Korelasi antara Jabariyah dan Qodariyah

13:14:00 Mad Solihin 0 Comments

Berbicara sejarah maka ada beberapa hal yang tentunya akan mempengaruhi kebenaran dari sejarah tersebut yang diantaranya adalah siapa yang munulisnya. Karena sejarah adalah masa lalu yang tentunya setiap penulis sejarah mempunyai sudut pandang masing-masing dalam menuliskannya. Sehingga butuh kejelian dan melihat secara komprehensip (menyeluruh) agar tak terjebak dalam pemikiran sang penulis.  Demikian sedikit awalan sebelum kita masuk pada pembahasan tentang Jabariyah dan Qodariyah.
Paham Jabariyah atau yang sering disebut dengan paham Fatalisme adalah produk dari Bani Umayah. Paham ini beranggapan bahwa segala sesuatu adalah karena kehendak Tuhan (Takdir). Manusia tak mempunyai kuasa apapun atas dirinya atau jika dalam dunia perwayangan maka manusia hanyalah sebagai wayang yang segala tindakannya adalah atas kehendak sanga dalang. Pertanyaannya adakah dalil yang menguatkan paham Jabriyah ini?
Setiap aliran atau paham yang muncul ke permukaan pasti mempunyai dasar atau dalil untuk menguatkan pendapatnya termasuk Jabriayah. Mereka menggunakan dalil  والله خلقكم وما ثعملون yang artinya “Dan Allah yang menciptakan kalian semua dan apa yang kamu kerjakan”.
Aliran ini dilatarbelakangi atas pergulatan politik waktu itu, yaitu untuk melegitimasi kekuasaan Bani Umayah atas Ali bin Abi Thalib. Dengan dasar ini, Bani Umayah mengtakan bahwa kepemimpinanya itu memang sudah kehendak Tuhan (Takdir).
Kemudian dalam masa pemeritahan Bani Abbasiayah munculah paham  Qodariyah atau Rasionalitas. Paham ini beranggapan bahwa segala sesuatu itu terjadi karena kehendak manusia itu sendiri dengan dalil الله لايغيرما بقوم حثي يغيرواما بأنفسهمانyang artinya “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merubah nasibnya sendir”.
Paham ini dilatarbelakangi oleh keresahan kahalifah Bani Abbasiah waktu itu dengan banyaknya kemiskinan. Banyak masyarakat waktu itu menjadi pengemis dengan anggapan bahwa apa yang mereka alami sudah kehendak Tuhan (Takdir). Dari situlah khalifah Abbasiah mengubah cara pandang masyarakatnya dari Jabariyah ke Qodariyah. Dan hasilnyapun sangat signifikan dengan berubahnya pendapatan perkapita masyarakat masa pemerintahan Abbasiayah itu 15 juta $ atau serupa dengan Rp. 150.000.000.000,- atau pendapatan perbulan sebesar Rp. 12.000.000,-.
Akan tetapi kebebasan berpikir ini terlalu kebeblasan sehingga waktu itu muncul peristiwa dengan nama Al-Mihnah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah mahluk.

Korelasi Jabariyah dan Qodariyah dalam Kehidupan
Setelah saya singgung sedikit mengenai pengertian dan sejarah, maka selanjutnya saya akan menjelaskan mengenai hubungan penerapan paham Jabariyah dan Qodariyah dalam kehidupan manusia.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa manusia adalah mahluk yang mempunyai sisi positif (+) dan negatif (-). Sehingga bisa saja ia lebih mulia dari pada malaikat jika bisa mengoptimalkan sisi positifnya, pun sebaliknya manusia bisa lebih hina dari pada binatang jika sisi negatif lebih dominan.
Dalam korelasinya manusia dengan dua paham yang telah disinggung diatas akan saya gambarkan dengan bagan sebagai berikut.



Dalam bagan diatas paham Jabariyah berlaku atas pemberian potensi dari Allah kepada manusia. Kemudian aplikasi dari Qodariyah adalah bentuk pemanfaatan potensi yang telah Allah berikan untuk hal yang positif ataukah yang negatif.
Demikian penjelasan singkat menganai korelasi antara Jabariyah dan Qodariyah dalam kehidupan manusia. Semoga Bermanfaat.

Sumber : Perkuliahan Makul Ke-NU-an oleh Bapak Muhammad Khusnan, M.Pd.I pada hari Jum’at 28 Maret 2014

You Might Also Like

0 comments: