Loading...

My First Book

07:14:00 Add Comment
My First Book

Asyiknya IPNU-an, The Journey of Mad Solihin adalah buku pertama yang saya terbitkan. Berisi tentang pengalaman saya menjadi Ketua PC IPNU Banjarnegara periode 2014-2016.

Salah satu alasan saya menulis buku ini adalah untuk mengingatkan tentang pentingnya sejarah karena tanpa tulisan maka sejarah akan hilang. Maka tulisan yang berbentuk diary dan masuk kategori ringan ini semoga nantinya bisa menjadi referensi jika ada penulis baru yang ingin menelusuri sejarah IPNU di Banjarnegara.

Tentu masih banyak kekurangan, hanya saja saya meyakini bahwa apa yang saya tuliskan akan bermanfaat untuk kader IPNU selanjutnya. Minimal motivasi bahwa perjuangan memang tidak semudah yang kita bayangkan.

Harapan saya, buku ini adalah stimulasi pertama saya untuk bisa menulis buku-buku lainnya, diantaranya menulis tentang Sejarah NU di Banjarnegara. Doakan semoga bisa teralisasi ya. Aamiiin

Note : Masih ada 10 Eksemplar tersisa, bagi yang minat bisa hubungi no ini 085747338492.

Tabik
Mad Solihin

Google Adsense, Resolusi 2017 yang Baru Tercapai

20:07:00 Add Comment
Sumber : Dokpri

Akhir tahun 2018 saya merasa beruntung lantaran apa yang selama ini saya usahakan membuahkan hasil. Blog Trik Surat yang awalnya saya niatkan untuk mendokumentasikan surat-surat penting yang saya butuhkan akhirnya di terima ketika saya coba daftarkan ke Google Adsense. Dan itu menjadi salah satu pencapaian luar biasa diantara pencapain gila lainnya di tahun 2018.

Seneng, tentu saja. Karena hal itu merupakan sesuatu yang telah lama saya dambakan setelah beberapa kali mengalami penolakan. Blog madsolihin.com yang tulisannya sedang kamu baca entah sudah beberapa kali mengalami penolakan, belum lagi blog Coretan Pena yang dulu sempat saya mau hapus dan postingannya pindah ke blog baru padahal pengunjungnya sudah lumayan. Alasannya? Kaerana daftar google adsense ditolak. Namun saya beruntung karena niatan itu tak saya lakukan dan akhirnya berkat satu blog yang diterima, blog tersebut bisa juga dimonetize dengan satu akun Adsense.

Ngomong soal google Adsense, blog Catatan Lepas ini akhirnya juga bisa diapprove setelah kemarin saya coba daftarkan. Dan setelah saya cek di arsip blog, ternyata sudah sejak tahun 2014 saya menggeluti dunia tulisan dan perbloggingan. Dan hari ini resmi bisa menampilkan iklan. Artinya, memang butuh waktu yang cukup lama untuk bisa mencapai apa yang saya impikan. Dan kamu tahu, tembus google adsense untuk blog ini ternyata menjadi salah satu resolusi yang pernah saya tulis di tahun 2017.

Apa artinya?

Apapun yang kita impikan dan tuliskan, bisa jadi pencapainnya lebih cepat atau bahkan tercapai saat kita sudah lupa pernah menuliskannya.

Terakhir, terima kasih Tuhan atas segala kenikmatan yang engkau berikan. Soal pencapaian, saya meyakini hal ini menjadi salah satu pembelajaran yang Engkau hadirkan agar saya tidak lupa untuk selalu berusaha dan yakin bahwa yang dulu mustahil, bisa jadi sekarang menjadi nyata.

Pringamba, 13 Februari 2019

Nahkodanya Itu Kamu

01:22:00 Add Comment
Sumber : Pixabay(dot)com
Saya melihat dan merasakan sendiri bahwa nahkoda hidup terletak pada diri saya sendiri bukan orang lain. Apapun yang terjadi terhadap diri saya sepenuhnya tanggungjawab diri saya. Orang lain hanya punya dua pilihan, menasehati atau mengomentari. Adapaun nasehat dan komentar mereka, sama sekali tak bedampak jika saya tidak merenspon. Kedali sepenuhnya ada dalam diri saya, orang lain sama sekali tak punya kuasa.

Sekarang simak analogi berikut ini.

Ketika karirmu bagus, jalan hidupmu lebih baik dari orang lain maka saya percaya apa yang kamu lakukan berbeda dengan yang orang lain lakukan. Saya percaya usahamu lebih keras, lebih berat dan lebih susah dari yang lain. Karena hukum sebab akibat selalu berlaku.

Contoh, jika orang lain jualannya lebih sukses, penghasilannya lebih besar maka bisa dipastikan mereka telah banyak melakukan kesalahan. Mereka telah banyak mencoba sehingga dari sekian banyak percobaan, ada satu jalan yang membuatnya berhasil. Trial and error, belajar secara otodidak adalah jalan yang dilakukan oleh orang ini. Konsekuensinya waktunya tidak bisa ditebak, biasanya lebih lama.

Berbeda dengan orang yang jalannya terarah, perencanaanya matang dan memiliki mentor pembimbing. Orang dalam kategori kedua ini bisanya lebih banyak berhasilnya asal menuruti apa yang dikatakan oleh sang mentor tanpa banyak alasan ini itu. Apa yang dikatakan, ia lakukan tanpa meminta diskon atau keringanan. Namun konsekuensinya, opsi kedua ini tidak gratis. Ada harga yang harus rela ia keluarkan untuk membayar sang mentor.

Dan terakhir, nahkodanya itu kamu. Kamulah penentu atas apa yang terjadi dalam hidupmu. Belajar secara otodidak silahkan, belajar dengan adanya mentor juga silahkan. Kuncinya, setiap hal kamulah pengendalinya.

#30DWC #30DWCJilid16 #Day18

Saat Logika Tak Sampai

01:56:00 Add Comment
Ada sesuatu yang tak berlogika atau bisa dibilang melogikannya itu susah, seperti misal sholat, sedekah atau membantu orang lain.

Tapi baiklah, saya ingin sedikit mengeluarkan dalam rangkaian kata malam ini. Apapun isinya, itu unek-unek yang ada dalam pikiran saya. Kalaupun salah, please ingatkan. Anggap saja tulisan ini adalah tulisan anak muda yang masih terombang-ambing dalam lautan pencarian jati diri.

Pertama, sholat. Tuhan itu tidak butuh dengan sholat yang kita lakukan. Bahkan andaikan seluruh penduduk bumi ini tak beribadah kepada-Nya, Allah sama sekali tidak rugi. Paling bumi yang kita pijak ini yang bosan, enggan menerima kita sehingga ia meluluh lantahkan isinya. Apakah ini masuk akal? Apakah logika bisa menerima jika maksiat itu mendatangkan bencana.

Secara kasat mata mungkin tidak, maka disini peran keyakinan berupa iman menjadi penting. Dampaknya luar biasa, orang taatpun terkana imbasnya. Analoginya begini, saat kita naik perahu ada seseorang yang mencoba untuk melubangi papan kapal. Air masuk sehingga lama kelamaan perahu terisi air dan berangsur mulai tenggelam. Pertanyaanya, apakah yang tenggelam hanya satu orang yang melubangi?

Kedua, sedekah. Ada banyak ayat dan hadits nabi yang menerangkan saat kita sedekah sebenarnya harta kita bertambah bahkan 10 kali lipat. Logiknya, saat seseorang memberi maka otomatis berkurang lalu bagaimana ceritanya ini menjadi bertambah?

Lagi-lagi disini peran keyakinan berupa iman menjadi senjata utama. Ada sesuatu yang secara logika tak masuk akal tetapi efeknya benar-benar nyata. Contohnya sedekah. Tidak percaya? Buktikan saja sendiri. Setelah itu give me about your story.

Ketiga, membantu orang lain. Kamu percaya dengan karma? Sesuatu yang akan menimpamu sesuai dengan apa yang kamu lakukan kepada orang lain. Memahami hal ini saya kadang hanya mengandalkan harapan. Harapan bahwa kebaikan apapun yang kita lakukan akan berbalas. Bentuknya bisa langsung kita yang menerima dari orang yang kita bantu atau Allah mengirimkan orang lain pada waktu yang berbeda saat kita membutuhkan. Atau bisa jadi kebaikan yang kita berikan imbasnya kepada orang yang kita sayangi, bisa juga karena kebaikan yang kita lakukan anak atau orang tua kitalah yang menerima balasannya berupa kebaikan dari orang lain. Pertanyaannya, secara hitung-hitungan apakah masuk akal?

Tiga hal yang saya sebut di atas kadang bukan logika yang main tetapi iman, keyakinan hati. Ada sesuatu yang kadang logika manusia tidak sampai. Isra’ Mi’raj misal, apakah itu masuk akal? Dalam semalam bisa sampai langit?

Bagi saya selaku orang awam tentu tidak masuk akal, tetapi sekali lagi ini soal iman, percaya. So, apa yang harus kita lakukan? Percaya. Apa yang secara logika manusia kadang tak sampai, bukan berarti itu sebuah kebohongan atau sesuatu yang mustahil.

Tabik
Mad Solihin

#30DWC #30DWCJilid16 #Day17

Namaku Hujan

07:23:00 Add Comment

Perkenalkan namaku Hujan. Orang biasa memanggilku dengan sebutan hujan, gerimis ataupun kremun. Aku adalah orang yang kehadirannya dirindukan. Jika lama tak kelihatan biasanya orang-orang akan bertanya, kapan aku datang, sudah lama aku tak datang dan berbagai ungkapan lain yang menginginkanku segera muncul.

Sayangnya harapan itu membingungkanku lantaran saat aku hadir, keluhan menyerbuku. Kenapa hujan terus, kapan terangnya, jangan hujan dulu atau yang lebih parah orang-orang menyalahkanku karena hadirku membuat beberapa tempat menjadi banjir. Hello, bukankah itu salah mereka?

Begini, saat diriku lama tak turun sebenarnya aku sedang memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertindak dan bersikap baik. Membersihkan sungai dari tumpukan sampah bukan menambahi dengan yang baru. Membuat peresapan air agar aku bisa lewat bukan dicor dengan adukan semen sehingga aku harus mencari resapan dengan mengalir ke tempat yang rendah.

Ah, manusia. Kenapa pula masih menyalahkanku padahal mereka sendiri yang membuat kerusakannya. Mereka tahu bahwa membuang sampah sembarangan itu tidak baik, tapi buktinya? Mereka dengan seenaknya mengotori jalan dan sungai dengan bungkus makanan yang mereka makan. Pertanyaannya, apakah ilmu yang mereka dapat hanya sekedar menggugurkan kewajiban atau agar dianggap orang berpendidikan. Hah?

Seharusnya mereka intropeksi dan belajar dariku. Aku sama sekali tak membedakan mana yang kaya dan miskin, mana yang taat dan yang maksiat, mana yang sudah menikah atau jomblo. Aku datangi mereka semua tanpa terkecuali. Tidak seperti hukum, mereka mimilih datang pada yang berduit. Masih salahkah aku?

Sumber : Pixabay(dot)com
#30DWC #30DWCJilid16 #Day16