Leader in Action, Pembelajaran dari Para Maestro

13:53:00 Add Comment
Leader in Action
Leader in Action, Pembelajaran dari Para Maestro demikianlah nama judl buku yang berisi tulisan-tulisan dari Bapak Subarto Zaini. Buku ini berisi mengenai konsep kepemimpinan yang bisa dijadikan referensi atau mungkin bisa juga menjadi bacaan wajib bagi yang menginginkan untuk menjadi seorang leader. Gagasan-gagasan segar yang ada di buku ini akan tetap relavan meskipun waktu semakin berubah. Gagasan yang di olah dari pergualatan dan pengalamannya selama menapaki jejak kehidupan, meniti karier yang dari proses itu banyak sekali ilmu dia dapat.
Buku ini adalah buku yang berisi kumpulan artikel yang di tulis oleh Bapak Subarto Zaini secara rutin satu bulan sekali, di Majalah Business Review. Ia mengelola Kolom “Kepemimpinan” di majalah itu sejak Maret 2004. Sejak saat itu hingga Februari 2011, ia telah menulis 83 artikel. Seluruh artikel itu di baca oleh tim editor dari Penerbit PT Elex Media Komputindo dan dipilah-pilah sehingga menjadilah sebuah buku yang bertajuk Leader in Action, Pembelajaran dari Para Maestro.
Akupun cukup tertarik dengan gagasan yang ada di dalam buku ini. Kehidupan yang aku alami sekarang sabagai ketua pc ipnu Banjarnegara periode 2014-2016 membuatku harus banyak belajar mengenai kepemimpinan yang salah satunya adalah dengan membaca buku. Dan buku ini cukup membantuku sebagai referensi untuk memprkatekannya dalam organisasi. Tak hanya itu, kecenderunganku untuk bisa tampil sebagai pribadi yang mampu memimpin dan bermanfaat membuatku harus terus belajar dan belajar.
Catatan Kecil

Tentunya gagasan yang sangat banyak dalam buku tersebut tak mampu aku ingat semua, melainkan ada beberapa pemikiran yang mungkin sesuai dengan keondisi yang aku alami. Atau menurutku penting sehingga aku sengaja mencatat dan mendokumentasikannya dalam tulisan ini. Diantara catatan-catatan tersebut adalah :
  • Tugas pemimpin adalah memutuskan.
  • Konsep kepemimpinan Ki Hajar Dewantara (Ing Ngarso Sun Tuladha, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani).
  • Konsep Kepemimpinan Kaki Lima (K5)
  • Karakter (meliputi integritas dan kejujuran, amanah, memiliki misi kedepan, autentik/asli/murni/bukan munafik)
  • Komitmen (yaitu tekad yang kuat untuk memncapai sesuatu walaupun halangan dan tantangan menghadang)
  • Kerjasama (meliputi pengurus, anggota dan stakholder)
  • Kompetensi/Kemampuan (membangun kepercayaan, meyakinkan orang lain, menjalin komunikasi efektif)
  • Konsistensi (istiqmah dan berkesinambungan dalam menjalankan program kerja)
  • Konsep Kepemimpinan Holistik yaitu pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang berkaitan dengan potensi yang dimilikinya, meliputi PQ (potensi fisik), EQ (potensi perasaan untuk berinteraksi dengan orang lain), IQ (potensi kecerdasan) dan SQ (Kecerdasan spiritual).
  • Holistik ini berasal dari kata whole yang berarti utuh, lengkap, sempurna, menyeluruh, terpadu dan tidak terpecah-pecah.
  • Karakter seorang pemimpin dilihat dari gaya Gus Dur (Human-pembela kaum tertindas, Humble-rendah hati, Humour-berjiwa humoris).
  • Prinsip kepemimpinan Nelson Mandela
  1. Watak pemberani dan tak kenal ragu
  2. Memimpin di depan tanpa meninggalkan pendukung
  3. Menggembala dari belakang
  4. Kenali musuh anda, apa kekuatan dan kelemahan meraka. Bandingkan dengan kekuatan dan kelemahan kita. Kembangkan strategi setelah kita benar-benar mengenali mereka.
  5. Rangkul musuh-musuh kita atau menurut filosofis jawa “menang tanpa ngasorake”. Jangan usir mereka, berikan mereka pujian atas perbuatan mereka. Setelah mereka ettersanjung, baru lakukan negosiasi untuk mengambil keuntungan dari mereka.
  6. Pemimpin harus tampil menarik dan selalu ingat kapan harus tersenyum. Tetapi, tentunya senyum yang autentik/asli. Bukan senyum yang tidak tulus dan dipaksa, sehingga terkesan munafik.
  7. Dalam politik, tidak ada hitam atau putih. Semuanya abu-abu. Jadi, seorang pemimpin harus diplomat, luwes dan penuh empati.
  8. Pemimpin harus tahu kapan harus mundur.
  • By Your Best. Jadilah yang terbaik. Menjadi sopir taksi, pegawai atau apapun jadilah yang terbaik.
  • Apapun warna kucingnya, asalkan dapat menangkap tikus, itu tidaklah masalah.
  • I Have a Dream. Bermimpilah dan rasakan bahwa engkau telah mencapainya.
  • Flexathy : fleksibel dan empati.
  1. Know Your Self : Kenali gaya sosial diri sendiri, kekurangan dan kelebihannya.
  2. Know The Other : Kenali gaya sosial orang lain baik itu atsan atau bawahan.
  3. Control Your Self : Kendalikan diri sendiri.
  4. Do Something for the other : Pahami dan penuhi kebutuhan gaya sosial pihak lain.
  • Don’t say “Yes” When You want to say “No”. Cara untuk menghilangkan budaya sungkan (ewuh pikewuh) atau ketidakmampuan mengatakan tidak.
  1. Pahami, bahwa berkata “tidak” dengan nyaman merupakan suatu ketrampilan. Dan setiap ketrampilan membutuhkan latihan.
  2. Mempunyai peta tentang pola penggunaan waktu. Yang penting dan mendesak, atau yang tidak penting dan tidak mendesak.
  3. Tingkatkan kemandirian. Menghilangkan “need for approval” dari pihak lain. Mana mungkin kita mampu berkata “tidak” kalau kita selalu membutuhkan persetujuan orang lain untuk setiap tindakan.
  4. Untuk berkata tidak kita akan selalu berhadapan dengan ketidaknyamanan. Apakah kita lebih memilih untuk meneriama ketidaknyamanan saat kita berkata “tidak”, atau kita lebih memilih untuk menunda ketidaknyamanan yang lebih besar dengan mengiyakan apa yang diminta oleh orang lain.
    Alur Visi Misi
  • Misi (berkaitan dengan apa dan bagaimana. Visi (berkaitan dengan suatu keadaan yang diimpikan di masa depan).
    Penjelasan Gambar
  • Kreatifitas adalah bagaimana mengerjakan sesuatu dengan lebih baik.
  • Inquiry adalah kebiasaan untuk selalu bertanya dan memiliki sikap keingintahuan.
  • Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik kita nyalakan lilin.
  • Suatu perjalanan seribu mil dimullai dengan satu langkah. (Lao Tzu)
  • Yang kuat itu lemah, dan yang lemah itu kuat.
  • Hukum alam, menjalani hidup sesuai dengan hukum alam, mendidik sesuai dengan hukum alam.
  • Tujuh kaidah menurut Deepak Chopra :
  1. Potensi diri yang berasal dari roh/jiwa/diri pribadi. Self power yang berasal dari Tuhan sedangan ego berasal dari lingkungan.
  2. Kaidah memberi.
  3. Kaidah sebab akibat
  4. Kaidah upaya minimum.
  5. Kekuatan niat dan keinginan.
  6. Anti kelekatan pada apa yang dimiliki.
  7. Dharma atau tujuan hidup.
    Arti Strategi

Minggu, 23 Nopember 2014 23:13
Itulah sedikit catatan yang kiranya menurutku penting. Dan karena ini adalah catatan, maka akupun menuliskannya dengan singkat atau garis besarnya saja. Sehingga bagi yang ingin lebih tahu maka bacalah buku tersebut. Jika tidak punya bukunya, maka pinjam ke teman atau ke perpus. Seperti halnya diriku, buku ini saya pinjam di perpusda Banjarnegara. Sebenarnya deadline untuk mengembalikannya tanggal 20 Nopember 2014, namun karena berbagai kesibukan akhirnya selesai membacanyapun molor sampai tanggal 23 Nopember 2014.
Catatan Unik

Demikian, semoga bermanfaat.
Banjarnegara, 26 Nopember 2014.



Jumpa Novelis dengan Kang Aguk Irawan MN

06:59:00 Add Comment
Bapak Nurul Mubin, Kang Aguk Irawan MN, Mas Haqqy al-Anshory
Kamis, 20 Nopember 2014 bertempat di Gedung BEM UNSIQ sebuah acara Jumpa Novelis dengan tema ‘Bedah Novel Maha Cinta’ karya Kang Aguk Irwan MN berjalan dengan lancar. Aku bersyukur bisa mengikutinya, walaupun pada awalnya sempat ragu ikut atau gak. Karena telah terjangkit penyakit ikut-ikutan, jika dia gak ikut maka saya juga gak ikut pun sebaliknya. Dan inilah yang kadang juga membuatku gelisah. Kenapa? Karena hidup kita berpacu dengan orang lain dan ini sangat membahayakan. Dan yang perlu diingat bahwa semua orang mempunyai jalan takdir yang berbeda dan untuk menajalan takdir, maka prosesnya juga harus berbeda. Jika teman kita kaya, apakah kita akan kaya? Tidak, jika kita tidak pernah berusaha. Kesuksesan dan masa depan hidup kita itu sepenuhnya berada pada kita sendiri bukan pada orang lain.
Selesai dalam 7 Hari
Dalam pertemuan tersebut, ia memaparkan tentang Novel Haji Backpacker yang diilhami oleh kisahnya dengan teman-temannya untuk haji nekad. Tentang Sang Kyai yang ia tulis dengan mendatangi kyai satu persatu. Kemudian yang tentang Wonosobo adalah Maha Cinta. Sebuah novel yang mengambil latar di daerah sembungan dengan keindahan puncak Sikunir. Novel ini terinspirasi oleh sebuah gambar atau tulisan yang menceritakan tentang keindahan Sikunir saat ia berada di pesawat terbang. Walaupun belum pernah kesana, ia bisa menuliskannya dalam sebuah novel setebal 450 halaman. Dan yang lebih menakjubkan, novel ini ia tulisa dalam waktu 7 hari.
Suasana peretmuan Jumpa Novelis

Pertemuan yang dipandu oleh Mas Haqqy, pemimpin redaksi Tabloid Taman Plaza berjalan dengan meriah dan antusias, ini ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang muncul dari para mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut. Tak ketinggalan, akupun ikut menyumbang pertanyaan. Dan ini menjadi kebanggaan tersendiri buatku. Alasannya, karena aku telah berani menunjukan diri saya setidaknya di tempat dimana di sana banyak yang belum aku kenal.
Pak Nurul Mubin juga hadir disana. Dosen yang pernah mengajarku waktu semester 2, dan sebagaimana dosen-doesn lain yang cukup memotivasi, ia lebih banyak meninggalkanku dan teman-teman untuk belajar sendiri kelas.
Sebelum acara ditutup, ada pembacaan puisi oleh temannya Kang Aguk yang berada di sanggar Nun dan juga oleh Mas Taufiq dari Teater Banyu Unisq.
Pembacaan Puisi

Jam lima kurang 10 menit acara ditutup dan bagai lebah yang melihat bunga, mahasiswa yang ikut dalam pertemuan tersebut menyerbu Kang Aguk Irawan untuk meminta tanda tangan dan berfoto. Dan lagi-lagi, aku juga tak mau ketinggalan. Aku meminta tanda tangan di buku note yang berisi catatan selama pertemuan, di Buku Novel Maha Cinta yang baru saya beli dan ikut foto bareng tentunya. Walau tidak fokus karena di sambi dengan menanda tangai buku-buku yang diajukan kepadanya, namun cukuplah menjadi kebanggaan tersendiri bisa foto bareng dengan Novelis terkenal yang karyanya sudah di jadikan film dan diputar di bioskop.
Tanda tangan Kang Aguk di Novel Maha Cinta

Catatan Kecil dengan Tanda tangan Kang Aguk Irawan

Fobo bersama Kang Aguk Irawan MN

Kata-kata yang cukup menyentuh adalah ketika ia menceritakan perihal kehilangan mobilnya. “Apalah arti memilki, jika tubuh kita saja sebenarnya bukan milik kita”.

Banjarnegara, 21 Nopember 2014
Seperti Langit Mendung

Seperti Langit Mendung

18:31:00 Add Comment
Sore kemarin saat ingin berkunjung ke rumah Bu Istinganah, saya mampir dulu ke rumahnya Faizal. Karena hujan turun cukup lebat dan Shobah tidak mempunyai mantel, maka kami memutuskan untuk memakai mobilnya Faizal. Di pasar Mandiraja Khasanah telah menunggu, akan tetapi ketika saya sms di mana posisinya, tak kunjung ada balasan. Sehingga sewaktu sudah sampai di perempatan kami langsung saja ke tempat Bu Is.
Khasanah yang sedari tadi menunggu ternyata minta di jemput dengan alasan hujan dan tak jelas kerena berkaca mata. Sebagaimana tulisan di atas yang tak kunjung ada balasan, ternyata sms nya telat. Kami yang sudah terlanjur di depan rumahnya Bu Is langsung masuk. Cukup kaget dan gak enak di sana, karena ternyata Bu Is baru saja mengisi pengajian dan sedang istirhat. Maka setelah meminta tanda tangan, kami langsung pulang.
Setelah itu kami mengunjungi Khasanah. Sampai di sana ia masih menunggu dan setelah saya beritahukan bahwa kami sudah dari tempat Bu Is, ia langsung menekuk wajahnya. Tak ada tawa ataupun canda, hanya keseriusanlah yang menyelimuti. Layaknya mendung di langit tanda mau hujan. Alasannya, karena sudah menyempatkan waktu padahal cukup jauh jaraknya, hujan lagi.
Ya, itulah pengalaman yang saya dapat sore itu. Mungkin memang perlu hati samudra dan legowo bagi seroarang pemimipin. Yang kadang sesuatu yang tak pernah kita sangka dan menjengkelkan kita alami.

Banjarnegara, 14 Nopember 2014
Mungkinkah Aku Tertarik dengan One Piece?

Mungkinkah Aku Tertarik dengan One Piece?

09:38:00 Add Comment
Malam ini adalah malam dimana aku menyelesaikan film serial kartun One Piece sampai episode yang ke-20. Awlanya aku gak tertarik si, namun ketika mendengar cerita dari M. Reyzan teman sekelasku di kampus (penggemar One Piece) yang mengatakan bahwa film ini bercerita tentang impian, persahabatan dan politik. Mendengar kata politik, aku menjadi penasaran dan ingin melihatnya. Maka akupun meminta kepadanya untuk mengcopy kan di flashdish, dan sebagai awalan saya meminta dari part 1-20 dulu. Aku memintanya sewaktu sedang menyaksikan pertandingan futsal Kamis lalu antara kelasku dengan kelas E, tepatnya di Alur.
Sebagai hiburan, maka ketika ada waktu luang aku gunakan untuk menontonnya. Cukup menyita waktu sebenarnya dan jadwal untuk membaca buku sedikit terganggu. Ah, memang itulah efek dari menonton film. Dan mungkin lain kali bisa lebih baik dalam mengatur waktunya. Bolehlah menonton, asalkan waktu untuk hal lain yang bermanfaat juga tak boleh hilang.
Menarik. Mungkin itulah kesanku saat menonton part 1, dan karena ceritanya bersambung tentunya ada rasa penasaran untuk mengetahui cerita selanjutnya. Walhasil, itulah yang aku alami sehingga selesai juga sampai part yang ke 20.
Sisi negatif memang ada, akan tetapi ada juga sisi positif yang bisa saya ambil dari menonton film tersebut. Pertama, tahu jalan ceritanya dari awal. Kedua, mempunyai gambaran ketika ingin menulis sebuah cerita dengan gaya alur maju mundur. Ya, sebuah keahlian untuk menggambarkan tentang kehidupan sekarang yang disisipi dengan keadaan masa lalu. Ketiga, tentang impian. Itulah yang di miliki oleh para pemain utama one piece. Monkey D. Luffy dengan impian menjadi Raja Bajak Laut, Zoro dengan impian menjadi pendekar pedang terhabat di dunia, Nami dengan impiannya untuk mendapatkan banyak harta karun dan Ussop-san dengan impian menjadi bajak laut yang terinspirasi ayahnya. Setidaknya itulah yang menjadi ruh perjalanan Luffhy dkk di lautan bebas. Keempat, kerja keras lebih dari yang lain, hasilnyapun melebihi yang lain. Ini saya dapat dari film part ke-19, tentang cerita masa lalu Zoro ketika masih kecil yang datang ke sebuah padepokan menantang bertarung kepada penghuninya. Sesuai perjanjian, karena dia kalah maka diapun menjadi murid dan berlatih di padepokan tersebut.
Kauni, itulah nama perempuan yang mengalahkannya. Dia putri dari guru di padepokan tersebut, karena sudah terlatih dari kecil maka Zoropun dengan mudah dikalahkannya. Hingga setiap bertanding dia pasti kalah. Dari kekelahannya itulah Zoro berlatih dengan tekun dan melebihi yang lainnya sehingga dari waktu ke waktu ia menjadi tambah kuat. Pun begitu dengan Kauni, gadis yang benci dengan kekalahan dan mempunyai ambisi untuk menjadi pendekar yang hebat iapun berlatih dengan tekun dan semakin hari semakin kuat. Inilah yang menjadikannya selalu menang ketika mengahdapi Zoro sampai 201 kali.
Sebanarnya masih banyak yang bisa di tuliskan disini, namun karena waktu sudah begitu larut maka aku cukupkan tulisan ini sampai disini. Sebagai refleksi dan untuk melatih agar bisa menjadi penulis seperti yang aku impikan.

Pringamba (Sigaluh, Banjarnegara), 10 Nopember 2014. 00:57
Hari ke 1000 Meninggalnya Mbahku

Hari ke 1000 Meninggalnya Mbahku

09:34:00 Add Comment
Malam ini pada tanggal 10 Nopember 2014, keluargaku mengadakan selametan untuk memperingati hari ke 1000 meninggalnya Mbah Marto Diwiryo, mbahku. Biasanya orang menyebutnya dengan nama “nglempar”. Selametan tersebut diadakan di tiga tempat, Ba’da maghrib di Kemiri tempatnya lik Ripyanto. Ba’da isya di tempat lik Haryanto dan setelah itu di tempatnya lik Nur Ikhsan.
Minggu lalu, ada kejadian cukup aneh menjelang persiapan acara nglempar. Kejadian itu adalah waktu Markum, tetanggaku yang mau membayar listrik ke Karangmangu, oleh ayahku disuruh untuk ke banjar melihat kalau-kalau ada penjual “Kijing” atau “Paesan”, sebagai tanda yang diletakan diatas kuburan seseorang. Tanpa menyanggah, iapun melakukan seperti yang dikatakan oleh ayahku. Maka sewaktu Markum sudah sampai di toko penjual paesan, ia mencoba menelpon lik Nur Ikhsan samapai tiga kali namun tak terhubung. Karena belum punya kepastian mau beli atau tidak, maka Markumpun berkata kepada penjual paesan sebelum meninggalkannya, “Jika jadi beli, maka nanti ada yang kesini, masalahnya yang bersangkutan dihubungi tidak nyambung”.
Sampai di balaidesa yang kini mau dibangun lagi, Markum bertemu dengan Likku, Nur Ikhsan. Terjadilah percakapan antara keduanya perihal masalah diatas. Likku yang katanya di hubungi gak nyambung, tak pernah mematikan Hp, pun demikian tak ada panggilan masuk seperti yang dikatakan oleh Markum bahwa ia telah mencoba menghubunginya sampai tiga kali. Anehnya, ketika dicoba dihubungi lagi ternyata nyambung. Awalnya aku menganggap bahwa itu mungkin ganngguan sinyal atau mungkin hp nya yang eror.
Karena Lik Nur Ikhsan tak terlalu mengurusi masalah tersebut, maka ia menyuruh Markum untuk menemui Lik Haryanto. Disinilah yang membuatku cukup kaget dan pikiranku melayang-layang. Setelah Markum berbincang-bincang dengan Lik Haryanto, ternyata mbahku menemui Lik Haryanto yang katanya tak mau dibelikan. Karena itulah, ia menyuruh Markum untuk membeli semen dan membuat sendiri tanda kuburan tersebut. Ya, itulah yang terjadi. Mbahku menginginkan keturunannya yang membuatnya sendiri dan bukan orang lain.

Pringamba (Sigaluh), 11 Nopember 2014. 00:47
Diklatama Part I

Diklatama Part I

22:14:00 Add Comment
Senin, 03 Nopember 2014 bersama dengan Mislam sowan ke tempat Ayahnya pak Khozin. Satu ilmu baru yang kami dapat adalah konsep "Lana A'maluna wa lakum A'malukum" adalah sesuatu rujuakan bagi mereka yang sudah tak bisa bergerak dan kuasa untuk mengubah sesuatu.
Setelah itu kami sowan ke tempat Bapak Karyono.
*
Rabu, 05 Nopember 2014 bersama dengan kang Mislam pergi ke Sukayasa untuk memesan Kaos CBK KKP di tempat Bapak Khoirin. Di sana satu ilmu yang kami dapat adalah tentang sistem pendidikan di pesantren yang di asuh oleh Almarhum Al-Maghfurlah KH. Sahal Mahfudz. Untuk lulus SMA, harus menghabiskan waktu selama 6 tahun. Di sana yang di pake adalah kurikulum Timur Tengah bukan seperti kebanyakan sekolah yang ada di Indonesia.
*
Jum'at, 07 Nopember 2014 bersama dengan Eman Setiadi pergi ke Mandiraja untuk menemui Bu Istinganah, namun beliau tak ada di rumah.
Banjarnegara, 07 Nopember 2014

Benarkah Sekolah Bermanfaat?

07:07:00 Add Comment
Sekolah untuk Kehidupan
Sekolah adalah masa-masa persiapan untuk menghadapi dunia nyata. Maka seyogyanya apa yang dipelajari di sekolah adalah sesuatu yang akan dihadapi di dunia nyata. Namun, apakah sekolah selama ini mengajarkan sesuatu yang akan dihadapi di dunia nyata? Saya rasa itu masih jauh dari harapan, karena yang saya alami selama ini sekolah hanya membuat kita menghabiskan waktu untuk mempelajari teori yang diualang-ulang mulai dari SD, diulang lagi di SMP, di ulang lagi di SMA dan tak ketinggalan di ulang lagi di Kampus. Setidaknya itu yang aku rasakan.
Pelajaran yang sebegitu banyaknya di pelajari hanya bagian terluarnya saja tanpa ada yang mendalam, akibatnya peserta didik lupa yang dipelajari ketika telah proses belajar di kelas selesai. Dan yang cukup menyiksa adalah saat peserta didik akan melaksanakan ulangan baik itu Mid Semester, Ulangan Tengah Semester, Ulangan kenaikan kelas dan puncaknya adalah saat Ujian Akhir Sekolah. Peserta didik harus di menguasai pelajaran yang diajarkan dari kelas selama tiga tahun (untuk tingkat SMP dan SMA), terus selama ini yang dipelajari menguap layaknya air yang didihkan.
Benarkah sekolah itu manfaat? Entahlah, saya sendiri masih merasa bingung untuk mengidentifikasikan apa manfaat sekolah selama ini. Pun begitu dengan Zulfikri Anas sebagaimana yang terangkum dalam bukunya Sekolah Untuk Kehidupan, Gagasan Awal untuk Berpikir Ulang tentang Sisem Pendidikan Kita dan Memahami Posisi Kurikulum. Buku yang berisi catatan hasil penelusuaran di berbagai penjuru negeri. Sebuah tulisan untuk memperjuangkan inklusifisme pendidikan dan menjauhkan dari eksklusifisme dan elitisme pendidikan yang sudah mewabah.
Ada beberapa hal yang saya tangkap dari membaca buku karya Zulfikri Anas tersebut, diantaranya adalah :
  1. Inklusifisme pendidikan, bahwa pendidikan itu terbuka untuk siapapaun. Namun nyatanya wabah eksklusifisme dan elitisme merambah begitu subur di pendidikan Indonesia. Mereka yang berkemampuan rendah mendapatkan pelayanan seadanya, dan bagi mereka yang mempunyai kemampuan unggul menjadi prioritas. Lihat saja realita yang ada, sekolah unggulan hanya menerima murid yang telah lulus tes masuk  dan karena sekolah unggulan, maka bantuan dari pemerintah begutu mudah diberikan. Pertanyaannya, bagaimana dengan mereka yang berkemampuan rendah? Apakah mereka tak berhak untuk menikmati sekolah unggul dengan pendidik yang handal? Mereka hanya mendapat pelayanan seadanya dan guru yang seadanya. Belum lagi fenomena tentang pendidikan yang disamakan layaknya kereta api, ada kelas ekonomi dan eksekutif. Bagi yang siap membayar mahal, maka pelayanan pendidikannya juga akan unggul. Ah, tak bisakah diubah?
  2. Konsep penilaian angka. Selama ini yang menjadi patokan adalah angka, nilai yang didapat adalah hasil kecerdasan murid berdasarkan kecerdasan kogitif. Label cerdas, bodoh dan sebagainya muncul dan dikategorikan dengan berdasarkan angka. Padahal setiap orang mempunyai kemampuan sendiri-sendiri, dan inilah yang tak disentuh di sekolah di negeri kita. Seolah bahwa semua manusia itu sama, sehingga mereka akan berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Akibatnya, bagi mereka yang berkemampuan standar, ia akan melakukan berbagai cara mulai dari menyotek dan bertanya kepada temannya. Bukankah ini adalah proses melemahkan rasa percaya diri? Pun demikian dengan mereka yang telah mendapat nilai tertinggi, mereka hanya mempertahankan dan berada pada zona nyaman. Ini adalah proses belajar yang “semu”, sehingga ia akan belajar dengan cara instan mulai dari menjawab soal, les, berlatih memilih jawaban dan bahkan mencari jalan pistan lainnya. Akibatnya, mereka akan takut tersaingi dan takut dengan kegagalan.

Itulah sedikit yang saya tangkap dari membaca buku karya Zulfikri Anas, buku yang berisi tentang berbagai permasalahn pendidikan yang ada di Indonesia. Sebenarnya banyak gagasan dan ilmu yang ada di buku tersebut, namun karena keterbatasan akan ingatan apa yang saya baca, maka catatan di atas setidaknya memberikan refleksi untuk selanjutnya di pelajari lagi.

Banjarnegara, 05 Nopeber 2014

Beli Buku lewat Internet

21:16:00 Add Comment
Sampul Kiriman 
Hari ini buku yang aku pesan secara online telah sampai di tanganku. Buku tersebut berjudul Ijtihad Politik Ulama, Sejarah NU 1952-1967. Buku ini adalah buku pertama yang aku beli secara online, ya untuk pertama kalinya aku melakukan transaksi jual beli melalui teknologi internet dengan bermodal kepercayaan.
Buku yang Aku Pesan
Awalnya aku tanpa sengaja melihat buku tersebut di upload oleh amin fb Lkis. Karena tertarik, maka aku bertanya lewat komentar berapa harga dan bagaimana pemesannya. Beberapa hari setelahnya, komentarku mendapat konfirmasi dan suruh untuk tindak lanjut lewat inbox. Maka akupun bertanya lewat inbox dan setelah mendapat kepastian tentang harga dan ongkir, aku mengirim uang seharga buku dan ongkir lewat ATM.
Awalnya aku sedikit kecewa karena buku yang ku pesan tak sampai-sampai juga. Bahkan beberapa kali aku sms menanyakan kok gak sampai-sampai. Karena bosen bertanya terus, aku membiarkannya saja dan sempat terpikir untuk menuliskannya di internet kalau bukunya gak sampai. Namun, semua itu berubah ketika tadi siang bukunya telah sampai dan ada perasaan senang tumbuh di hati layaknya tumbuhan ydi musim semi.

Banjarnegara, 04 November 2014

Bermalam di Asy-syuja’iyah

16:22:00 Add Comment
Haflah PPTQ Al-Asy'ariyah
Hawa dingin serasa menusuk ke pori-pori kulit ketika aku terbangun dari tidur. Hawa dingin yang khas karena memang seperti itulah keadaannya dan itu sudah terkenal di mana-mana bahwa Wonosobo udaranya dingin. Ya, malam ini aku bermalam di Pon-pes Asy-syuja’iyah Munggang, Wonosobo. Pondok dimana salah seorang temanku yang bernama Miftahudin (teman semasa pondok dulu) berada di sini sehingga aku merasa santai dan bisa mampir sewaktu-waktu aku mau.
Aku merasa mengulang masa awal masuk kuliah, yaitu saat dimana aku mengikuti ospek dan kerena jadwal harus pagi maka tak mungkin aku berangkat dari Sigaluh, sehingga aku memilih untuk menginap di pondok Asy-Syuja’iyah ini. Dan masih segar dalam ingatan, aku berangkat malam-malam sekitar pukul 12. Berbeda kali ini, aku menginap karena ingin menyaksikan acara Haflah Pon-pes Asy’ariyah yang ke 37 dan Haul Mbah Muntaha yang ke 10. Selain itu, perkuliahan hari senin yang hanya satu makul dan baru selesai pukul 15. WIB tak mungkin aku pulang dulu ke Banjarnegara kemudian nanti malam ke Kalibeber lagi. Maka saya memilih pondok Asy-Syuja’iyah untuk tempat istirahat sebelum nantinya mengunjungi acara Haflah.
Acara Haflah yang tepat dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram ini berlangsung begitu ramai. Pengunjung datang dari berbagai daerah sesuai dengan alamat santri yang mondok di sana. Tatanan dekorasi yang unik dan telah di sesaki oleh santri dengan posisi layaknya tangga terlihat begitu rapi. Belum lagi dandanan setiap santri yang ada di panggung, mereka terlihat seragam dan menambah kemeriahan acara.
Lantunan ayat suci al-qur’an dari para khotimin bil ghoib menggema di berbagai ruangan ketika aku sampai tempat acara. Pemandangan yang membuat orang tua menjadi bangga dan pasti menginginkan anaknya seperti itu saat melihatnya. Dan aku hanya bisa mengangan-angan adakah kesempatan untuk melanjutkan dan menyelesaikannya? Entahlah, biarlah waktu yang menjawabnya.

Wonosobo, 04 Nopember 2014
Mengalahkan Rasa Takut

Mengalahkan Rasa Takut

22:42:00 Add Comment
Agenda terdekat saat ini adalah mengadakan diklatama. Kegiatan yang diharapkan akan menjaring kader baru dan bisa menyatukan kader-kader lama. Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan akhir Nopember bulan ini. Akan tetapi aku sedikit bingung antara melanjutkan dan tidak. Pasalnya, ketua panitia yang siap untuk meng back up segala keperluan ternyata berbelok haluan dan ingin konsentrasi dengan usaha yang sedang di rintisnya.
Sebegai seorang ketua, aku sedikit bingung dan ragu untuk melanjutkannya. Alasannya, mampukah aku melakukannya mengingat bahwa sebagian pengurus sudah sibuk dengan aktifitasnya sendiri-sendiri. Belum lagi nembusi tempat, nyebar proposal untuk meminta donatur, dan berbagai hal terkait persiapan kegiatan. Disinilah aku di uji.
Seberapa kuat dan beranikah diriku untuk melakukan kegiatan. Mengkonsep dan menyiapkan segela keperluan tanpa ketua panitia. Ujian untuk mengalahkan rasa takut dan belajar tentang keberanian. Karena aku menyadari aku masih terlalu lemah dan takut untuk melakukan sesuatu yang baru.
Inilah yang aku alami saat ini. Bingung karena memang dari sekian banyak pengurus, kebanyakan sibuk dengan aktifitasnya sendiri. Namun, aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa aku mampu dan masih banyak teman yang siap untuk membantu suksesnya kegiatan. Ya, aku yakin itu.

Banjarnegara, 02 Nopember 2014 
Rutinan di Binangun

Rutinan di Binangun

23:36:00 Add Comment
Siang tadi ketika aku masih berada di rumah, Imam sms “munggah ora?” aku merasa agak males sebenarnya. Namun aku menjawab dengan sms “Insya Allah”. Di saat suasana panas dan mungkin lebih baik bersantai di rumah, bisa saja aku berpura-pura lelah, banyak tugas dst. Hanya untuk melindungi diri agar tak memenuhi undangan rutinan di Binangun, Karangkobar.
Akan tetapi logikaku seolah menolak, jika aku tak memenuhi undangan maka suatu ketika aku mengundangnyapun mereka akan menolak. Selain itu, hati nuraniku berkata bahwa seorang ketua harus siap meskipun hanya sendiri. Dan itulah yang aku lakukan. Mislam yang biasanya bisa, katanya ada acara. Eman sudah ku sms dan miscal tak ada konfirmasi. Sedangkan Tarso katanya ada shif malam. Maka akupun memaksa diriku untuk pergi ke Karangkobar meskipun seorang diri.
Sebelumnya, akupun harus berhadapan dengan wajah seorang Ibu yang sedikit kecewa dengan tingkah anaknya. Kecewa bukan karena marah, tetapi kecewa karena baru sebentar di rumah sudah pergi lagi. Kebiasaanku yang membuatnya merasa kasihan dan dengan terpaksa membolahkannya. Oh, Ibu ... Maafkan anakmu ini yang tak punya banyak waktu untuk menghabiskannya di rumah. Hanya do’a dan ridho mu yang ananda harapkan.
***
Ba’da sholat asar aku meluncur ke Banjarnegara. Setelah itu sekitar pukul lima sore aku melanjutkan meluncur ke Karangkobar dan sampai di sana pas waktu maghrib.
Setengah tujuh sehabis sholat magrib, bersama dengan Ustadz Saiful Mutaqin dan Rekan Imam Muhlisin, aku berangkat ke Binangun tepatnya di rumahnya Rekanita Santi. Di sana Rekan dan Rekanita IPNU IPPNU Ranting Binangun telah berkumpul. Selang beberapa menit, pengajianpun dimulai yang dibuka oleh Rekan Imam. Sebagaiman tradisi orang NU, ketika ada perkumpulan di situ ada tahlil. Begitupun pengajian malam ini, tahlil tak lupa kami lakukan dan aku yang di suruh untuk memimpinnya.
Setelah tahlil, kini bagian Ustadz Saiful Mutaqin yang menyampaikan tausiahnya. Karena bulan ini adalah bulan Muharram, maka beliau menyampaikan keutaman malam ke 10 atau sering di sebut ‘Asyura. Hari dimana para nabi mendapatkan karunia besar dari Allah, betemunya Nabi Adam dengan Siti Hawa, selamtnya Nabi Nuh sewaktu terjadi banjir bandang, Nabi Ibrahim yang tak terbakar oleh api yang dinyalakan oleh Raja Namrud, selamtnya Nabi Isya dari penyaliban dan lain sebagainya. Ya, itulah yang Ustadz Saiful sampaikan.
***
Aku merasa bersyukur bisa ikut silaturahim ke Binangun, walaupun awalnya sedikit kesal mungkin karena harus sendiri. Dan itu bukan kali pertamanya. Namun, kekesalan itu hilang ketika aku melihat secerah cahaya atas semangatnya Rekan dan Rekanita IPNU IPPNU Binangun. Ada kepuasan tersendiri yang mungkin tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.

Banjarnegara, 02 Nopember 2014
Sekolah itu Penjara

Sekolah itu Penjara

22:35:00 Add Comment
Sore itu di beranda gedung hijau lantai dua, duduklah dua orang sahabat dengan ditemani segelas kopi dan sebungkus rokok filter. Terlihat kepulan asap keluar dari mulut keduanya ketika rokok yang ada di tangannya di hisap penuh kenikmatan.
Dalam keasyikannya menikmati pemandangan sore, Dudung membuka percakapan dengan bertanya kepada kepada Adit yang ada di sampingnya.
“Dit, saya kok merasa geram dan jengah dengan pendidikan yang ada di Indonesia. Sekolah itu seolah seperti penjara,” katanya sambil melemparkan pandangan ke langit.
Penjara? Maksud kamu Dung?” sergah Adit seketika.
“Gini lho Dit,” terhenti oleh seruputan kopi hitam yang agak kepahit-pahitan. “Penjara, kamu tahu kan? Di penjara itu semua tahanan di kurung dan gak bisa kabur. Jika mencoba kabur, siap-siap saja peluru penjaga akan memburu bagian tubuh tahanan” lanjutnya.
“Semua itu si tahu, bahkan bayi juga tahu” jawab Adit enteng. “Terus apa hubungannya sekolah dengan penjara?” tanyanya belum paham dengan alur pemikiran Dudung.
Kamu merasa gak si selama ini sekolah itu melakukan kita layaknya tahanan. Coba saja kamu pikir, kita di sekolah di jejali aturan mulai dari masuk sekolah, seragam, bahkan dalam pembelajaranpun begitu. Ketika tidak mematuhi siap-siap saja kena point, atau ketika kita tidak mengerjakan tugas siap-siap saja nilai tak keluar. Bukankah itu seperti penjara?” jalas Dudung kepada Adit.
Adit tak menanggapi lagi apa yang di ucapkan oleh Dudung. Ia hanya diam dan sesekali menggaruk-garuk kepala seolah sedang mencerna apa yang dipikirkan oleh Dudung.

Banjarnegara, 02 Nopember 2014
Aku dan IPNU

Aku dan IPNU

22:33:00 Add Comment
Minggu, 20 April 2013 bertempat di Pon-pes Al-Fatah dalam acara Konfercab IX, aku mendapat amanah untuk memimpin IPNU meneruskan periode kepemimipinannya Mas Mizanto. Ya, mulai saat itulah mau gak mau, bisa dan tidak bisa, dan siap gak siap, aku harus mengemban amanat teman-teman yang mempercayakannya kepadaku. Melestarikan ajaran Ahlussunah wal jama’ah.

Sebagaimana biasanya, seorang pengurus yang berada pada level ketua harus siap untuk di salahkan, di hujat, menjadi tameng dan tak dihargai usahanya. Bahkan yang lebih menyakitkan harus siap untuk di fitnah. Ya seperti itulah keadaan seorang pemimpin, selain harus siap tenaga, pikiran dan harta.

Tulisan ini hanyalah sekedar menjadi refleksi tentang apa yang aku lakukan, sebagai pertanggungjawaban atas amanah yang dibebankan kepadaku. Karena aku yakin bahwa mereka yang tak merasakan dan tak ikut dalam kepengurusan hanya akan berkomentar. Seharusnya seperti ini dan seperti ini.

Melalui tulisan yang sederhana ini, aku ingin mengenang yang aku lakukan. Setidaknya buat arsip yang sewaktu-waktu aku memerlukannya, aku tak repot mencarinya.

Banjarnegara, 02 Nopember 2014