Menembus Koran Suara Merdeka

14:10:00 Add Comment
Suara Merdeka Hal 21
Hari ini ada kebahagiaan tersendiri merasuk ke dalam relung hati. Kebahagiaan itu adalah dimuatnya acara Diklatama CBP KPP yang diadakan oleh PC IPNU IPPNU Banjarnegara di Balaidesa Rakit Sabtu lalu (20-21) di koran Suara Merdeka Hal 21 edisi Sabtu, 27 Desember 2014. Tulisan ini saya kirim ke emailnya Pak Miftah kemarin, senior saya di IPNU. Dari dialah tulisan itu bisa menembus koran karena kebetulan dia akrab dengan wartawan suara merdeka.
Awalnya agak ragu-ragu untuk menuliskannya karena jeda waktunya sudah cukup lama padahal koran itu biasanya suka dengan info yang terbaru. Akan tetapi malam jum’at yang lalu dalam di gedung PCNU saya bertemu dengan Pak Miftah. Iapun menanyakan sudah dikirim belum tulisannya. Saya beralasan waktunya sudah cukup lama, namun ia menjawab bahwa itu tidaklah menjadi masalah. Maka jum’at pagi saya coba menuliskannya dan langsung mengirimkannya ke email milik Pak Miftah. Saya konfirmasikan bahwa tulisannya sudah saya kirim lewat hp dan memintanya untuk mengabari jika dimuat.
Pagi tadi dalam perjalanan ke Wonosobo, saya mendapat sms dari Pak Miftah untuk mengecek di koran SM. Melambung, begitulah perasaaan saya seketika itu. Saya lanjutkan perjalanan menuju tempat penjahit di Kongsi sebagaiman janji saya awal. Dalam perjalanan pulang saya sempatkan membeli koran. Sayang, ketika saya buka ternyata hanya Suara Kedu yang ada. Maklum saya belinya di pasar Wonosobo. Tak menunggu lama, saya langsung pergi ke Toko Ratna untuk membeli koran. Sesampainya di sana saya lengung menuju tempat dimana koran dipajang. Saya buka lembaran akhir yang berisi berita Banjarnegara dan di pokok kiri bawah terpampang tulisan “IPNU Gelar Diklatama”. Melihat nama IPNU ada, sayapun langsung mengambilnya dan membayarnya di kasir.

Banjarnegara, 27 Desember 2014
Perkenalan pertama dengan BB

Perkenalan pertama dengan BB

01:14:00 Add Comment
Untuk Pertama Kalinya
Kamis, 18 Desember 2014 adalah hari dimana saya membeli HP android untuk pertama kalinya dan untuk pertama kalinya juga mempunyai akun BB. Walau sebenarnya sudah akrab dengan BB namun itu bukan milik sendiri, melainkan milik teman. Dari hari ke hari, kebutuhan untuk mengggunakan BB semakin mendesak karena kebanyakan teman-teman sekarang menggunakan BB. Akhirnya saya beranikan diri untuk meminta kepada bapak saya. Awalnya saya bertanya adakah uang 700 ribu? Dan alhamdulillah ada. Maka sayapun memintanya untuk membeli hp android yang ada aplkasi bbnya, walau sebenarnya agak gak enak karena kebutuhan di rumah juga sangat banyak.
Dusbook
Kejadian ini saya rasakan bukan untuk pertama kalinya. Dulu ketika saya sangat berkeinginan untuk bisa memperoleh beasiswa, maka tanpa di duga saya di panggil oleh pihak TU untuk melengkapi persyaratan memperoleh beasiswa. Begitupun dengan kejadian ini, keinginan saya yang begitu kuat untuk bisa membeli hp android dimudahkan oleh Allah melalui kedua orang tua saya. Terima kasih ibu, bapak. Maaf masih sering merepotkan.
Dua kejadian di atas membuatku merasa bahwa kekuatan mimpi atau keinginan yang kuat pasti akan ada jalan.
Ya, kebutuhan akan komunikasi yang mudah dengan orang lain juga menjadi menjadi salah satu faktor penting bagi saya untu membeli hp andrid ini di Toko Balngko Cell. Dan semoga bisa menjadi alat komunikasi yang bermanfaat baik untuk diri sendiri, orang lain ataupun organisasi. Aamiin.
Blangko Cell

Banjarnegara, 19 Desember 2014. 00:57 WIB

Seharian Berteman dengan Hujan

01:06:00 Add Comment
Jembatan Sampeh Ambruk akibat Banjir
Hari Kamis, 11 Desember 2014 hujan turun begitu deras mengguyur bumi. Dari pagi hingga malam hari pukul 00:55 WIB sewaktu tulisan ini dibuat, hujan belum juga berhenti. Sungguh, langit ingin menumpahkan air matanya hingga puas.
Hukum alampun berlaku disini, banjir, tanah longsor, pohon tumbang menjadi informasi yang mengerikan dan membuat ketakutan sebagian warga Banjarnegera dan Wonosobo. Bahkan, jembatan yang menghubungkan antara Bandingan dan Sampe, Sukoharjo ikut terbawa oleh derasnya arus air kali serayu. The Pikas, Camp Arum Jerampun tertimpa banjir akibat luapan air yang begitu deras.

Banjarnegara, 12 Desember 2014. 01:00 WIB

Audiensi dengan Bupati Banjarnegara

23:37:00 Add Comment
Eman Setiaji, Mad solihin, Mislam, Bapak Bupati, Uswatun Khasanah, Mijil, Ety Nurhajah, Sriyuli
Kamis malam (11/12) bertempat di Pringgitan, Pengurus Cabang IPNU IPPNU Banjarnegara bertemu dengan Bupati Banjarnegara, H. Sutejdo Slamet Utomo, SH. M.Hum. dalam forum audiensi. Sebuah pertemuan yang akan menjadi kenangan terindah dan menimbulkan kebanggan tersendiri bagiku.
Awalnya cukup tegang karena sebelumnya belum pernah melakukannya. Namun ketika sudah masuk dan mulai berbincang-bincang, terasa begitu  santai dan tenang, tak seperti ujian nasional. Pribadi beliau yang hangat menjadikan saya merasa betah berada di sampingnya. Ya, begitulah kesan saya pada beliau.
Sebelum bertemu dengan beliau, kami juga bertemu dengan Pak Nurudin dan Pak Sya’roni yang baru saja selesai acara pengajian rutin kliwonan. Saya merasakan ada kelegaan di dalam hati, setidaknya saya punya orang tua yang dekat dengan Bupati sehingga ketika kami sowan sudah tak asing lagi.
Setelah saya utarakan maksud kedatangan kami dan dirasa cukup, kamipun berpamitan. Namun sebelumnya, untuk dokumentasi kamipun berfoto bareng dengan beliau.
Pertemuan ini membuat semangat saya terlecut untuk memajukan IPNU IPPNU Banjaregara. Ya, ada kebanggaan tersendiri dalam diri saya. Keinginan untuk menjadi orang besarpun muncul, atau mungkin jika bisa di kemudian hari saya punya impian untuk memimpin Banjarnegara. Semoga.

Banjarnegara, 11 Desember 2014

Optimis HMP PAI Akan Lebih Baik

14:54:00 Add Comment
Logo HMP PAI FITK UNSIQ
Selasa pagi, (9/12) tepatnya di ruang BEM FITK, saya bersama dengan beberapa teman membentuk tim formatur untuk melengkapi kepengurusan HMP PAI periode 2015-2016 pasca musma II pada Jum’at, 28 Nopember 2014 kemarin. Antusiasme teman-teman yang tergabung di situ membuat saya kagum dan optimis bahwa hmp pai kedepan akan lebih baik.
Bercermin dengan kepengurusan yang sebelumnya, kepengurusan yang sekarang berusaha untuk tidak hanya menunjuk tanpa sebelumnya menghubungi personil yang akan dimasukan kedalam kepengurusan. Sehingga ketika tadi pagi hanya beberapa yang hadir, maka kami memutuskan untuk melanjutkannya jum’at depan. Kami akan mencoba menghubungi terlebih dahulu, baru setelah mereka menyatakan kesiapannya, mereka akan kami masukan kedalam struktur kepengurusan. Dan harapan kami dari setiap kelas terdapat perwakilannya.

Banjarnegara, 10 Desember 2014. 00:26
Audiensi dengan Kepala BPBD Banjarnegara

Audiensi dengan Kepala BPBD Banjarnegara

12:24:00 Add Comment
Rabu siang (10/12) bersama dengan dua rekan saya, Prof. Mizanto dan Achadun, mengadakan audiensi dengan Kepala BPBD Banjarnegara, bapak Catur Subandrio. Dalam audiensi itu, kami memperkenalkan dari bahwa kami dari PC IPNU Banjarnegara. Kami ceritakan tujuan kedatangan kami, bahwa sebagai organisai kepelajaran tentunya kami ingin menjembatani siswa untuk aktif peduli bancana. Oleh karena itu, dalam audiensi itu kami paparkan program kerja yang berhubungan dengan BPBD, harapan kami kedepan IPNU dan BPBD bisa bekerja sama. Selain ingin memperkenalkan IPNU IPPNU di jajaran dinas tentunya.
Obrolan kami bertambah hangat manakala beliau memperkenalkan diri bahwa ia baru satu bulan disana yang sebelumnya menjabat sebagai Camat di Susukan. Pergerakan kami yang cukup luas dan kenal beberapa orang Susukan, menambah mantap. Dan semoga ini bisa menjadi awal yang baik untuk IPNU IPPNU kedepan bisa dikenal oleh masyarakat luas dengan adanya kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.
Sebelumnya kami telah datang ke Kapolres, namun karena sedang ada tamu maka kami hanya menyerahkan surat permohonan audiensi saja. Dan yang terkhir adalah ke perindakop dan umkm. Disini saya dan Achadun hampir mati kaku, karena belum terlalu paham apa yang sebenarnya akan kami sampaikan. Untung ada Kang Mizan, dari dia lah suasana yang tadinya tegang menjadi cair. Pak Ali, itulah septong nama yang kami tangkap. Gayanya yang serius membuat kami mengira bahwa dialah Kepalanya, namun di akhir sebelum kami berpamitan, ia mengatakan bahwa di bukanlah kepalanya. Ia hanya menyarankan untuk mempersiapkan apa yang akan disampaikan kepada Bapak Kepala.
Sungguh pengalaman yang menakjubkan. Pengalaman yang tak mungkin aku dapat dari bangku sekolah ataupun kuliah.

Banjarnegara, 11 Desember 2014
Terjatuh dari Motor

Terjatuh dari Motor

11:58:00 Add Comment
Hari ini Selasa (9/12) setelah pulang kuliah, sebagaimana janji saya kemarin kepada Ridlo bahwa akan berkunjung ke markas Bagana tak mungkin saya batalkan. Bersama dengan kang Mislam sekitar pukul 5 sore, kami meluncur ke Karangkobar. Meskipun hujan, kami tetap meluncur sebagai salah satu komitmen terhadap apa yang telah kami janjikan. Dalam perjalanan kami melihat banyak tanah longsor akibat hujan yang cukup deras. Bahkan salah satu titik longor membuat tiang listrik roboh sehingga listrikpun mati. Daerah Karangkobar, Wanayasa dan Pejawaranpun terlihat gelap.
Kami sampai di SMP Ma’arif Karangkobar pukul 18.00 WIB tepat waktu maghrib. Gelap dan tak seorangpun yang ada disana. Saya ambil hp untuk menghubungi Ridlo supaya datang ke SMP. Sambil menunggu kedatangannya, kami pergi ke masjid untuk melaksanakan shoat mghrib.
Kurang lebih setengah jam kami menunggu setelah sebelumnya kami sudah berada di SMP kembali. Dan setelah Ridlo sampai, kami bertiga langsung meluncur ke markas Bagana. Tepatnya di desa Bakal Kecamatan Batur. Sampai disana, Pak Irfa’i masih dalam perjalanan pulang dari Wanayasa, meninjau desa yang terkena longsor. Sekitar setegah jam kami menunggu.
Pak Irfa’i selaku komandan Bagana mengira bahwa yang datang adalah dari PCNU Banjarnegara. Padahal yang datang adalah dari PC INPU, mungkin karena sms nya yang dibaca secara sekilas sehingga menimbulkan penafsiran ganda. Kami bercerita banyak dengannya. Mulai dari maksud kedatangan kami yang memintanya untuk menjadi pemateri acara diklatama cbp kpp. Tanggapan yang positif membuatku merasa bangga dan muncul setitik semangat untuk selalu memperjuangkan ipnu. Belum lagi cerita mengenai susah senangnya di bagana, walau dari organisasi induknya tak terlalu memperhatikan, namun iapun selalu membawa nama organisasinya. Sungguh menakjubkan.
Pertemua itu membuat saya merasa ada angin segar merasuk dalam jiwa dan pikirank. Setidaknya ketika nanti RKTL mau kemana pasca diklatama diarahkan, saya sudah mempunyai gambaran. Sungguh silaturahim yang membawa berkah.
Malam semakin larut ketika kami tengah asyik mengobrol, dan jarum jam telah menunjukan waktu pukul 23.00 WIB. Akhirnya kami berpamitan walau sebenarnya sudah ditawari untuk menginap. Tak diduga, dalam perjalanan pulang motor yang saya kendarai masuk ke dalam jalan yang berlubang. Sialnya ketika saya coba untuk menghindari, motor menjadi tak terkontrol dan bruuuuk, saya dan kang Mislam terjatuh. Ini untuk kedualinya ketika kemarin tanggal 1 Desember 2014, sehabis dari Rakit mengejar waktu untuk tetap masuk kuliah, terpeleset di Wonosobo tepatnya di jalan sebelum pos polisi pertama dari arah barat. Alhamdulillah tak ada yang parah. Maka kami yang sebenarnya mau langsung ke pc akhirnya menginap di tempatnya Ridlo. Malam yang mengharukan. Disaat semua orang hanyut dalam mimpi, kami harus menahan rasa nyeri karena berbenturan dengan aspal. Udara dingin khas pegunungan tak mau ketinggalan ikut nimbrung menyerang tubuh kami.

Banjarnegara, 11 Desember 2014
Tak ada Patner

Tak ada Patner

17:35:00 Add Comment
Hari ini aku merasa bahwa aku bergerak sendiri, tanpa ada patner yang bisa aku ajak untuk berdiskusi atau setidaknya untuk memikirkan kemana arah yang akan aku tuju. Entahlah, itu kesimpulanku saat ini. Memang ada beberapa yang dekat, namun kesolidan antara kami belum terjalin begitu erat. Aku menyadari hal itu, dan sangat paham. Namun, akankah aku menyalahkan mereka? Tentu saja itu bukanlah sikap yang bijak. Aku memilih untuk cenderung intropeksi diri. Ya intropeksi diri, melihat kelemahan sendiri untuk selanjutnya menjadi referensi untuk bergerak lebih baik kedepannya.
Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain yang masih lemah, mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Sifat pemalu yang melekat pada diriku, membuatku merasa aku tak mudah untuk bergaul dengan orang lain. Mungkin karena bukan tipe melankolis, sehingga aku lebih suka diam dan menyendiri. Dan haruskah ini menjadi alasan? Seringnya iya. Dan salhakah? Biarlah waktu yang menjawab.


Banjarnegara, 08 Desember 2014