Ilmu itu di simpan di Hati bukan di Laptop atau Flasdish

16:58:00 Mad Solihin 0 Comments

Drs. KH. Ikhwan Qomari, M.Ag. demikianlah nama dosen yang mengajar Makul Qiraatul Kutub Fiqih. Dalam pertemuan tertanggal 26 September 2014 beliau menyampaikan bahwa zaman sekarang banyak sekali orang menyimpan ilmunya di laptop bukan di hati. Padahal sejatinya ilmu itu di simpan di hati. Inilah yang membuatku kagum dan mungkin mengiyakan apa yang beliau sampaikan karena memang seperti itulah yang sering aku lihat.
Pernyataan diatas berkaitan dengan metode yang ia gunakan dalam pembelajaran. Berbeda dengan dosen yang lain, beliau menggunakan metode pesantren, beliau membaca kitab kemudian mahasiswanya ngasaf sahi (memberi harakat dan makna) kitab yang tanpa harakat alias gundul.
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren ITB Kalibeber, Wonosobo. Entah apa kepanjangannya, tapi seperti itulah kebanyakan orang menyebutnya.
###
Tidak ada manusia yang sempurna, itulah yang saya lihat dari beliau. Kenapa saya bilang begitu? Itu karena beliau masuk pukul 08.30 WIB, padahal di jadwal pukul 07.30 WIB. Awalnya aku tak suka dengan hal itu, belum lagi di tambah dengan digabungnya 2 kelas, kelas C dan D membuat suasana tak kondusif.
Jum’at lalu ada rapat evaluasi perkuliahan yang diikuti oleh seluruh komting kelas yang ada di FITK. Pada kesempatan itulah Akhmad Luhtfi Ali selaku komting kelas C mengadukan perihal masalah di atas. Terdiam. Seperti itulah ekspresi Ali ketika aduannya di jawab oleh Bapak Zuhdi. Beliau mengatakan bahwa Bapak Ikhwan Qomari memang orang sibuk dan bisa mendatangkan beliau termasuk keberkahan apalagi mau mengajar.
Mendengar jawaban dari Komting sontak aku menerawang ke budaya pesantren. Budaya “ ‘Alap berkah ” begitu kuat di dalam dunia pesantren, mungkin itulah yang dilakukan oleh FITK UNSIQ sebuah kampus yang notabane nya memang didirikan oleh Mbah Muntaha untuk mewadahi para santri Asy’ariyah agar tak tertinggal oleh perkembangan zaman. Zaman yang menuntut harus S1 atau bergelar sarjana. Karena tanpa gelar meskipun sepintar apapun belum tentu diakui kecerdasannya.
Mengenai keberkahan yang disampaikan oleh Bapak Zuhdi, anganku mencoba mencari analog untuk mendukungnya. Yaitu adanya kekuatan supranatural yang berada di luar diri manusia. Kekuatan supranatural itu tentunya ada pemiliknya. Maka tak heran jika beliau merasa beruntung dan termasuk keberkahan jika Bapak KH. Ikhwan Qomari mau mengajar di FITK, tak lain adalah karena Bapak KH. Ikhwan Qomari termasuk orang yang dekat dengan sang pemilik supranatural tersebut. Yang jika ia meminta, bukan hal yang sulit untuk sang pemilik supranatural itu mengabulkannya.

Banjarnegara, 21 Oktober 2014. 16:51 

You Might Also Like

0 comments: