Si Jago Merah Mengamuk di Pringamba

00:11:00 Add Comment
Warga lakukan Pemadaman 
Kamis pagi, 30 Oktober 2014 di Desa Pringamba Rt 03 Rw 01 Sigaluh terjadi sebuah kebakaran. Berawal dari tumpahan bensin yang mengalir sampai ke dapur yang langsung di sambut oleh api mengakibatkan rumah milik Bisro terbakar . Teriakan histeris dan suara isak tangis dari ibu-ibu yang melihat kejadian itu membuat suasana menjadi tegang dan panik.
Warga berhamburan datang dan langsung melakukan aksi untuk memadaman api yang berkobar menyulut rumah. Ada yang menggunakan ember dan menyiramkan air, ada yang mencari pohon pisang, ada yang menggunakan pasir dan ada juga yang menggunakan tanah yang sebelumnya telah di siram dengan air.
Beruntung bahwa hari itu penduduk sedang bekerja bakti di lapangan sehingga waktu ada informasi kebakaran, mereka langsung berlari untuk ikut memadamkan kebakaran tersebut. Entah bagaimana jadinya jika penduduk sedang tersebar di berbagai tempat, di ladang-ladangnya masing-masing. Bisa dipastikan tak hanya satu rumah yang terbakar, apalagi rumah yang berada di sebelah utaranya terbuat dari kayu. Mungkin hanya tangis ibu-ibulah disertai dengan teriakan minta tolong tanpa mampu berbuat apa-apa kecuali hanya melihat kobaran api membesar dan meluluhlantahkan semua yang dilewatinya.

Dalam kepanikan tersebut, mobil pemadam kebakaran katanya sulit di hubungi. Itulah yang dikatakan oleh seorang warga yang mencoba menghubunginya. Dan mungkin ini juga menjadi catatan kepada petugas pemadaman kebakaran bahwa mereka harus stanbay setiap saat karena musibah kebkaran tak bisa di prediksi kapan akan terjadi. 
Guru Sekolah Swasta Lebih Hebat dari Negeri

Guru Sekolah Swasta Lebih Hebat dari Negeri

00:40:00 Add Comment
Tulisan ini bukan bermaksud untuk membandingkan antara yang hebat dan tidak hebat, walaupun mungkin judulnya terkesan seperti itu. Hanya sebuah refleksi atas pengalaman silaturahim kepada salah satu guru yang kebetulan mengajar di sekolah swasta, sebut saja Bu Sri.
Tentunya bukan tanpa adanya alasan dan fakta sebuah gagasan itu terlontar. Gagasan ini muncul ketika Bu Sri menceritakan pengalamannya selama mengajar di sekolah swasta. Berawal dari pertanyaan yang saya ajukan mengenai bagaimana kurikulum 2013 itu diterapkan di sekolah, beliau mengakui bahwa kurikulum 2013 itu masih membingungkan dan tidak terlalu cocok di terapkan di sekolahnya. Alasannya, karena memang beliau belum sepenuhnya memahami seperti apa kurikulum 2013 itu. Dan baru sekali ia mengikuti pelatihan, itupun hanya pengenalan belum secara mendetail.
Alasan lainnya adalah berkaitan dengan jam pelajaran yang di tambah sampai jam ke sembilan sehingga memaksa siswa untuk pulang lebih sore. Pulang sore, itulah kendalanya. Kenapa? Karena kebanyakan siswa di sana adalah anak pedesaan yang jika kesorean maka tak ada angkutan umum yang akan mengantarkan mereka. Pernah suatu kali ada keadaan ekstrakurikuler sampai sore, maka siswa yang tinggal di pedesaan itu harus menunggu lama mobil angkutan umum. Dan yang paling memprihatinkan, mereka pulang berjalan kaki dengan jarak yang jika di tempuh dengan sepeda motor bisa sampai 20 menit.
Selain itu, metode mengajar kurikulum 2013 yang mengharuskan siswa untuk aktif belum bisa diterapkan di sekolahnya karena kondisi siswa yang memang belum siap dan lebih sering disuapi layaknya seorang anak kecil. Mungkin jika membaca tulisan ini, pembaca akan menyimpulkan betapa rendahnya kualitas siswa. Namun ada satu faktor sosiolagis yang perlu diketahui, bahwa mereka bukanlah anak seorang yang kaya akan harta. Pekerjaan sebagai petani jagung, padi dan ketela bukanlah jaminan setiap bulan orang tua mereka mendapatkan penghasilan yang tetap, akibatnya merekapun tak punya aksesoris mahal layaknya mereka yang sekolah di negeri. Ini berimbas kepada ketidaksiapan proses belajar dengan metode kurikulum 2013 yang mengharuskan untuk aktif. Bagaimana mau aktif, sumber informasi internet yang menjadi andalan diskusi bagi siswa tak bisa mereka akses tidak seperti mereka yang ada di sekolah negeri.
Warnet? Inipun bukan solusi yang tepat. Uang saku yang hanya Rp. 5.000 pun sudah buat Pulang Pergi Rumah-Sekolah. Darimana Bu Sri tahu uang saku hanya Rp. 5.000 ?
Inilah yang membuat saya mengambil judul Guru Sekolah Swasta lebih Hebat dari Guru Negeri. Bu Sri menuturkan bahwa ia harus jemput bola, mendatangi rumah satu per satu untuk membujuk supaya mau sekolah di lembaga yang beliau kelola. Itupun bukan hal yang mudah, respon yang tidak bersahabat sering ia alami, belum lagi kondisi jalan yang menanjak dan rusak. Pengalaman seperti inilah yang membuat para guru tahu bagaimana kondisi keluarga peserta didiknya. Dan inilah yang membuat Bu Sri merasakan betapa perjuangannya mungkin tidak dirasakan oleh para guru yang ada di Negeri karena di sana sudah banyak siswa yang mendaftar bahkan melebihi qouta. Dari sini pula hubungan anatara guru dan murid terjalin layaknya seorang teman, tidak di takuti dan bukan seperti hubungan pembantu dan majikan. Yang lebih merekatkan lagi, murid sering curhat kepada Bu Sri.
Selain beberapa persoalan di atas, keterbatasan fasilitas yang di miliki sekolah juga membuat proses pembelajaran dengan memakai kurikulum 2013 sedikit terhambat. Sebut saja misal Proyektor, bagi sekolah negeri mungkin setiap kelas sudah ada karena bantuan dari pemerintah lancar. Namun, bagi sekolah swasta ini menjadi kendala karana kalaupun ada itupun hanya 1 atau 2. Ah, negeriku. Pendidikan seolah menjadi milik mereka yang kaya dan berprestasi.

Banjarnegara, 30 Oktober 2014. 00:37. 

Indahnya Surya Yudha Park Banjarnegara

23:07:00 Add Comment
Gilar-gilar demikianlah nama sebutan bagi kabupaten Banjarnegara. Kabupaten yang terletak di ujung timur Karisedenan Banyumas ini cukup terkenal dengan minuman dawet ayunya. Pun demikian, Banjarnegara juga tak kalah menarik dengan tempat wisata yang salah satunya adalah Surya Yudha Park. Tempat wisata yang pas untuk berlibur keluarga karena dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan pemandangan yang indah.

Hari ini bersama dengan Sarno teman sekelas waktu masih MA, saya sempatkan untuk mengunjungi tempat wisata Surya Yudha Park karena walaupun sebagai orang asli Banjarnegara, saya belum pernah mencicipi/mengunjunginya. Maklumlah, banyak kesibukan dan belum diberi kesempatan untuk mengunjunginya. Hehehe

Di SYP ini, sebagaimana kebiasaan orang zaman sekarang ketika ada tempat menarik pasti narsis, berfoto untuk mengabadikan moment tersebut dan tak ketinggalan langsung upload di sosial media entah itu facebook, twitter, BBM ataupun media sosial lainnya. Sayapun tak mau mengabaikan moment diamana untuk pertama kalinya aku merasakan kolam renang Surya Yudha Park yang salah satunya adalah dengan memosting di blog ini.
Papan Nama Sebelum Masuk
Surya Yudha Park ini terletak di Jl. Rejasa Banjarnegara 53482 Jawa Tengah. Di sana tersedia berbagai tempat yang menarik yang penuh dengan petualangan dan keceriaan. Di antaranya adalah Wisata Religi dengan fasilitas Manasik Haji.
Ilustrasi Ka'bah
Foto bareng Onta
Naik Onta
Ilustrasi Makom Ibrahim
Di Surya Yudah Park ini juga terdapat patung Liberty dan Melion sehingga serasa di New York dan Singapura.
 Macak Serius
Patung Liberty

Narsis


Sarno di apit oleh dua Patung
Surya Yudha Park ini juga di lengkapi dengan kolam renang dengan berbagai ukuran dan ketinggian : kolam ombak tsunami, kolam renang prestasi, kolam anak-anak dan kolam logoon dengan berbagai ukuran  serta ketinggian  water boom dan kedalaman mulai 10 cm, 20 cm, 40 cm, 80 cm dan 150 cm.
Awal Masuk ke Water Park

Narsis bersama Kuda Laut

Water park

Narsis Lagi


Kolam ombak Tsunami
Bagi yang suka berolahraga, di sini juga disediakan bergai tempat Sport Center mulai dari Volly, Futsal, Billiard, Tenis Meja dan Badminton.
Permaian Billiard

Lapangan Futsal
Tak ketinggalan bagi yang suka olah vokal suara, di Surya Yudah Park ini juga disediakan tempat Karaoke yang nyaman dan pastinya mengasyikan.
Ruang Karaoke
Untuk mereka yang dari luar Banjarnegara atau siapapun yang ingin menghabiskan liburan, di Surya Yudha Park juga disediakan Hotel dengan 110 kamar eksklusif yang dilengkapi dengan resturant, karaoke, fitnes, ruang MICA (Meeting, Incentive, Convension, Exbihition) dengan berbagai ukuran dan kapasitas yang cocok untuk kegiatan Seminar, Pelatihan, Konferensi, Pernikahan dan berbagai kegiatan lainnya.
Hotel Surya Yudha
Surya Yudha Park ini juga punya website resmi yang bisa dikunjungi disini. Semoga Bermanfaat.

Banjarnegara, 27 Oktober 2014
Pentingnya Tabayun

Pentingnya Tabayun

06:52:00 Add Comment
Kemarin malam aku belajar ilmu baru, ilmu yang tak mungkin di dapat dari lembaga yang bernama sekolah. Ilmu itu adalah ilmu berkomunikasi, kejujuran, perjuangan dan ketelitian. Itu semua saya dapat dari organisasi.
Berawal dari sebuah bantuan uang senilai 10 juta untuk organisasi, berbagai masalah muncul. Masalah itu adalah ketidakpercayaan teman-teman kepada sosok ketua karena kesimpangsiuran mengenai uang 10 juta yang kurang jelas untuk apa saja digunakan. Sehingga ada keengganan bagi pengurus yang lain untuk kegiatan organisasi. Inilah yang membuat diriku ingin tabayun (mencari kebenaran), mengumpulkan pengurus yang berkaitan agar jelas permasalahannya.
Bertempat di salah satu rumah pengurus bernama R kami berkumpul. Di situ saya mencoba mempertemukan permasalahan yang ada, mengenai ketidakaktifan pengurus yang intinya tertuju kepada uang bantuan senilai 10 juta tersebut. Dan alhamdulillah semua berjalan lancar. Ketidak tahuan mereka terjawab meskipun bagi pengurus lain serasa belum puas dengan jawaban yang ada.
Berbeda dengan ketua yang menjadi sasaran pertemuan malam itu, lemas dan tak bersemangat seolah muncul di raut mukanya. Bagaimana tidak, perjuangan yang selama ini dilakukan tanpa pamrih mengorbankan tenaga, pikiran dan harta malah mendapat fitnah seolah telah menggelapan uang bantuan yang senilai 10 juta tersebut. Sungguh sesuatu yang menyakitkan untuk dirasakan.
***
Dari pertemuan itu aku belajar pentingnya transparan apalagi masalah keuangan yang sangat rentan dengan kecurigaan dan berimbas kepada ketidakpercayaan, ketika hal itu terjadi maka bersiaplah untuk menjadi orang yang dijauhi oleh orang lain.
Ilmu yang lain adalah soal posisi ketua. Posisi ini adalah posisi level tertinggi dalam suatu perkumpulan, posisi yang dari situ banyak ilmu yang hanya ketua yang bisa merasakannya. Bahkan ketika permasalahan dalam perkumpulan/organisasi muncul, maka ketualah yang harus menjadi tameng dan siap-siap untuk di caci maki, disalahkan dan berbagai kemungkinan yang lain. Namun ketika ada kebaikan, sosok ketua seperti tak terlihat dan itu adalah fenomena biasa dalam suatu organisasi.
Selain itu posisi ketua adalah posisi yang harus siang bertempur kapanpun dan diamanapun. Posisi yang dari situ harus siap berjuang melebihi anggota yang lain. Memberi contoh dengan tidakan dan tidak hanya bisa berbicara.
Itulah sedikit ilmu yang saya dapat, penting komunikasi agar tak terjadi kesimpangsiuran informasi, kejujuran untuk mengatakan seseuatu dengan jelas dan adanya tabayun karena tak mesti informasi yang hanya mengandalkan kata “jare” itu benar adanya.

Banjarnegara, 27 Oktober 2014. 06:50

Menyambut Tahun Baru Islam, PHBI adakan Istighosah dan Pengajian Akbar

00:12:00 Add Comment
Istighosah dan Pengajian Akbar
Malam ini (25/10) ada acara istighosah dan pengajian akbar di alun-alun Banjarnegara dalam rangka menyambut tahun baru Hijriyah dengan pembicara KH. Habib Luthfi bin Yahya dari Pekalongan dan Habib Umar Bafaqih dari Yogyakarta. Acara ini adalah acara rutin yang diselenggarakan oleh PHBI Banjarnegara.
***
Ada keengganan sebenarnya ketika mau ke alun-alun, enggan karena rasa malas atau mungkin karena godaan setan yang begitu kuat seolah tak rela ada mahluk bernama manusia melakukan kebaikan. Namun, keengganan itu bisa kuhancurkan manakala Ahadun datang sehingga akupun bisa berangkat ke alun-alun. Sampai di sana, acara belum mulai baru lantunan sholawat yang di bawakan oleh group rebana ahbabur rasul Banjarnegara.
Satu jam lebih aku menunggu di tempat duduk yang telah disediakan oleh paniti baru acara dimulai. Diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci al-qur’an, sambutan ketua PHBI, sambutan bupati Banjarnegara, istighosah yang dipimpin oleh Habib Yahya dan dilanjutkan dengan dhororan oleh Ahababbur rasul. Sewaktu acara dhuroran tersebutlah aku meninggalkan alun-alun. Karena dua pembicara yang diagendakan tak ada yang bisa hadir dalam acara tersebut.
Habib Luthfi ataupun Habib Umar yang ditunggu oleh pengunjung tak kunjung datang sehingga membuat sebagian pengunjung pulang lebih awal sebelum acara selesai. Kecewa, mungkin itulah kata yang bisa mewakili perasaan mereka.
Habib Luthfi, ah kayaknya terlalu sulit untuk bisa mendatangkan beliau mengingat bahwa beliau adalah Ketua Rais Aam dari Jam’iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah se- Asia Tenggara.

Banjarnegara, 26 Oktober 2014. 00:08

Harapanku di Tahun Baru 1436 H

21:01:00 Add Comment
1 Muharam 1436 H
Tak terasa bahwa tahun baru Islam 1436 H telah tiba. Tahun dimana 14 abad silam Nabi Muhammad saw melakukan Hijrah dari Mekkah ke Madinah. Tahun dimana nabi berpindah dengan semangat baru, hijrah menuju umat yang disana kedatangan beliau di elu-elukan. Oh, Muhammad nabiku, engkau telah mengajariku banyak hal melalui lisan sahabat-sahabat setiamu.
Apa yang telah aku lakukan selama ini? Seberapa banyak waktu yang bermanfaat dalam hidupku? Entahlah. Aku tak pernah tahu mengenai hal itu, karena aku tak pernah mencatatnya. Hanya dosa yang dalam anganku begitu banyak ku lakukan. Astaghfirullah.
Ketika tahun lalu aku lalui tanpa harapan dan penuh ke acuhan, maka tahun ini akan aku tuliskan harapanku. Harapan itu tak lain adalah diriku bisa menjadi pribadi yang mandiri, keluar dari zona zaman, menjadi pribadi yang berani, pribadi yang mudah bergaul, pribadi yang hangat bagi orang lain dan ending dari semua itu adalah bermanfaat untuk orang lain.
Orang tua dan semua keluargaku adalah semangat dalam hidupku. Terima kasih kepada kalian yang telah membimbingku dan memberi kebabasan untuk memilih jalan. Dan jalan yang ingin aku pilih adalah menjadi seorang penulis. Ya, penulis. Setidaknya menuliskan kisah hidupku agar kelak anak dan keturunanku bisa melihat karya dari ayahnya.
Kepada guru-guruku. Mohon maaf jika murid yang telah engkau didik ini menjadi congkak dan durhaka kepada kalain. Namun, dalam hatiku tersimpan keinginan untuk menjadikan kelian bangga kepadaku. Ya, itulah yang ingin aku lakukan, walaupun aku tak pernah tahu seperti apakah keadaan diriku agar kalian bangga kepadaku.
Terkait dengan apa yang sedang aku jalani hari ini, aku ingin bisa membawa IPNU IPPNU menjadi lebih baik. Melestarikan ahlussunah wal jama’ah tanpa ada tendensi macam-macam. Ya aku berharap bisa senantiasa menjaga kemurnian niatku, berjuang di IPNU tanpa pamrih. Menjadi teman yang hangat dan bisa menginspirasi kepada teman-teman yang lain di IPNU.
Terakhir, aku berharap Allah senantiasa memberiku kesehatan dan kemudahan karena tanpa kuasa-Nya aku tak pernah bisa melakukan apa-apa.

Banjarnegara, 24 Oktober 2014. 20:59

Berkelit di Masa Sulit

17:09:00 Add Comment
Berkelit di Masa Sulit
Berkelit di Masa Sulit, Manajemen Berbasis “Kekacauan”. Itulah judul buku karya Gede Prama. Buku yang berasal dari berbagai seminar yang telah ia lakukan di berbagai tempat.

Buku ini semacam motivasi yang didalamnya berisi pemikiran beliau dalam menghadapi kehidupan zaman edan. Aku sempat kagum ketika membaca awal tulisannya “Ucapan Terima Kasih” yang disana ia mencoba bersikap rendah hati dengan mengatakan “hanyalah kesombongan yang berani mengklaim bahwa sebuah karya bisa tercipta tanpa bantuan orang lain”. Ungkapan tersebut membuatku melayang mengandaiakan diriku sendiri bahwa begitulah adanya, aku tak mungkin bisa hidup tanpa ada orang lain yang berperan dalam keseharianku.

Tulisan berkutnya dalam bab “Kata Pengantar” ternyata ia melarang diriku untuk kagum kepadanya, apalagi secara berlebihan. Karena kekaguman berlebihan terhadap pemikiran orang lain bukanlah pertanda kesehatan intelektual, melainkan sebagai sinyal awal dari sekaratnya intelektul seseorang. Ia berpesan bahwa apa yang ada di dalam bukunya cukup digunakan untuk memperkaya lingkaran belajar, sebagai pemancing imajinasi. Mengapa begitu? Itu tidak lain karena karyanya bukanah sebuah resep, obat, kiat, atau jurus simsalabin. Ia berkayakinan bahwa tidak ada satu bukupun yang bisa mengubah hidup dalam jangka pendek menjadi kaya, sukses, hebat atau pintar.

Pesannya kemudian, kembalilah ke diri sendiri, karena tidak ada guru yang lebih hebat daripada diri sendiri. Seperti itulah nyatanya, motivasi yang berasal dari sendiri lebih kuat dan bertahan lama daripada motivasi yang berasal dari orang lain.
###

Terlepas dari hal di atas. Aku mencoba merangkai kata untuk mengingat dan manafsirkan apa yang telah aku baca.

  1. Keluar dari Kerutinan berpikir. Zaman sekarang banyak yang berpikir setelah kejadian. Sebagai contoh yang terbaru mengenai perkelahian anak di salah satu SD di Bukit Tinggi. Dari kejadian terbsebut mencul wacana tentang perlunya diadakan cctv dan berbagai diskusi bagaimana cara mengatasinya. Pemasangan cctv misal, tidak dilakukan sebelum terjadinya kejadian. Itulah permasalahan yang ada sekarang, mengabaikan persoalan yang seolah sepele atau mengabaikan tema-tema yang antisipatif.Bila melihat pohon besar, ia akan dimulai dari biji benih yang kecil. Begitupun degan perkelahian, itu dimulai dari kurang matangnya sikap sosial seorang anak, belum lagi ditambah dengan pengaruh media massa yang tanpa pendampingan orang tua.
  2. Berandai-andailah mengenai apa yang kamu inginkan.
  3. Memimpin dengan gaya pertanyaan bukan pernyataan.
  4. Berimajinasi
  5. Bersahabat dengan perbedaan. Karena tak ada orang yang sama, maka pelajarilah mereka dan satukan mereka secara tepat.  
  6. Bersiaplah dengan perubahan.
  7. Berpikrlah bebas dan jangan menunduk-nunduk kepada pemikiran manusia lain.
Itulah sedikit yang saya tangkap dari membaca buku karya Gede Prama. Tentunya banyak hal yang disuguhkan dalam buku Berkelit di Masa Sulit, namun memoriku tak cukup untuk memahami semua yang ada dalam buku tersebut. Wal hasil jangan terlalu kaku dengan aturan. Dan semoga bermanfaat.

Banjarnegara, 24 Oktober 2014. 16:55
Ilmu itu di simpan di Hati bukan di Laptop atau Flasdish

Ilmu itu di simpan di Hati bukan di Laptop atau Flasdish

16:58:00 Add Comment
Drs. KH. Ikhwan Qomari, M.Ag. demikianlah nama dosen yang mengajar Makul Qiraatul Kutub Fiqih. Dalam pertemuan tertanggal 26 September 2014 beliau menyampaikan bahwa zaman sekarang banyak sekali orang menyimpan ilmunya di laptop bukan di hati. Padahal sejatinya ilmu itu di simpan di hati. Inilah yang membuatku kagum dan mungkin mengiyakan apa yang beliau sampaikan karena memang seperti itulah yang sering aku lihat.
Pernyataan diatas berkaitan dengan metode yang ia gunakan dalam pembelajaran. Berbeda dengan dosen yang lain, beliau menggunakan metode pesantren, beliau membaca kitab kemudian mahasiswanya ngasaf sahi (memberi harakat dan makna) kitab yang tanpa harakat alias gundul.
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren ITB Kalibeber, Wonosobo. Entah apa kepanjangannya, tapi seperti itulah kebanyakan orang menyebutnya.
###
Tidak ada manusia yang sempurna, itulah yang saya lihat dari beliau. Kenapa saya bilang begitu? Itu karena beliau masuk pukul 08.30 WIB, padahal di jadwal pukul 07.30 WIB. Awalnya aku tak suka dengan hal itu, belum lagi di tambah dengan digabungnya 2 kelas, kelas C dan D membuat suasana tak kondusif.
Jum’at lalu ada rapat evaluasi perkuliahan yang diikuti oleh seluruh komting kelas yang ada di FITK. Pada kesempatan itulah Akhmad Luhtfi Ali selaku komting kelas C mengadukan perihal masalah di atas. Terdiam. Seperti itulah ekspresi Ali ketika aduannya di jawab oleh Bapak Zuhdi. Beliau mengatakan bahwa Bapak Ikhwan Qomari memang orang sibuk dan bisa mendatangkan beliau termasuk keberkahan apalagi mau mengajar.
Mendengar jawaban dari Komting sontak aku menerawang ke budaya pesantren. Budaya “ ‘Alap berkah ” begitu kuat di dalam dunia pesantren, mungkin itulah yang dilakukan oleh FITK UNSIQ sebuah kampus yang notabane nya memang didirikan oleh Mbah Muntaha untuk mewadahi para santri Asy’ariyah agar tak tertinggal oleh perkembangan zaman. Zaman yang menuntut harus S1 atau bergelar sarjana. Karena tanpa gelar meskipun sepintar apapun belum tentu diakui kecerdasannya.
Mengenai keberkahan yang disampaikan oleh Bapak Zuhdi, anganku mencoba mencari analog untuk mendukungnya. Yaitu adanya kekuatan supranatural yang berada di luar diri manusia. Kekuatan supranatural itu tentunya ada pemiliknya. Maka tak heran jika beliau merasa beruntung dan termasuk keberkahan jika Bapak KH. Ikhwan Qomari mau mengajar di FITK, tak lain adalah karena Bapak KH. Ikhwan Qomari termasuk orang yang dekat dengan sang pemilik supranatural tersebut. Yang jika ia meminta, bukan hal yang sulit untuk sang pemilik supranatural itu mengabulkannya.

Banjarnegara, 21 Oktober 2014. 16:51 

Pitaloka - Cahaya -

08:33:00 Add Comment
Pitaloka -Cahaya-
Hari ini aku telah selesaikan buku Pitaloka - Cahaya -, buku pertama dari trilogi Pitaloka; Cahaya, Mahkta, dan Nirwana karya Taufiq Saptoto Rohadi atau sering disebut Tasaro. Aku membacanya mulai hari kamis setelah menyelasiakan buku The Last Barongsay.
Buku ini menceritakan tentang Ayu Dyah Pitaloka, putra Mahkota dari Kerajaan Linggabuwana. Jika dalam kehidupan sehari-hari kita hanya mengenal Dyah Pitaloka dari cerita saat Hayam Wuruk dan patihnya Gajah Mada, yang menginginkan Pitaloka menjadi permasuri dari Hayam Wuruk, Penguasa Majapahit. Namun karena  Gajah Mada mengingkinkan Pitaloka sebagai Hadiah untuk menjadi simbol tunduknya Kerajaan Sunda kepada Majaphit yang berakhir dengan Perang Bubat karena ketidakrelaan Kerajaan Sunda tunduk kepada Majapahit. Hingga akhirnya Pitaloka memilih untuk bunuh diri. Ya sebatas inilah pengetahuan kita tentang Pitaloka.
Namun, buku Karya Tasaro ini menghadirkan nuansa berbeda. Dalam bukunya yang pertama ini ia menceritakan kisah saat dia masih kecil yang di culik oleh Yaksapurusa, penjahat yang paling disegani saat itu. Cerita saat ia berlatih kenuragan kepada Chandhaga setelah ia terbebas dari penculikan Yaksapurusa berkat bantuan Elang Merah yang natabanenya murid sekaligus anaknya Yaksapurusa sendiri. Diambilnya Pitaloka dari padepokan Candrabhaga karena sudah waktunya sebagiamana perjanjian awal.
Kemudian kembalinya Pitaloka ke padepokan dengan nama  Sannaha di bukit Pangrango. Berlanjut dengan kekisruhan dan pembunuhan murid Chandrabhaga oleh Yaksapurusa yang sebelumnya telah menyusupkan anak buahnya menyamar dan mematai padepokan. Hingga puncak akhir cerita padepokan dengan meningalnya Chandrabagha oleh ketiga murid andalannya Yaksapurusa; Harimau Emas, Kuda Putih dan Merak Hitam. Ketiganya murid Yaksapurusa yang sudah ditempatkan dan menyamar di padepokan.
Akhir cerita, bertempurnya anatara Yaksapurusa dan Sannaha di dekat Sungai Taruma. Namun karena bukan tandingannya, Sannaha tak mampu menahan serangan Yaksapurusa. Beruntungnya, Elang Merah menyelamatkannya untuk ke sekian kalinya.

Banjarnegara, 21 Oktober 2014. 08:27
Pentingnya Komunikasi dalam Organisasi

Pentingnya Komunikasi dalam Organisasi

00:13:00 Add Comment
Malam kemarin aku ke Binangun Karangkobar menghadiri pengajian yang dilakukan oleh tunas-tunas ipnu ippnu. Di sana aku melihat ada secerah harapan tumbuhnya pemuda yang siap untuk mengawal dan melestarikan aswaja. Ya itulah yang aku lihat di sana, sebuah semangat yang diawali dengan saling silaturahim.
Dalam acara tersebut terjadilah diskusi yang membicarakan keinginan dan berbagai masalah terkait dengan kegiatan ipnu ippnu. Dan pada kesempatan itu juga aku merasa kaget sewaktu Anam mengatakan kekecewaannya kepadaku. Yaitu ketika aku pergi ke Semarang tanpa memberi kabar dan penjelasan mengenai kepergianku. Itulah yang menjadikan ia cuek dan seolah tak peduli dengan keberadaanku saat bertemu. Akupun baru menyadarinya ketika ia bercerita yang sebelumnya sama sekali aku tak mengetahuinya.
Komunikasi. Ya itulah yang harus di lakukan dalam sebuah organisasi atau perkumpulan sehingga tak terjadi salah paham. Karena tanpa komunikasi kecurigaan akan mudah muncul yang berakibat hubungan semasa pengurus maupun anggota menjadi terpecah.


Banjarnegara, 20 Oktober 2014. 00:12
Telinga Tebal, Bekal Seorang Pemimpin

Telinga Tebal, Bekal Seorang Pemimpin

20:20:00 Add Comment
Hari ini tepatnya ba’da magrib aku sedikit kaget ketika Imam mengatakan kepadaku perihal tanggapan anak-anak terhadap apa yang aku ucapkan, “aku ngurusi di bawah dan ia mengurus yang di atas.” Ucapanku tersebut ternyata membuat sebagian anak-anak menganggap bahwa aku gak mau bekerja sama. Ah ternyata begitu pentingnya komunikasi sehingga ketika sedikit saja terbelok semuanya menjadi runyam. Padahal jika sedikit saja menengok ke belakang, akulah yang sering ke atas.
Mungkin inilah yang di maksud oleh Bapak Zainal bahwa menjadi pemimpin harus bertelinga tebal. Karena setiap kesalahan yang ada pasti pemimpinlah yang pertama kali harus disalahkan. Namun ketika kebaikan yang ada, ia akan seperti udara bisa dirasakan tetapi tak pernah orang menyadarinya.
Ya siap-siaplah untuk menjadi bahan celaan ketika ada hal yang kurang pas. Dan inilah seninya  menjadi pemimpin yang tak semua orang bisa merasakannya.

Banjarnegara, 17 Oktober 2014

Selesainya Surat Al-Fatihah dengan Qira’ah Sabah

14:58:00 Add Comment
Bu Robi'ah Adawiyah
Selasa, 14 Oktober 2014 adalah pertemuan makul Qira’ah Sab’ah yang ke 5. Dalam perkuliahan tersebut  selesailah Bu Robi’ah Adawiyah, selaku dosen Qiraah Sab'ah menyampaikan materi surat Al-Fatihah dengan berbagai macam imam.
Ya, baru pada semester inilah saya benar-benar merasakan membaca Al-Qur’an dengan Qira’ah Sab’ah yang sebelumnya hanya dengar apa itu qira’ah sab’ah tanpa tahu bagaimana bacaannya. Subhannallah ternyata begitu indah dan luas Al-Qur’an itu.


Banjarnegara, 14 Oktober 2014

The Last Barongsay

14:31:00 Add Comment
The Last Barongsay
Alhamdulillah selesai juga nie baca buku novel The Last Barongsay, buku yang saya pinjam di Perpusda Wonosobo Senin kemarin. Buku ini bercerita mengenai barongsay Singa Air yang terletak di desa Renges pinggir Kali Cisadaene dengan lakon utama Bapak Honardi selaku pimpinan barongsay Singa Air.
Dalam buku tersebut diceritakan bahwa Singa Air hampir gulung tikar karena Ali Junaidi anaknya Bapak Honardi pergi ke Singapura untuk kuliah. Belum lagi Budi Prihatin sebagai pemain belanga terlilit banyak hutang karena sering ngecokek.[1]
Namun semua berubah setelah masuknya Garuda Garang atau sering dipanggil Ga’ank sebagai pemain kepala pengganti Aliong (nama panggian Ali Junaidi). Tak terlalu kesulitan ia menyesuaikan permainan barongsay karena dulu pernah ikut latihan, hanya saja ia berhenti bermain barongsay setelah terjatuh yang membuatnya menjadi gagap.
Puncak akhir dari cerita adalah menangnya Singa Air pada Festival Barongsay Tingkat Nasional menyisihkan 32 peserta yang disambut gembira oleh penduduk kampung Rengas. Itu tidak lain karena semangat dan usaha mereka dalam menggapai apa yang mereka cita-citakan.
Banjarnegara. Kamis, 16 Oktober 2014




[1] Semacam dangdut yang ada penari perempuan dengan penonton ikut berjoged sambil memberi saweran
Terima Kasih Happy Komputer

Terima Kasih Happy Komputer

17:20:00 1 Comment
Hari ini aku putuskan untuk membeli charger netbuk karena minggu kemarin hilang di bem sewaktu pulang dari Dieng. Sebenarnya charger milikku ada, Cuma karena ada salah satu anak yang kebetulan memilki netbuk dan charger yang sama sehingga akupun mengalah setelah sempat enyel-enyelan.
Pagi tadi seperti saran dari temanku Teguh, aku pergi mengunjungi toko komputer yang ada di dekat RSUD Banjarnegara. Ada dua toko disana, dan ku kunjungi semua. Yang pertama aku Cuma menanya harga dan yang kedua tanya dan sekaligus pesan yang orisinil, di Happy Komputer namanya.
Toko ini beralamat di Jl. Jendral Sudirman No. 6 Banjarnegara. Disinilah aku pesan charger azus yang orisinil dengan harga mulai 250 an. Karena pemilik toko juga harus pesan dulu, maka akupun baru DP Rp. 50.000,-. Setelah itu aku langsung meluncur ke kampus.
Makul pertama adalah Qira’ah Sab’ah. Saat perkuliahan berlangsung aku membuka hp dan terlihat ada pesan dari Misbah yang menanyakan aku kuliah atau tidak. Setelah aku menjawab bahwa aku kuliah, ia membalas dengan memberitahu bahwa charger netbukku ketemu dan ada di BEM. Aku sempat gak percaya, maka aku sms lagi untuk meyakinkan.
Setengah satu perkuliahan selesai. Dengan di temani Restu aku langsung menuju ke BEM untuk memastikan dan mengambil charger. Ternyata memang benar ada charger azus disana. Aku ambil dan menelitinya. Ternyata yang ada di BEM adalah chargernya anak yang kemarin sempat enyel-enyelan denganku. Sedangkan punyaku di bawa olehnya. Ah, sial padahal aku sudah pesan.
Karena sudah ketemu, dengan perasaan yang sedikit rikuh aku batalkan pesanan chargerku di toko Happy Komputer.
Dalam perjalanan pulang dari kampus aku membayangkan reaksi dari penjual di Toko Happy Komputer. Jika tanggapannya bagus itulah yang aku harapkan, namun jika tidak ya cukuplah di jadikan referensi saja bagaimana keadaan disana.
Ternyata toko Happy Komputer menanggapi dengan ramah. Sesampainya di sana uang Rp. 50.000,- yang tadi pagi aku jadikan DP langsung dikembalikan. Inilah yang membuatku merasa lega dan puas dengan pelayannya.
Tulisan ini adalah wujud dari rasa terima kasih atas pelayanan baik dari toko Happy Komputer, walaupun aku membatalkan pesananku, tetapi tetap di layani dengan ramah dan hangat. Terima kasih, semoga semakin sukses usahanya.

Banjarnegara, 14 Oktober 2014
Magnet Puisi-Puisi Gus Mus

Magnet Puisi-Puisi Gus Mus

09:14:00 Add Comment
Dalam keheningan malam, ku simak suara music Mp3 musikalisai puisi-puisi Gus Mus yang dibaca dengan nada ekspresi penuh makna membuat emosiku membuncah. Emosi akan keadaan diriku masa lalu dan sekarang, emosi akan keadaan diri yang terombang-ambing penuh rasa kabur bagai bulan tertutup awan hitam di kegelapan malam.
Pada siapa aku harus bertanya?
Pada siapa aku harus ceritakan apa yang aku rasakan?
Siapakah sosok yang harus aku jadikan teladan untuk aku melangkah dan mengarungi kehidupan?
Butakah aku? Sombongkah aku? Durhakakah aku?
Salahkah jika aku bercerita? Salahkah?
Perdebatan antara hati, logika akal dan keyakinan yang telah terbentuk sejak zaman lalu membuatku lemah mengambil sikap. Takut salah. Mungkin itulah yang aku rasakan saat ini. Akibatnya aku seolah menjadi robot yang bisa disamakan dengan yang lain. Aku tak bisa menjadi diriku sendiri.
Haruskah aku membuat alibi bahwa yang salah adalah yang di luar diriku?
Oh Tuhan, Aku harus bagaimana?

Pringamba, 10/10/2014, 23: 43
Nasehat untuk Mad Solihin

Nasehat untuk Mad Solihin

09:13:00 Add Comment
Mad solihin ... Semua orang adalah pemenang katamu
Sudahkah engkau merasakan nya sendiri atau engkau hanya mengutip ucapan para motivator
Mad solihin ... Allah tidak membebani hamba-Nya dengan sesuatu di luar kemampuannya katamu
Sudahkah engaku membuktikan nya atau engkau hanya mengutip sepotong ayat saja dari Al-qur’an
Oh, Mad Solihin ....
Kenapa engkau begitu takut mengambil sikap?
Kenapa engkau begitu mudah terpengaruh dengan orang lain?
Kenapa engkau begitu terpenjara dengan paradigma orang lain?
Kenapa begitu mudah engkau mengeluh?
Kenapa engkau tak maksimalkan kemampuanmu?
Oh, Mad Solihin ...
Buktikanlah kata-katamu dengan action perbuatanmu !
Janganlah engkau jadi pembual yang tak pernah dalam pengaplikasiannya !
Oh, Mad Solihin ...
Engkau punya Tuhan yang selalu melihat dan mendengar rinthanmu
Mak berdo’alah selalu kepada-Nya ....


Pringamba, 11 Oktober 2014, 00:13
Surat untuk Sang Kekasih

Surat untuk Sang Kekasih

09:09:00 Add Comment
Wahai bidadariku yang cantik jelita, tahukah engkau bahwa aku sangat merindukanmu. Rindu dengan suaramu, rindu dengan tulisan pesan darimu, dan rindu dengan sifat pemalumu.
Oh kekasih ... sungguh aku ingin bisa bersanding di dekatmu. Walaupun aku tahu bahwa syariat tak mengizinkan hal itu sebelum engkau halal untukku, dan itulah yang engkau perlakukan padaku. Engkau menjauh dari tempat dudukmu, menjauh membuat jarak yang jika tanganku ulurkan, tak bisa ku menggapai wajah ramahmu. Sesuatu yang membuat diriku kagum dan bangga kepadamu.
Sayank ... dengan rangkaian kata ini, aku kirimkan salam rindu kepadamu. Rindu pada sosok pendamping yang akan menjadi makmum dan ibu dari anak-anakku. Membina bahtera rumah tangga dan mengarungi samudra kehidupan yang penuh dengan ombak dan badai. Meskipun aku tahu bahwa diriku bukanlah seseorang yang sempurna.
Sayank .... jika saat ini aku belum pantas untuk bersanding denganmu, akan aku ajukan proposal permohonan kepada pemilikmu agar Dia yang menciptakanmu menjadikan aku orang yang pantas menjadi imammu. Imam yang bisa membimbing, menjaga dan mengisi hari-harimu dengan keceriaan penuh rasa syukur dan tawakal.
Sayank ... terkadang aku khawatir dan takut kehilanganmu. Ya, aku takut jika Allah mempunyai kehendak lain tentang cerita antara kita. Namun, biarlah waktu yang akan menjawabnya. Aku yakin bahwa Dia Yang Maha Tahu selalu memberi yang terbaik untuk ciptaan-Nya.
Terakhir, belajarlah yang tekun sayank dan jadilah pribadi yang hebat.
Salam Kerinduan

Pringamba, 10/10/2014. 22:11

Sepak Bola, Satukan Tua dan Muda

16:11:00 Add Comment
Persikalteng Vs Bintang Timur
Selasa kemarin (7/10) setelah pulang kuliah aku sempatkan untuk menonton permainan sepak bola di lapangan. Waktu itu pertandingan antara RT ku sendiri yaitu PersiKalteng dengan Bintang Timur, dukuh Kemiri Jurang.
Saat ku menikmati pertandingan, aku sedikit heran kenapa yang biasa main gak ikut bermain. Ternyata ini pertandingan yang di hususkan untuk orang dewasa yang notabene nya sudah menikah. Aku mengetahuinya dari Andri saat aku bertandang ke rumahnya selasa malam.
Jadi aku menyimpulkan bahwa pertandingan kali ini adalah kelanjutan pertandingan pasca 17 Agustus kemarin. Jika yang pertama adalah bebas dan kebanyakan di dominasi oleh anak muda, maka kali ini anak muda menjadi penonton.
Alhamdulillah pertandingan sepak bola bisa menjadi media silaturahim yang mempertemukan berbagai pemuda dan orang tua di desa tersebut. Ya itulah yang aku tangkap dari pertandingan sepak bola di desaku. Semoga bisa berlanjut dan menyatukan anatara golongan muda dan tua di kegiatan-kegiatan yang lain juga.
Selain itu, pertandingan ini juga sebagai kegiatan dalam meramaikan desa. 

Wonosobo, 9/10/2014
Apa Tujuanku

Apa Tujuanku

15:06:00 Add Comment
Aku sedikit tersentak ketika Pak Asep bertanya tentang apa tujuanku di IPNU. Tersentak karena memang aku merasa belum memiliki jawaban yang bisa mendukung apa yang aku lakukan. Kata kasihan yang terlontar dihadapnku membuatku menerawang ke belakang mengenai sepak terjang apa yang telah aku lakukan pasca konfercab.
Sendiri. Mungkin inilah yang aku rasakan untuk menggambarkan perjalanan selama ini. Sendiri di sini bukan berarti tanpa teman satupun, namun sendiri karena aku belum bisa berkomunikasi secara maksiamal dengan orang lain. Salah satu kekuarangan yang aku amati melekat dalam diriku. Sifat pendiam dan minder yang belum bisa aku kendalikan membuatku terlihat seperti orang bingung. Ah, benarkah seperti itu? Biarlah waktu yang akan menjawab.
Namun dibalik kekuaranganku itu, aku selalu berusaha untuk memberbaiki diri karena aku yakin kepribadian bisa dibentuk seiring perjalanan waktu. Tergantung bagaimana kita berusaha.
Menentukan Tujuan
Kiranya perlulah bagi setiap orang untuk menentukan tujuan kemana arah yang ingin dicapai. Karena tanpa tujuan hidup ini akan serampangan, tidak mempunyai targat apa yang akan dicapai. Dan targetku adalah mencari jati diriku sendiri. Jati diri untuk menjadi seorang penulis.

Warung Pojok Kalibeber, Wonosobo
Selasa, 07 Oktober 2014


Profil Penulis

23:37:00 Add Comment
Mad Solihin, demikianlah nama yang diberikan oleh orang tuaku pada hari Jum’at, 28 Januari 1994 silam. Di sebuah desa bernama Pringamba Kecamatan Sigaluh Kabupaten Banjarnegara itulah diriku dilahirkan dan dibesarkan. Sebuah desa terpencil yang terkenal dengan salaknya. Ya, buah salaklah yang menjadi tumpuan hidup warga desaku sekarang.
Pendidikan pertama ku habisakan di SDN 1 Pringamba hingga lulus karena pada zamanku belum ada TK atapun PAUD. Setelah lulus SD, aku hijarah ke MTs Walisongo sambil mendalami ilmu agama di Pondok Pesantren Miftahussholihin. Begitupun dengan sekolah MA aku habiskan di tempat yang sama yaitu MA Walisongo.
Lulus MA, alhamdulillah saya bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu kuliah di sebuah perguruan tinggi. Kesempatan yang saat ini baru dinikmati oleh sedikit orang di yang ada di desaku karena sebagian banyak lebih memilih bekerja di kebun daripada sekolah ataupun karena faktor ekonomi yang tak mendukung untuk bisa melanjutkan.
Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) adalah perguruan tinggi yang kupilih, tepatnya di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FITK) prodi Pendidikan Agama Islam (PAI). Entah kenapa aku memilih di FITK yang katanya lulusannya menjadi guru, padahal saya tak punya angan-angan menjadi guru. Aku menyadarinya ketika semester 2 dan setelah di pikir-pikir sambil merenungkan kecenderungan apa yang ada dalam diriku, ternyata aku berkeinginan untuk menjadi jurnalis ataupun penulis buku.  Alasannya karena aku lebih suka untuk menulis dan cenderung pendiam.
Blog ini adalah sebagai salah satu media untuk menyalurkan dan mengasah bakat kepenulisan yang aku miliki. Selain itu, blog ini juga sebagai media untuk berbagi ilmu ataupun pengalaman kepada orang lain. Karena hanya inilah yang dapat kami berikan untuk membantu orang lain.
Motif lain menganai blog ini adalah untuk mengumpulkan gagasan-gagasan yang berkeliaran di otakku. Sebagaiman terdapat pada header blog ini, “Bahwa sepudar-pudar tulisan masih lebih baik daripada pemikiran yang baik namun tak terlestarikan”.
Itulah sedikit ulasan mengenai siapa diriku. Semoga bermanfaat.

Penulisa juga bisa di temukan di FaceBook ataupun Twitter. Penulis juga bisa di hubungi lewat email : madsolihin95@gmail.com