Benarkah Sekolah Bermanfaat?

7:07:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Sekolah untuk Kehidupan
Sekolah adalah masa-masa persiapan untuk menghadapi dunia nyata. Maka seyogyanya apa yang dipelajari di sekolah adalah sesuatu yang akan dihadapi di dunia nyata. Namun, apakah sekolah selama ini mengajarkan sesuatu yang akan dihadapi di dunia nyata? Saya rasa itu masih jauh dari harapan, karena yang saya alami selama ini sekolah hanya membuat kita menghabiskan waktu untuk mempelajari teori yang diualang-ulang mulai dari SD, diulang lagi di SMP, di ulang lagi di SMA dan tak ketinggalan di ulang lagi di Kampus. Setidaknya itu yang aku rasakan.
Pelajaran yang sebegitu banyaknya di pelajari hanya bagian terluarnya saja tanpa ada yang mendalam, akibatnya peserta didik lupa yang dipelajari ketika telah proses belajar di kelas selesai. Dan yang cukup menyiksa adalah saat peserta didik akan melaksanakan ulangan baik itu Mid Semester, Ulangan Tengah Semester, Ulangan kenaikan kelas dan puncaknya adalah saat Ujian Akhir Sekolah. Peserta didik harus di menguasai pelajaran yang diajarkan dari kelas selama tiga tahun (untuk tingkat SMP dan SMA), terus selama ini yang dipelajari menguap layaknya air yang didihkan.
Benarkah sekolah itu manfaat? Entahlah, saya sendiri masih merasa bingung untuk mengidentifikasikan apa manfaat sekolah selama ini. Pun begitu dengan Zulfikri Anas sebagaimana yang terangkum dalam bukunya Sekolah Untuk Kehidupan, Gagasan Awal untuk Berpikir Ulang tentang Sisem Pendidikan Kita dan Memahami Posisi Kurikulum. Buku yang berisi catatan hasil penelusuaran di berbagai penjuru negeri. Sebuah tulisan untuk memperjuangkan inklusifisme pendidikan dan menjauhkan dari eksklusifisme dan elitisme pendidikan yang sudah mewabah.
Ada beberapa hal yang saya tangkap dari membaca buku karya Zulfikri Anas tersebut, diantaranya adalah :
  1. Inklusifisme pendidikan, bahwa pendidikan itu terbuka untuk siapapaun. Namun nyatanya wabah eksklusifisme dan elitisme merambah begitu subur di pendidikan Indonesia. Mereka yang berkemampuan rendah mendapatkan pelayanan seadanya, dan bagi mereka yang mempunyai kemampuan unggul menjadi prioritas. Lihat saja realita yang ada, sekolah unggulan hanya menerima murid yang telah lulus tes masuk  dan karena sekolah unggulan, maka bantuan dari pemerintah begutu mudah diberikan. Pertanyaannya, bagaimana dengan mereka yang berkemampuan rendah? Apakah mereka tak berhak untuk menikmati sekolah unggul dengan pendidik yang handal? Mereka hanya mendapat pelayanan seadanya dan guru yang seadanya. Belum lagi fenomena tentang pendidikan yang disamakan layaknya kereta api, ada kelas ekonomi dan eksekutif. Bagi yang siap membayar mahal, maka pelayanan pendidikannya juga akan unggul. Ah, tak bisakah diubah?
  2. Konsep penilaian angka. Selama ini yang menjadi patokan adalah angka, nilai yang didapat adalah hasil kecerdasan murid berdasarkan kecerdasan kogitif. Label cerdas, bodoh dan sebagainya muncul dan dikategorikan dengan berdasarkan angka. Padahal setiap orang mempunyai kemampuan sendiri-sendiri, dan inilah yang tak disentuh di sekolah di negeri kita. Seolah bahwa semua manusia itu sama, sehingga mereka akan berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Akibatnya, bagi mereka yang berkemampuan standar, ia akan melakukan berbagai cara mulai dari menyotek dan bertanya kepada temannya. Bukankah ini adalah proses melemahkan rasa percaya diri? Pun demikian dengan mereka yang telah mendapat nilai tertinggi, mereka hanya mempertahankan dan berada pada zona nyaman. Ini adalah proses belajar yang “semu”, sehingga ia akan belajar dengan cara instan mulai dari menjawab soal, les, berlatih memilih jawaban dan bahkan mencari jalan pistan lainnya. Akibatnya, mereka akan takut tersaingi dan takut dengan kegagalan.

Itulah sedikit yang saya tangkap dari membaca buku karya Zulfikri Anas, buku yang berisi tentang berbagai permasalahn pendidikan yang ada di Indonesia. Sebenarnya banyak gagasan dan ilmu yang ada di buku tersebut, namun karena keterbatasan akan ingatan apa yang saya baca, maka catatan di atas setidaknya memberikan refleksi untuk selanjutnya di pelajari lagi.

Banjarnegara, 05 Nopeber 2014

You Might Also Like

0 comments: