Loading...

Berdoa saat Sujud dalam Sholat

00:11:00 Add Comment

Saya sering mendengar bahwa salah satu doa yang paling baik adalah saat sholat ketika sujud. Hanya saja tekniknya seperti apa saya kurang paham. Hingga pada hari Ahad kemarin saat pengajian Isra' Mi’raj Nabi Muhammad Saw. dengan pembicara Bapak KH. Raden Mu’tiqun Asnawi dari Jawar Wonosobo, saya mendapatkan satu pemahaman baru tentang doa di dalam sholat.

Bagaimana caranya?

Caranya adalah ketika sujud setelah membaca doa sujud, kita tetap berada dalam posisi sujud dengan menjaga agar tidak bergerak. Pada posisi seperti inilah kita dianjurkan berdoa di dalam hati dengan mulut tetap tertutup dan tidak mengeluarkan suara yang bukan doa di dalam sholat. Intinya, diam dalam posisi sujud dan hanya hati yang merapal doa.

Berapa lama? Semampunya. Seselesainya kamu bermunajat dan meminta belas kasihan pada Dzat yang memilikimu.

Syukur-syukur berdoanya di waktu sepertiga malam lewat sholat tahajud. Insya allah banyak qobulnya karena selain emang waktu yang dianjurkan untuk berdoa, juga sebagai bentuk rasa pengakuan bahwa kita butuh bantuan. Bahwa segala masalah yang kita miliki, Allah adalah tempat terbaik untuk mengadu dan curhat.

Tentang doa di dalam sholat adalah poin pertama yang saya tangkap. Poin kedua adalah perihal niat sholat. Seperti apa?

Begini, niat sholat itu di dalam hati dan bersamaan saat kita membaca takbiratul ihram. Artinya saat lisan kita mengucap takbir, hati kita mengucap niat sholat. Jadi bukan membaca niat dulu baru takbir tetapi bersamaan.

Mengenai niat, ada batasan minimal yaitu “Usholli fardhol Maghribi, Usholli fardhol ‘ashri atau “Usholli fardhol ‘Isyai.” Jadi tiga kata tersebut harus selesai dibaca dalam hati ketika lisan masih dalam lafadz takbir.

Untuk sholat sunnah, bisa langsung “Usholli tahajudi atau Usholli dhuha,” tanpa menyebutkan sunnah sudah sah. Maksudnya, lisan mengucap takbir hati membaca niat. Keapa lafadz “sunnah” tidak disebutkan tidak masalah? Karena semua sholat selain sholat fardhu adalah sunnah.

Alhamdulillah. Serasa pengin nyantri di pesantren lagi karena masih banyak hal yang belum diketahui.

Pringamba, 02 April 2019

Membangun Channel Youtobe

22:27:00 Add Comment


Fenomena youtober saat ini masih menjadi sesuatu yang menjanjikan, katanya. Pasalnya sukses menjadi youtober bisa menjadi salah satu jalan meraup pundi-pundi dolar masuk tanpa harus bersusah payah bekerja kasar, katanya. Asal kreatif, youtobe bisa dijadikan hobi yang dibayar.

Benarkah begitu?

Entahlah. Katanya si memang benar begitu dari cerita para youtober yang berhasil. Namun saya menyimpulkan bahwa butuh kreatif yang tinggi untuk bisa sampai ke sana. Dan itu tidak mudah.

Bagaimana dengan saya?

Begini, satu tahun yang lalu saya cukup kranjingan mengupload vidio. Kurang lebih satu bulan sampai dua bulan. Habis itu kembali ke habitat lama, membiarkan channel youtobe yang saya miliki menjamur dan berlumut tak terjamah.

Baru-baru ini saya mencoba mulai aktif kembali, namun dengan tujuan dan visi yang berbeda. Selain karena alasan pendaftaran blog yang sudah diterima oleh google adsense, statistik vidio yang satu tahun lalu saya upload beberapa diantaranya mendapat viewer yang lumayan. Salah satunya adalah vidio yang membahas tentang “Persyaratandan Cara Membuat Akta Kelahiran” bisa tembus sampai 22 ribu kali ditonton dan banyak pertanyaan di kolom komentar. Vidio tentang “Persyaratan Pernikahan” juga lumayan mendapat viewer 4,3 ribu.

Hal ini membuat saya berpikir ulang bahwa informasi yang saya bagikan lewat vidio memang menjadi salah satu kebutuhan banyak orang. Dari sini saya mulai mencoba membangun ulang niche atau ciri khas dari channel saya miliki adalah tentang “Informasi Desa”. Harapannya bisa membantu mereka yang membutuhkan info seputar administrasi kependudukan tanpa harus langsung datang ke balai desa atau kantor kelurahan. Minimal menjadi satu gambaran tentang apa yang harus disiapkan sekiranya mau mengurus perihal administrasi kependudukan.

Bahasan kedua adalah soal pengembangan diri. Saya memilih topik ini tidak lain karena secara pripsip, saya suka sharing didukung dengan background pelatihan yang pernah saya ikuti ataupun pengalaman yang pernah saya alami sendiri. Selain untuk berbagi, vidio dengan topik pengembangan diri ini juga sebagai bagian dari remember for my self, sehingga kedepan bisa selalu menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

So, apa misi saya tentang channel youtobe yang saya miliki?

Sharing, saving and growing. Berbagi untuk orang lain sebagai bagian dari berkarya, menyimpan vidio yang sekiranya manfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain serta media untuk selalu belajar dan bertumbuh.

Vidio lengkap dan SUBSCRIBE - https://www.youtube.com/c/MadSolihinBna

Pringamba, 25 Maret 2019

Why I am Here?

21:54:00 Add Comment
Pernah merasa jenuh dengan rutinitas yang sama setiap hari? Rutinitas yang menuntutmu melakukan hal yang sama setiap harinya.

Tentu saja pernah, lumrah sebagai manusia seperti itu.

Dan tahukah kamu bahwa pekerjaan saya sebagai sekretaris desa adalah salah satu diantara pekerjaan yang mudah di serang kejenuhan kecuali bagi mereka yang mampu mengelola emosinya serta  tahu alasan kenapa dia di situ.

Lalu, bagaimana dengan saya?

Jujur dalam beberapa minggu terakhir ini saya merasa jenuh. Pekerjaan numpuk, internal yang masih butuh pembenahan serta jabatan baru yang membuat saya harus banyak belajar. Akan tetapi setelah merenung dan mencoba untuk instropeksi diri saya menemukan alasan, “Why?” Kenapa saya ditempatkan di balai desa?

Alasan tersebut merupakan proses tadabur yang jika saya selami lebih dalam bisa menjadi alasan penguat atau obat untuk sebuah kebosanan. Itu menurut saya, entah menurutmu.

Pertama, sebagai pelengkap.

Begini, di desa saya ada beberapa perangkat yang kurang menguasai komputer. Tentu saya memaklumi karena memang mereka adalah orang lama yang dulu tak pernah bersentuhan dengan komputer dan usianya juga lumayan sepuh. Di luar itu saya meyakini bahwa di masyarakat mereka punya pengaruh dan perannya masing-masing. Karena tuntutan sebagai perangkat desa itu bukan hanya sekedar administrasi namun semua yang berkaitan dengan persoalan di masyarakat, perangkat desa pasti ikut.

Tugas saya, melengkapi mereka dalam hal administratif dan hal lain yang berkaitan dengan aturan-aturan bagi desa.

Alasan kedua kenapa saya ditempatkan di balai desa adalah sebagai sarana kebermanfaatan. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain?

Manfaat di sini banyak bentuknya, mulai dari pelayanan kepada masyarakat, keberlangsungan tata pemerintahan yang muaranya adalah kebaikan untuk Desa Pringamba. Jika dirunut lagi, bagi saya ini bagian dari rasa cinta untuk Indonesia. Kenapa? Karena desa adalah bagain kecil dari Indonesia. So, menjadi perangkat desa sama halnya bagian dari Cinta Tanah Air. Bukankah begitu?


Dua hal tersebut adalah pembacaan atas apa yang saya alami. Sebagai penguat sekaligus pengingat sehingga saat kerja bisa memberikan yang terbaik. Kalau orang sering menyebutnya sebagai motivasi internal.


Puncak Midangan (Dokpri)

Pringamba, 19 Maret 2019

Curhat Hari Ini

21:23:00 Add Comment

Boleh saya bercerita? Tentang aktifitas hari ini yang cukup menyebalkan namun tetap harus saya syukuri.

Begini, pekerjaan di kantor sebenarnya lancar. Hanya saja cukup menumpuk gegara banyak yang tertunda. Berlebih tuntutan aturan membuat saya merasa pusing. Bukan pusing sakit tetapi karena banyak yang harus dikerjakan sementara raga tak bisa menjelma 10 laiknya Naruto.

Dari amatan saya selama bekerja di balai desa, ada satu syndrom yang bagi saya cukup merugikan terutama bagian pengembangan diri stagnan. Ini simpulan saat ini, kalau pada akhirnya nanti berubah ya tidak masalah.

Kenapa?

Pertama, lingkungan monoton yang membuat saya harus berinteraksi dengan orang yang sama setiap hari. Karakter, sifat dan semua yang melekat padanya membuat saya berpikir apakah selamanya saya akan bekerja di sini. Entahlah, hari ini saya ingin menikmatinya dulu.

Kedua, bekerja dengan orang lain itu beragam rupa. Ada yang rajin, ada yang tengah-tengah dan ada pula yang terlihat menyebalkan. Sebagai sekdes, itu tanggung jawab saya untuk mengkoordinir sekaligus tantangan. Apa yang bisa saya buat untuk memperbaikinya?

Yang membuat jenuh itu saat pekerjaan yang bukan tanggung jawabnya dilimpahkan begitu saja. Bisa saja saya menggunakan prinsip untuk menerima sebagai bahan untuk menaikan kemampuan, namun yang saya enggan adalah karena banyak tugas lain yang juga menuntut untuk segera diselesaikan. Sementara yang lain ada yang begitu acuhnya.

Sekali dua kali mungkin maklum, tetapi jika terus-terusan kan repot.

Saat hal ini terjadi, saya hanya ingat pada niatan awal ketika ingin mendaftar menjadi perangkat desa. Niatnya untuk ibadah sebagai wasilah agar bisa bermanfaat untuk orang lain. Selebihnya, lakukan semampunya.

Pertanyaanya, apakah saya akan terus bertahan dengan pekerjaan ini? Entahlah, lihat saja nanti.

Yang jelas, saya harus bisa menjaga diri untuk selalu positif. Dan mengusahakan diri untuk selalu belajar.

Sekian.

“Tulisan ini hanya sebagai meditasi. Jangan anggap serius .. Haha”

Sumber : desapringamba.info

Solusi Saat Ini : Petakan dan Rumuskan Masalahnya

22:42:00 Add Comment

Sumber : Pixabay.com


Menjadi sekretaris desa ternyata bukan hal yang mudah, meski bukan berarti sulit. Yang jelas ada tanggung jawab lebih dibanding dengan perangkat lain, salah satunya mengkoordinir supaya pemerintahan di desa bisa berjalan lancar. Persis seperti fungsi yang ada dalam peraturan, sebagai koordinator. Hal tersebut merupakan tantangan saat ini yang menjadi PR dan harus saya selesaikan. Apa saja?

Pertama, kondisi kantor yang saat ini belum stabil. Masih ada yang cukup acuh dengan kehadiran, akibatnya timbul rasa kecemburuan antara satu sama lain. Meski hal ini bukan menjadi patokan utama namun setidaknya kehadiran itu lumayan berpengaruh terutama pada suasana kantor. Saya mengamati ada ketidakjelasan tentang apa yang harus dilakukan (untuk tidak mengatakan tidak tahu tugasnya, red).

Kedua, posisi saya sebagai orang baru dengan umur termuda cukup membuat saya iwuh jika ingin menegur. Ini PR kedua yang harus saya atasi. Solusinya, arahkan. Tentu dengan arahan yang jelas, ibarat mengarahkan seseorang untuk jalan ke arah barat maka saya wajib tahu kenapa ia harus berjalan ke barat. Tujuannya harus jelas, tidak mengambang.

Ketiga, bekerja di kantor itu bukan bekerja individu. This is team. Banyak orang dengan berbagai ragam karakter. Maka PR yang harus saya pecahkan adalah mengenali setiap perangkat satu per satu. Bukan hanya sekedar tahu namanya, namun sifat, karakter dan sisi kehidupannya pula sehingga saat ada sesuatu yang kurang pas maka saya bisa memandang dengan kacamata bijaksana.

Terakhir, pesan untuk diri saya sendiri, “Nikmati apa yang ada dihadapanmu. Fokuslah pada solusi bukan masalahnya. Apa yang sekiranya bisa kamu lakukan, lakukanlah. Tak perlu membandingkan tentang apa yang kamu lakukan dengan yang orang lakukan. Mulai petakan dan rumuskan apa yang terbaik untuk mengurai setiap PR yang kamu miliki.”

Tabik
Mad Solihin