Jumpa Novelis dengan Kang Aguk Irawan MN

6:59:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Bapak Nurul Mubin, Kang Aguk Irawan MN, Mas Haqqy al-Anshory
Kamis, 20 Nopember 2014 bertempat di Gedung BEM UNSIQ sebuah acara Jumpa Novelis dengan tema ‘Bedah Novel Maha Cinta’ karya Kang Aguk Irwan MN berjalan dengan lancar. Aku bersyukur bisa mengikutinya, walaupun pada awalnya sempat ragu ikut atau gak. Karena telah terjangkit penyakit ikut-ikutan, jika dia gak ikut maka saya juga gak ikut pun sebaliknya. Dan inilah yang kadang juga membuatku gelisah. Kenapa? Karena hidup kita berpacu dengan orang lain dan ini sangat membahayakan. Dan yang perlu diingat bahwa semua orang mempunyai jalan takdir yang berbeda dan untuk menajalan takdir, maka prosesnya juga harus berbeda. Jika teman kita kaya, apakah kita akan kaya? Tidak, jika kita tidak pernah berusaha. Kesuksesan dan masa depan hidup kita itu sepenuhnya berada pada kita sendiri bukan pada orang lain.
Selesai dalam 7 Hari
Dalam pertemuan tersebut, ia memaparkan tentang Novel Haji Backpacker yang diilhami oleh kisahnya dengan teman-temannya untuk haji nekad. Tentang Sang Kyai yang ia tulis dengan mendatangi kyai satu persatu. Kemudian yang tentang Wonosobo adalah Maha Cinta. Sebuah novel yang mengambil latar di daerah sembungan dengan keindahan puncak Sikunir. Novel ini terinspirasi oleh sebuah gambar atau tulisan yang menceritakan tentang keindahan Sikunir saat ia berada di pesawat terbang. Walaupun belum pernah kesana, ia bisa menuliskannya dalam sebuah novel setebal 450 halaman. Dan yang lebih menakjubkan, novel ini ia tulisa dalam waktu 7 hari.
Suasana peretmuan Jumpa Novelis

Pertemuan yang dipandu oleh Mas Haqqy, pemimpin redaksi Tabloid Taman Plaza berjalan dengan meriah dan antusias, ini ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang muncul dari para mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut. Tak ketinggalan, akupun ikut menyumbang pertanyaan. Dan ini menjadi kebanggaan tersendiri buatku. Alasannya, karena aku telah berani menunjukan diri saya setidaknya di tempat dimana di sana banyak yang belum aku kenal.
Pak Nurul Mubin juga hadir disana. Dosen yang pernah mengajarku waktu semester 2, dan sebagaimana dosen-doesn lain yang cukup memotivasi, ia lebih banyak meninggalkanku dan teman-teman untuk belajar sendiri kelas.
Sebelum acara ditutup, ada pembacaan puisi oleh temannya Kang Aguk yang berada di sanggar Nun dan juga oleh Mas Taufiq dari Teater Banyu Unisq.
Pembacaan Puisi

Jam lima kurang 10 menit acara ditutup dan bagai lebah yang melihat bunga, mahasiswa yang ikut dalam pertemuan tersebut menyerbu Kang Aguk Irawan untuk meminta tanda tangan dan berfoto. Dan lagi-lagi, aku juga tak mau ketinggalan. Aku meminta tanda tangan di buku note yang berisi catatan selama pertemuan, di Buku Novel Maha Cinta yang baru saya beli dan ikut foto bareng tentunya. Walau tidak fokus karena di sambi dengan menanda tangai buku-buku yang diajukan kepadanya, namun cukuplah menjadi kebanggaan tersendiri bisa foto bareng dengan Novelis terkenal yang karyanya sudah di jadikan film dan diputar di bioskop.
Tanda tangan Kang Aguk di Novel Maha Cinta

Catatan Kecil dengan Tanda tangan Kang Aguk Irawan

Fobo bersama Kang Aguk Irawan MN

Kata-kata yang cukup menyentuh adalah ketika ia menceritakan perihal kehilangan mobilnya. “Apalah arti memilki, jika tubuh kita saja sebenarnya bukan milik kita”.

Banjarnegara, 21 Nopember 2014

You Might Also Like

0 comments: