Hari ke 1000 Meninggalnya Mbahku

09:34:00 Mad Solihin 0 Comments

Malam ini pada tanggal 10 Nopember 2014, keluargaku mengadakan selametan untuk memperingati hari ke 1000 meninggalnya Mbah Marto Diwiryo, mbahku. Biasanya orang menyebutnya dengan nama “nglempar”. Selametan tersebut diadakan di tiga tempat, Ba’da maghrib di Kemiri tempatnya lik Ripyanto. Ba’da isya di tempat lik Haryanto dan setelah itu di tempatnya lik Nur Ikhsan.
Minggu lalu, ada kejadian cukup aneh menjelang persiapan acara nglempar. Kejadian itu adalah waktu Markum, tetanggaku yang mau membayar listrik ke Karangmangu, oleh ayahku disuruh untuk ke banjar melihat kalau-kalau ada penjual “Kijing” atau “Paesan”, sebagai tanda yang diletakan diatas kuburan seseorang. Tanpa menyanggah, iapun melakukan seperti yang dikatakan oleh ayahku. Maka sewaktu Markum sudah sampai di toko penjual paesan, ia mencoba menelpon lik Nur Ikhsan samapai tiga kali namun tak terhubung. Karena belum punya kepastian mau beli atau tidak, maka Markumpun berkata kepada penjual paesan sebelum meninggalkannya, “Jika jadi beli, maka nanti ada yang kesini, masalahnya yang bersangkutan dihubungi tidak nyambung”.
Sampai di balaidesa yang kini mau dibangun lagi, Markum bertemu dengan Likku, Nur Ikhsan. Terjadilah percakapan antara keduanya perihal masalah diatas. Likku yang katanya di hubungi gak nyambung, tak pernah mematikan Hp, pun demikian tak ada panggilan masuk seperti yang dikatakan oleh Markum bahwa ia telah mencoba menghubunginya sampai tiga kali. Anehnya, ketika dicoba dihubungi lagi ternyata nyambung. Awalnya aku menganggap bahwa itu mungkin ganngguan sinyal atau mungkin hp nya yang eror.
Karena Lik Nur Ikhsan tak terlalu mengurusi masalah tersebut, maka ia menyuruh Markum untuk menemui Lik Haryanto. Disinilah yang membuatku cukup kaget dan pikiranku melayang-layang. Setelah Markum berbincang-bincang dengan Lik Haryanto, ternyata mbahku menemui Lik Haryanto yang katanya tak mau dibelikan. Karena itulah, ia menyuruh Markum untuk membeli semen dan membuat sendiri tanda kuburan tersebut. Ya, itulah yang terjadi. Mbahku menginginkan keturunannya yang membuatnya sendiri dan bukan orang lain.

Pringamba (Sigaluh), 11 Nopember 2014. 00:47

You Might Also Like

0 comments: