Alhamdulillah tak parah seperti mas Heri. Setelah itu sebagai rasa tanggung jawab menjadi ketua IPNU yang mengkoordinir untuk berkumpul, saya bawa dia ke IGD RSUD Banjarnegara. Setelah di periksa dan diperban tangannya, pihak rumah sakit menyuruh untuk opnam (rawat inap). Akan tetapi dengan berbagai pertimbangan kami putuskan untuk menolak opnam. Hanya saja pihak rumah sakit agak mempersulit bahwa ketika menolak opnam harus ada tanda tangan dari orang tuanya.
Aduh, ini merepotkan. Dalam keadaan bingung, Lulu teringat bahwa ayahnya sedang kumpulan di Banjarnegara. Iapun langsung menghubungi dan setelah tahu bahwa ia sedang berada di Kalibenda, maka saya dan Lulu langsung meluncur ke sana untuk memberitahukan menganai teman kami yang kesetrum dan memintanya untuk mengaku sebagai anggota keluarganya. Sementara kami itu Aldi ditemani oleh Adnan. Alhamdulillah semua urusanpun beres.
Sekitar pukul lima sore kami pulang ke Rakit. Hujan lebat yang mengguyur kami terjang. Dan saat sampai di rumahnya Aldi, tanggapan dari orang tuanya melegakan hati setelah kami uaraikan kronologi kejadian sebenarnya.
Semoga menjadi pelajaran berharga yang bisa dijadikan referensi bahwa kabel listrik tersebut perlu di bungkus dengan plastik ataupun pengaman lainnya.

Banjarnegara, 13 Januari 2015. 01:23
Terkena Tilang saat Berangkat Ujian Pertama

Terkena Tilang saat Berangkat Ujian Pertama

20:16:00 Add Comment
Tadi pagi sewaktu berangkat kuliah saya mendapat tilang di Sapen. Ini untuk yang ketiga kalinya dan uang Rp. 100.000,- pun melayang. Benar-benar polisi yang kebangeten. Padahal sedang buru-buru mau ujian. Hadeh, daripada motornya yang di tahan mending bayar walau sebenarnya sayang juga si, lebih baik di sidang. Tapi karena yang saya bawa hanya foto copian STNK, maka agak sulit untuk  polisi segera menuliskan surat tilang, belum lagi SIM juga tidak punya.
Sebelumnya di tempat yang sama, saya juga terkena tilang untuk yang kedua kalinya. Waktu itu kebetulan STNK ada, sehingga saya memilih membayar Rp. 50.000,- daripada sidang. Alasannya karena jika sidang akan memboroskan waktu toh juga paling tidak jauh selisihnya, berbekal pengalaman tilang yang pertama dan sidang. Walaupun sebenarnya lebih baik sidang si, karena jika sidang sudah jelas uang itu masuk kas negara. Berbeda jika di tilang langsung bayar, itu biasanya masuk ke saku polisi yang menilang.
Kunci motorku lansung dikembalikan setelah saya membayar Rp. 100.000,-. Tak menunggu lama, saya langsung melajukan motorku berangkat ke kampus untuk ujian. Sampai disana ujian baru saja mulai. Setelah minta ijin masuk kepada pengawas, saya cari kursi yang kosong dan saya dapati kursi paling utara pojok baris ke dua.
Makul yang diujikan hari ini adalah Pembelajaran Akidah Akhlak dan Metodologi PAI. Seperti ujian semester-semester sebelumnya, saya merasa kebingungan. Untung saja sifatnya openbook dan pengawasnya juga santai sehingga mengerjakanpun agak santai juga.
Diakhir perkuliahan setelah saya sampai rumah, teman saya Restu mengirim pesan lewat BB. Inti dari pesan itu adalah bahwa ujian yang baru saja dilakukan adalah pembodohon. Sistem ujian yang tak jauh seperti sebelumnya. Pengawas sibuk dengan HP dan sosial medianya sendiri sehingga ketika ada mahasiswa melakukan diskusia atau apapun di kelas, pengawas lebih banyak diam. Katanya lagi, bahwa ujian ini bukan ujian smeseter tapi ujian satu jam. Bukan hasil dari belajar salam 6 bulan, tetapi hasil dari bertanya pada mabh google. Dan inilah ironisnya.
Dalam status BB, salah satu teman saya mengatakan bahwa ujian telah berjalan dengan lancar dan sukses. Jika saya menyimpulkan mahasiswa ini menggunakan persepsi nyaman. Artinya bahwa yang penting saya mengerjakan dan yakin bahwa jawabannya benar atau setidaknya mendekati benar.
Jika saya memilih, maka saya lebih memilih dengan pendapat teman saya yang menggunakan nalar kritis tentang sistem pembodohan. Walaupun yang saya rasakan, saya nyaman dengan proses pembodohan ini. Yang jelas harus punya tempat menyalurkan kreativitas, baik di organisasi atau kegiatan-kegiatan yang mendukung tergalinya bakat yang terpendam.

Pringamba (Sigaluh, Banjarnegara), 09 Januari 2015

Audieandi dengan Ketua LP Ma’arif

20:14:00 Add Comment
Eman Setiaji, Mad Solihin, Bapak Hendro Cahyono, Nurus S, Putri Miladia
Senin, 5 Januari 2015 bertempat di Gedung PCNU Lantai 3 saya mengadakan audiensi dengan Ketua LP Ma’arif Banjarnegara, Bapak Hendro Cahyono. Bersama dengan Ahadun, Eman Setiaji, Nurus dan Putri Miladia, saya menemui beliau. Dalam pertemuan tersebut, saya memanfaatkan untuk mengenalkan IPNU IPPNU kepada beliau. Kami utarakan konsep yang kami miliki mengenai IPNU IPPNU di Ma’arif.
Keprihatinan kami melihat IPNU IPPNU di Banjarnegara yang seolah hanya nama dan saran dari pembina untuk menyerahkan kepada sekolah untuk memfasilitasi pembentukan PK membuatku berani untuk mengadakan forum audiensi. Mencoba menggali dan mempertemukan konsep IPNU dan Ma’arif agar bisa saling membantu dan melengkapi. 
Saat berbincang-bincang dengan Ketua LP Ma'arif
Setelah saya utarakan ide-ide yang kami miliki, gantian beliau yang menanggapinya. Alhamdulillah beliau menanggapinya dengan baik dan memberikan beberapa wejangan kepada kami. Diantara wejangan itu adalah harus sering komunikasi, membuat kegiatan yang sesuai dengan hobi pemuda atau pelajar, fokus pada program dan jangan hanya kartu nama tetapi benar-benar kerja.
Dari forum audiesi ini, saya berharap bahwa IPNU IPPNU dan Ma’arif di Banjarnegara bisa bersinergi, bekerja sama saling menguntungkan demi majunya NU di Banjarnegara.

Pringamba (Sigaluh, Banjarnegara), 09 Januari 2015
Mengajukan Keringanan Biaya Kuliah

Mengajukan Keringanan Biaya Kuliah

18:03:00 Add Comment
Malam ini saya berkesempatan untuk pulang ke rumah. Tentu bukan tanpa maksud jika saya sempatkan untuk menginap di rumah, dan maksud itu adalah untuk meminta uang saku selain mengambil perlengkapan administrasi sebagai bahan untuk mengajukan keringanan biaya kuliah.
Keadaaan keluarga yang pas-pasan membuat saya harus mencari cara untuk sedikit meringankan beban keluarga, dan satu cara yang akan saya lakukan adalah mengajukan keringanan biaya kuliah kepada Bapak Dekan. Pergulatan sebagai seorang aktivis ipnu yang belum punya penghasilan dan selalu mengandalkan kucuran dana dari orang tua terkadang membuat saya malu sendiri. Hanya saja saya bersyukur bahwa kedua orang tua saya memahami dan memakluminya. Do’a saya yang selama ini terlantun dalam hati semoga Allah memudahkan setiap hal yang saya lakukan, dan anganku adalah melalui perantara kedua orang tua saya.
Allah, semoga Engkau kabulkan doaku. Aamiin
*  *
“Saya pengin kamu sukses, hin”. Demikianlah ucap ibu saya untuk yang ke sekian kalinya. “Saya sudah susah, saya ingin kamu dan mb’ mu sukses jangan seperti saya,” tambahnya.
Kata-kata itu sering saya dengar. Mungkin karena itu juga saya bisa menuliskan tulisan ini, sebuah rangakaian kata yang untuk bisa menulisakannya butuh waktu yang lama. Membaca, membaca dan latihan menulis. Kenapa saya bilang butuh waktu lama? Karena di usia yang hampir 21 tahun ini, saya jarang ada di rumah dan konsekuensinya jarang juga bisa membantu kedua orang tua saya. Dari situlah proses pencarian dan mengasah kreativitas saya tergali. Terima kasih ibu, maafkan anakmu ini jika untuk saat ini belum bisa meringankan bebanmu. Semoga Allah selalu memberi kesehatan dan kemudahan kepadamu.
Cerita mengenai masa lalu tentang bagaimana perjuangan perih yang alhamdulillah saat ini bisa di petik hasilnya. Sebagai seorang ibu rumah tangga yang unik, luar biasa dan sangat berbeda dengan yang lain. Setiap hari ke kebun, mencari rumput ataupun babat membuka lahan yang karena itu aku tak pernah dapati ibuku ada di rumah ketika pulang dari sekolah SD. Paling uang 400 ratus atau 200 ratus yang di taruh di atas meja atau di atas rak sepatu dan itu dibagi dua sama rata, untukku dan mb’ ku jajan.
Atau jarang juga saya dapati bapakku di rumah. Pekerjaan sebagai tukang membuatnya harus meninggalkan kami, terkadang pulang 2 minggu atau 1 bulan sekali. Ah, masa itu menjadi kenangan tersendiri bagiku keluargaku. Dan alhamdulillah sekarang sudah punya kebun sehingga pekerjaan tukang hanya menjadi sampingan.
Ibu, bapak do’akan anakmu ini semoga bisa menjadi pribadi yang hebat. Bisa membantu dan membuat kalian bangga. Hanya itu harapan saya karena saya yakin bahwa kebaikan kalian tak pernah bisa saya balas. Jazakallah, wallahu yarham ‘alaikuma.
Pringamba (Sigaluh, Banjarnegara), 05 Januari 2015

Pukul 01:36 WIB

Menyambut Tahun Baru

12:09:00 Add Comment
Narsi dulu sebelum Menyantap
Tahun baru kali ini ada yang istimewa, walau sebenarnya tak saya sengaja. Awalnya saya pergi ke Rakit untuk menemui Pak Lurah dan Ketua PAC Muslimat, mengucapkan rasa terima kasih atas bantuannya sehingga acara Diklatama CBP KPP bisa berjalan dengan lancar. Namun, karena printer untuk ngeprint surat milik Lulu lagi eror akhirnya tak jadi menemui mereka.
Selain tujuan di atas, saya juga punya niat untuk membicarakan perihal pelantikan dan lomba rebana. Karena semantara ini, dialah patner berpikir dan bergerak yang bisa saya andalkan. Sambil menunggu waktu malam, kami menghabiskan waktu untuk bermain PS dan diskusi.
Waktu semakin mendekati pergantian malam tahun baru. Saat itulah kami melakukan aksi bakar-bakar ayam. Tak ketinggalan saya pun ikut, namun sebelumnya kami menyiapkan sambal terlebih dahulu.
Kembang api terlihat menyala di udara disertai dentuman suara meledak menandakan bahwa tahun baru 2015 telah tiba. Saat itu kami masih dalam proses membakar ayam di halaman belakang rumah. Setelah selesai, kami ber lima menyantap bersama-sama ayam yang telah matang dengan menggunakan nampan yang telah di isi nasi.
Sebagaiamana layaknya rasa sambal, kami berlima kepedasan setelah menyantap hidangan apalagi ditambah rica-rica. Hmmm ... nikmat rasanya.
Dan semoga di tahun baru 2015 ini banyak keberkahan yang saya dapatkan. Semangat dan prestasi baru. Aamiin

Banjarnegara, 03 Januari 2015

Lelah yang Terbayar

11:15:00 Add Comment
Foto bersama setelah Pembukaan
Diklatama Corp Brigade Pembangunan – Korp Pelajar Putri (CBP KPP) yang berlangsung di Balaidesa Rakit, Sabtu-Minggu (20-21 Des 2014) alhamdulillah berjalan lancar. Kegiatan yang diikuti oleh 77 peserta memberikan kepuasan tersendiri bagiku. Perjuangan yang cukup melelahkan akhirnya terbayarkan dengan suksesnya acara tersebut.
Gesekan demi gesekan yang muncul dalam proses pra acara membuatku banyak belajar. Belajar untuk berani, belajar untuk benar-benar melakukan sesuatu yang bermanfaat dan belajar untuk berkomunikasi. Pertemuan demi pertemuan baik dari sesepuh maupun rekan senior dari ipnu ippnu yang darinya aku temukan ide-ide segar membuatku berpandangan jauh kedepan bahwa banyak tugas ipnu ippnu yang harus dikerjakan.
Perjuangan masuk dari pintu ke pintu, perjuangan mencari patner untuk berjalan dan perjuangan untuk menjabat menjadi ketua panitia, sekretaris dan ketua ippnu secara sekaligus, rasanya begitu stres. Namun semua kelelahan itu hilang manakala acara telah terlaksaana dan alhamdulillah tak mengecewakan.
Teringat ketika melawan lelah menuju semarang, bolak-balik rakit banjar, ke sekolah dan hingga persaiapan acara. Melelahkan tapi menyenangkan. Mis komunikasi dengan Muslimat ataupun dengan Kodim yang membuatku merasa darinya aku bertambah pengalaman.
Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu baik meteri, pikiran ataupun tenaganya. Jazakumullah ahsanal jaza’.

Banjarnegara, 03 Januari 2015