Loading...

Degram Template

19:01:00 Add Comment

Susah desain? Gak punya ide? Kalaupun dipaksa membuat, hasilnya tambah ambyar.
Itu yang saya alami dulu ketika masih aktif menjalakan toko online di Insatgaram. Padahal kekuatan Instagram adalah foto. Saat fotonya gak menarik, biasanya pengunjung akan langsung pergi.
Apakah hanya itu?
Tidak, ada point penting lagi yaitu Trust (Kepercayaan). Ya betul, kepercayaan. Saat akun yang kita bangun mempunyai tampilan yang menarik maka orang lain akan trust dengan kita sehingga terjadi closing.
Efek foto yang menarik juga akhinya orang yang berkunjung ke toko online kita menjadi betah dan kemungkinkan balik lagi besar.
Permasalahannya adalah jika kita tak jago desain?
Nah, ini dia yang saya alami. Alhamdulillah sekarang sudah hadir Degram Template, sebuah tools yang berisi ratusan template desain for Instagram hanya modal Powerpoint.
Cara kerja di Degram Template juga sangat mudah, hanya perlu pilih templatenya, edit dan selesai (simpan dengan format jpg/png).
Info detailnya bisa cek di sini ya Info Degram Template

Belajar Lagi

15:20:00 2 Comments
Sumber : Pixabay

Pada postingan sebelumnya, saya pernah membahas soal belajar digital marketing sebagai salah satu focus saya di tahun 2020. Link postingannya bisa cek disini, judulnya Fokus Saya di Tahun 2020.
Jujur, saat ini saya sedang punya keinginan untuk membeli smartphone baru. Alasan realnya, memory internal sudah full sehingga untuk aplikasi hanya WA dan telegram yang terpasang. Selain keduanya, sudah saya hapus. Kesalnya, saat saya ingin menginstal aplikasi lain semisal Instagram maka saya harus uninstall dulu aplikasi telegram. Itu pertama.
Kedua, karena memory internal full maka saya beberapa kali WA saya terreset sehingga semua chat hilang semua. Awalnya panik, tapi karena sudah terjadi bukan hanya satu atau dua kali maka saya sudah tak terlalu memusingkan.
Ketiga, saya gak bisa maksimal untuk jualan karena aplikasi yang saya gunakan adalah Instagram sebagai media untuk toko online. Kendala tak bisa instal, akhirnya saat ini fakum terlebih dahulu.
Poin yang ketiga inilah yang menyentil saya untuk kembali belajar tentang digital marketing lagi, bahasa lainnya  Jualan.
Untuk gaji saat ini terbatas dan habis untuk berbagai keperluan, tidak ada hal lain selain mencari tambahan dengan cara jualan. Namun karena memang sudah lama fakum maka mau tidak mau saya harus memulai untuk belajar lagi, memahami dan menginstal vibrasi keyakinan atas apa yang saya jual sehingga vibrasi itu sampai pada orang yang akan membeli.
Btw, ngomong soal dunia digital ada satu platform yang saya ikuti. Platform ini adalah platform pertama yang menjadi dasar saya suka serta paham tentang alur dunia digital, namanya Akademi Bisnis Digital dan lebih dikenal dengan nama ABDi.
Untuk kamu yang punya focus sama dengan saya ingin memahami seluk beluk dunia digital, bisa ikut di sini. Banyak pelajaran yang bisa kamu ambil, mulai dari mindset dalam dunia digital, tentang FB Ads, Instagram Ads dan Google Ads.
Sekali lagi, untuk kamu yang tertarik ikut Akademi Bisnis Digital (ABDi) bisa klik linknya disini.

Mencatat Pengeluaran

06:13:00 Add Comment
Sumber : Pixabay

Pernah merasa saat baru gajian dan uang langsung habis karena harus membayar hutang ini dan itu? Dengan perasaan heran, kok bisa ya gak ada sisa?
Pernah merasa?
Sama. Saya juga sering merasakan. Dan di tulisan ini, ijinkan saya bercerita sebagai niatan untuk mencoba merubah pola tersebut sehingga kondisi keuangan membaik.
Kalau ditarik kesimpulan, uang yang kita terima habis untuk membayar hutang adalah pola kesenangan di awal. Bagaimana tidak, saat kita membeli sesuatu dengan system hutang maka kita membeli kesenangan diawal yang mau tidak mau kita harus membayarnya di akhir.
Tidak salah si, hanya saja jika ternyata apa yang kita beli tersebut sesuatu yang bisa kita tahan. Istilahnya, menunda kesenangan.
Insight ini lah yang pada akhirnya membuat saya untuk membuat list pengeluaran, catatan uang yang saya miliki digunakan untuk apa saja?
Males, tentu. Tetapi demi kebaikan diri sendiri, akhirnya saya paksa berharap bisa tahu kemana arus uang yang saya miliki itu keluar.
Kamu boleh ikut mencobanya. Siapa tahu dengan menuliskan arus kas uang kamu miliki bisa buat evaluasi mana saja pengeluaran yang wajib dan mana saja pengeluaran yang bisa kamu tahan untuk hal yang lebih manfaat lagi. Syukur bisa mengalokasikan untuk dana investasi.
Kembali ke pokok masalah awal, setelah menerima gaji tiba-tiba langsung habis. Saran saya, coba identifikasikan kemana arus kas keuangan keluar dan cobalah untuk menunda kesenangan.
Jika sudah, tugas selanjutnya adalah menambah pipa penghasilan. Jika kita selama ini hanya mengandalkan gaji, mungkin kita harus membuka diri untuk mendatkan uang dari jalan lain. Apapun bentuknya, yang penting halal syukur bisa berkah berlimpah.

Berbagi Tanpa Pamrih

17:37:00 Add Comment
Sumber : Pixabay

Ketika kamu melakukan sesuatu, lakukanlah secara total. Lakukan saja. Ada yang melihat atau tidak, lakukan saja. Lakukan tanpa kamu berharap bahwa apa yang kamu lakukan itu ada imbalan langsung ataupun tidak.
Hal ini menarik, apapun yang kamu lakukan ternyata alam semesta merenspon dengan cara yang unik. Saya memahami ini beberapa waktu yang lalu saat melihat seseorang yang dengan ketelatenannya melakukan sesuatu dengan gesit dan tanggap.
Sebut saja, Fulan.
Fulan adalah salah satu pemuda yang sejak awal ada kegiatan berkaitan dengan posko tanggap covid-19 dia selalu aktif. Mulai dari penyemprotan disinfektan, pembuatan posko dan penjagaan posko.
Hingga pada akhirnya, saat ada program yang masuk maka Fulan adalah salah satu nama yang diusulkan. Saat itulah saya menyimpulkan, bahwa alam semesta melihat dan membalas apa yang kita lakukan dengan cara yang unik. Mungkin Fulan tidak pernah terbesit bahwa apa yang dia lakukan adalah bentuk mencari perhatian, tapi alam semestalah yang menaruh perhatian padanya.
So, apapun yang kamu lakukan jika sekiranya itu adalah hal yang baik maka percayalah perbuatanmu akan berbalas meski kamu tidak menyadarinya.

Terima Kasih 2000 Subscriber

06:21:00 Add Comment
Dokpri
Mengawali bulan Mei ini ada satu hal yang saya syukuri, tepat di tanggal 3 Mei 2020 akhirnya subscriber tembus di angka 2K. Alhamdulillah.

Tahun ini saya menargetkan 10K dan alhamdulillah sudah 2K. Bantu support ya https://www.youtube.com/channel/UC20x1jKZsQwhac1mRaI7cQA?view_as=subscriber

Terima kasih terima kasih.

Owh ya, yang saya pelajari tentang penambahan subscriber adalah “Ketika membuat video itu bukan untuk diri sendiri tapi untuk orang lain.”


Artinya, orang akan subscribe ke channel yang kita miliki saat merasa ada hal/video yang bermanfaat untuk mereka.

Pertanyaan Beruntun yang Tak Ada Endingnya

17:40:00 Add Comment


Ada lelucon soal larangan untuk aktifitas dimusim pandemi covid-19 sehingga muncul tagar #dirumahaja. Berlebih di musim puasa yang sebentar lagi akan lebaran dengan budaya silaturahim, halal bihalal. Salah satu kelucuannya adalah Mengurangi stok pertanyaan, Sudah nikah belum?”

Itu baru satu ya, masih banyak pertanyaan beruntun lain yang ternyata tidak ada endingnya kecuali telah wafat.

Mari kita urut pertanyaan yang kira-kira begini.

Jika sudah lulus SMA, maka pertanyaannya, “Mau keluah dimana? Sudah kerja belum?”

Jika sudah lulus kuliah, “Sudah kerja belum? Kerja dimana?”

Jika sudah kerja, Sudah nikah belum?” Jika belum maka disusul, “Mau nikah kapan?”

Deal. Kerja sama nikah sudah.

Pertanyaan selanjutnya, Sudah punya anak belum?

Jika jawabannya, sudah. Maka disusul pertanyaan, Kapan nambah lagi?

Deal, anak sudah punya. Maka pertanyan selanjutnya beruntun juga?

Anaknya sekolah dimana?

Jika sudah lulus, Anaknya kerja apa? Kerja dimana?

Jika sudah kerja, Anaknya sudah nikah belum?

And then, pertanyaan akan berulang lagi sampai pada titik dimana tidak ada hal yang bisa ditanyakan.

So, apapun yang terjadi setiap orang punya takdirnya masing-masing. Tak perlu resah dengan berbagai pertanyaan karena pada waktunya nanti, semua akan merasakannya. Hanya soal waktu yang berbeda.

Prinsip Membeli

13:38:00 Add Comment
Sumber : Pixabay

Beberapa minggu yang lalu saat Zoom Meeting bersama Alumni TFT KLTC 2017, ada satu poin yang rata-rata dipakai oleh mereka yang paham tentang financial. Salah satunya adalah prinsip dalam membeli sesuatu.

Prinsipnya gimana?

Jadi, ketika mau membeli barang itu hindari dengan cara kredit. Usahakan cash. Hal ini menghindari system bunga yang umum dilakukan saat membeli sesuatu dengan cara cicilan.

Itu, satu. Nah yang kedua adalah membeli sesuatu jika mampu membeli dua. Misal, kita ingin membeli smartphone tapi uang yang kita miliki hanya bisa membeli satu maka itu artinya kita bisa belum mampu untuk membeli. Minimal uang tersedia mampu membeli barang 2 dalam waktu yang sama, maka sudah waktunya kita membeli.

Prinsip yang saya ceritakan di atas itu bukan hanya saya temui ketika Zoom Meting, tapi dari beberapa orang yang saya dengar lewat channel youtobenya juga mengatakan hal sama.

Gimana menurut kamu?

Suka beli barang dengan system kredit atau cash?

Oh ya, sebagai disclamair tentu prinsip ini tidak bisa dipukul rata ya. Ada saat-saat tertentu yang mungkin memang harus melakukan kredit, tapi kalau masih bisa menahan dan bisa cash itu lebih baik.