Rutinan di Binangun

11:36:00 PM Mad Solihin 0 Comments

Siang tadi ketika aku masih berada di rumah, Imam sms “munggah ora?” aku merasa agak males sebenarnya. Namun aku menjawab dengan sms “Insya Allah”. Di saat suasana panas dan mungkin lebih baik bersantai di rumah, bisa saja aku berpura-pura lelah, banyak tugas dst. Hanya untuk melindungi diri agar tak memenuhi undangan rutinan di Binangun, Karangkobar.
Akan tetapi logikaku seolah menolak, jika aku tak memenuhi undangan maka suatu ketika aku mengundangnyapun mereka akan menolak. Selain itu, hati nuraniku berkata bahwa seorang ketua harus siap meskipun hanya sendiri. Dan itulah yang aku lakukan. Mislam yang biasanya bisa, katanya ada acara. Eman sudah ku sms dan miscal tak ada konfirmasi. Sedangkan Tarso katanya ada shif malam. Maka akupun memaksa diriku untuk pergi ke Karangkobar meskipun seorang diri.
Sebelumnya, akupun harus berhadapan dengan wajah seorang Ibu yang sedikit kecewa dengan tingkah anaknya. Kecewa bukan karena marah, tetapi kecewa karena baru sebentar di rumah sudah pergi lagi. Kebiasaanku yang membuatnya merasa kasihan dan dengan terpaksa membolahkannya. Oh, Ibu ... Maafkan anakmu ini yang tak punya banyak waktu untuk menghabiskannya di rumah. Hanya do’a dan ridho mu yang ananda harapkan.
***
Ba’da sholat asar aku meluncur ke Banjarnegara. Setelah itu sekitar pukul lima sore aku melanjutkan meluncur ke Karangkobar dan sampai di sana pas waktu maghrib.
Setengah tujuh sehabis sholat magrib, bersama dengan Ustadz Saiful Mutaqin dan Rekan Imam Muhlisin, aku berangkat ke Binangun tepatnya di rumahnya Rekanita Santi. Di sana Rekan dan Rekanita IPNU IPPNU Ranting Binangun telah berkumpul. Selang beberapa menit, pengajianpun dimulai yang dibuka oleh Rekan Imam. Sebagaiman tradisi orang NU, ketika ada perkumpulan di situ ada tahlil. Begitupun pengajian malam ini, tahlil tak lupa kami lakukan dan aku yang di suruh untuk memimpinnya.
Setelah tahlil, kini bagian Ustadz Saiful Mutaqin yang menyampaikan tausiahnya. Karena bulan ini adalah bulan Muharram, maka beliau menyampaikan keutaman malam ke 10 atau sering di sebut ‘Asyura. Hari dimana para nabi mendapatkan karunia besar dari Allah, betemunya Nabi Adam dengan Siti Hawa, selamtnya Nabi Nuh sewaktu terjadi banjir bandang, Nabi Ibrahim yang tak terbakar oleh api yang dinyalakan oleh Raja Namrud, selamtnya Nabi Isya dari penyaliban dan lain sebagainya. Ya, itulah yang Ustadz Saiful sampaikan.
***
Aku merasa bersyukur bisa ikut silaturahim ke Binangun, walaupun awalnya sedikit kesal mungkin karena harus sendiri. Dan itu bukan kali pertamanya. Namun, kekesalan itu hilang ketika aku melihat secerah cahaya atas semangatnya Rekan dan Rekanita IPNU IPPNU Binangun. Ada kepuasan tersendiri yang mungkin tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.

Banjarnegara, 02 Nopember 2014

You Might Also Like

0 comments: