Loading...

Menulislah Untuk Diri Sendiri

22:47:00 Add Comment

Jika kamu merasa tidak percaya diri atas apa yang kamu tulis, pesan saya, “Menulislah untuk dirimu sendiri. Dedikasikan tulisanmu untuk dirimu bukan untuk orang lain.” Percayalah, saat kamu mengikuti nasehat ini maka beban self talk negatifmu akan berkurang. Karena pada kenyataannya apapun yang muncul dari pikiranmu itu hanya sugesti yang tak berdasar.

Prinsip inilah yang saya terapkan untuk diri saya saat ini. Kenapa? Karena saat namamu belum terpatri di hati orang lain maka apa yang muncul serasa tak bernilai sebagaimana ungkapan dari Founder Alibaba, Jack Ma. “Ketika kamu miskin, belum sukses, semua kata-kata bijakmu terdengar seperti kentut. Tapi ketika kamu kaya dan sukses, kentutmu terdengar sangat bijak dan menginspirasi.”

Ungkapan itu berlaku untuk hal apapun. Maka tugas kita saat ini adalah memberikan yang terbaik termasuk dalam hal menulis. Boleh jadi apa yang kita tulis hari ini seperti tak bernilai tetapi 10 tahun kedepan akan menjadi inspirasi sehingga banyak orang menjadikannya sebagai referensi dan quote bijak. Bisakah seperti itu? Tentu saja.

Pesan kedua untuk diri sendiri, tulislah sesuatu dengan hati sehingga yang membaca juga menerimanya dengan hati. Tulislah apa yang ingin kamu tulis. Jangan terlalu banyak mikir tulisannya bagus atau tidak? Tulis saja. Karena perihal kualitas akan terbentuk seiring banyaknya jam terbangmu dalam mendalami dunia tulisan. Perihal pembaca, percayalah  setiap tulisanmu punya jodohnya sendiri. Tulis saja. Dedikasikan saja untuk diri sendiri dulu. Kalaupun nantinya banyak yang membaca dan menginspirasi anggap saja itu bonus.

Hanya itu pesan saya. Selamat menulis dan semoga tulisan ini berjodoh denganmu.

Sumber : Pixabay(dot)com
#30DWC #30DWCJilid16 #Day4
30 Days Challenge Writing

Jangan Menjadi Orang Lain, Melalahkan. Sungguh!

22:25:00 Add Comment

Jika tak suka pedas jangan paksakan diri untuk makan dengan sambal meski orang-orang disekitar melakukannya. Tidak enak dan rugi sendiri. Sama, dalam kehidupan kamu tidak perlu menjadi orang lain agar bisa diterima. Memakai topeng dalam setiap interaksi itu sungguh melelahkan dan meresahkan. Maka, jadilah dirimu sendiri.

Saya mengalaminya. Tahu rasanya? Melelahkan, sungguh. Beneran.

Jujur, saya adalah tipikal orang yang suka dengan kesunyian. Berinteraksi dengan orang lain seperlunya. Kalaupun berkumpul dengan orang lain saya lebih banyak diam, bicara sesekali saat benar-benar dirasa penting. Apalagi dengan orang baru, kadang cukup sulit mencari topik pembicaraan. Hal itu menjadi salah satu diantara alasan kenapa saya suka dengan dunia tulis menulis. Kenapa? Karena dengan menulis saya mampu menuangkan apa yang saya rasakan dengan bebas.

Dalam group online seperti WA, telegram, facebook ataupun group-group lain saya juga lebih banyak menjadi silent reader. Lebih banyak mengamati, comment seperlunya dan memilih untuk japri langsung jika ada keperluan. Alhamdulillah sekarang saya sudah bisa menerima kenyataan ini dan rasanya lebih nyaman. Berbeda dengan dulu saat memaksakan diri untuk menjadi orang lain, menjadi orang rame yang ternyata itu menyiksa.

Saya sadar segala sesuatu ada nilai positif negatifnya. Menjadi orang yang rame misalnya, biasanya orang di sekitar akan lebih banyak karena pertemuannya menjadi hidup. Topik pembicaraannyapun biasanya selalu ada.

Apakah saya ingin berubah? Tentu saja. Namun kunci awal dari perubahan adalah menemukan kesadaran akan diri sendiri dan menerimanya dengan ikhlas. Mengakui bahwa diri saya orang pendiam dan tidak suka keramaian, misal. Setelah sadar maka tugas saya adalah belajar untuk membuka diri dan memperbaikinya. Ibarat gelas gosong, untuk bisa di isi air maka harus tahu bahwa gelas tersebut memang kosong dan siap untuk diisi. Intinya, menyadari diri sendiri dan menerimanya dengan ikhlas.

Lantas, sudahkah kamu menyadari bagaimana diri kamu sebenarnya dan menerinya dengan ikhlas?

Sumber : Pixabay(dot)com
#30DWC #30DWCJilid16 #Squad1 #Day3

Cintai Apa yang Kamu Lakukan

21:47:00 2 Comments

Pernah membandingkan pekerjaanmu dengan orang lain? Saat perjalanan pulang misal, melihat montir bengkel motor, penjual bakso dengan gerobak dorong, tukang cuci motor ataupun tukang somay yang menjajakan dengan cara memikul?

Dulu awal-awal bekerja di balai desa saya sempat gelisah, masih selalu mencari peluang di luar yang sekiranya lebih sesuai passion. Akibatnya pikiran menjadi bercabang dan tidak fokus. Bekerjapun masih setengah hati. Baguskah itu? Tentu saja tidak. Bekerja sesuai passion atau menjalankan hobi yang dibayar tentu menjadi impian setiap orang tetapi bukan berarti mengabaikan apa yang sudah didapat dengan cara bekerja asal-asalan.

Ada sebuah ungkapan yang saya dapat dari status istagram teman, Kamil namanya. “Jika engkau tidak mendapatkan apa yang kamu cintai maka cintailah apa yang kamu dapatkan?”

Ungkapan tersebut cukup menyentuh apalagi sebelumnya telah mendengar ceramah dari seorang kyai yang mengatakan bahwa apa yang kita lakukan bisa bernilai ibadah. Apapun itu. Menjadi tukang tambal ban contohnya. Jika dengan menambal ban bocor bisa membuat pemilik sepeda motor kembali bekerja, bukankah menambal ban juga bernilai ibadah. Apakah bermanfaat? Pasti. Saya meyakini hal itu. Berlebih hasil dari pekerjaannya untuk menafkahi keluarga dan membiayai sekolah anaknya. Double manfaatnya.

Prinsip inilah yang mungkin menjadi jawaban atas apa yang saya cari. Who am I? Apa alasan Tuhan menciptakan saya?

Setelah belajar mengamati dan melakukan banyak perenungan ternyata intinya sederhana, bersyukur. Bersyukur atas apa yang kita miliki hari ini, bersyukur atas apa yang kita alami sampai hari ini dan bersyukur atas segala nikmat Tuhan yang tak bisa dinilai. Caranya? Hadirkan cinta dalam setiap hal yang kita lakukan.

Dampaknya luar biasa. Fokus kita akan berubah, bukan pada mencari pekerjaan yang terlihat lebih menguntungkan tetapi pada apa yang bisa kita lakukan untuk menebar manfaat lebih banyak. Sebagai perumpamaan, bekerja menjadi perangkat desa sebenarnya banyak yang bisa saya lakukan, membuat vidio perihal tata cara membuat ktp, akta, kartu keluarga atapun vidio informasi lain yang isinya bersentuhan langsung dengan masyarakat. Bukankah itu bermanfaat? Pasti.

So, sudahkah kamu mencintai apa yang kamu lakukan?

Sumber : Pixabay(dot)com

#30DWC #30DWCJilid16 #Day2
#30DaysChallengeWriting

Alasan ikut Program 30 Days Challenge Writing

18:07:00 2 Comments
Sumber : Pixabay(dot)com

30 Days Writing Challeng adalah program yang sudah cukup familiar di telinga saya, pasalnya dalam beberapa postingan Istagram, Mas Rezky Firmansyah selaku inisiator beberapa kali menyebutnya, bahkan saya tahu pembukaan  Program 30 Days Writing Challenge jilid 16 ini dari istigramnya beliau. Pertanyaannya kenapa saya tertarik ikut program ini?

Helvy Tiana Rossa dalam salah satu vidio yang saya tonton di youtobe pernah berujar bahwa menulis itu ibarat berenang. Sepandai apapun seseorang mempelajari teori tentang renang tetapi tidak pernah menceburkan diri ke air, maka selamanya tidak akan pernah bisa berenang. Kuncinya, nyebur ke air. Begitu pula dengan seorang penulis, kuncinya ya menulis, menulis dan menulis.

Nah program 30 DWC bagi saya adalah salah satu tempat untuk menggembleng diri, membangun habit dan menciptakan kebiasaan menulis dengan cara langsung praktek laiknya belajar berenang, not only about theory. Poin ini menjadi alasan pertama saya ikut program ini.

Challenge, mendapat tantangan adalah alasan kedua saya ikut. Pasalnya, saya merasakan sendiri dan mengamati jika seseorang mendapat tantangan biasanya kekuatan yang ada dalam dirinya akan muncul. Bahasa akrabnya, the power of kepepet. Berlebih ada deadline dan sanksi tersendiri jika melanggar.

Challenge ini tidak lain merupakan solusi atas musuh terbesar seseorang yang mendeklarasikan diri menjadi penulis yaitu tidak konsisten dan malas. Adanya program 30 DWC ini menjadi semacam kawah candradimuka yang hasilnya ada dua, terpental karena tidak kuat atau bertumbuh lebih cepat. Apalagi adanya support komunitas yang mempunyai hobi sama dan mentor yang membimbing. Hasilnya akan lebih powerfull. Semoga.

Terakhir, siap untuk perang?? Let’s go to start war in the sea of words.

#30DWC #30DWC16 #Day1

Memulai Bisnis Online

23:53:00 Add Comment
Sumber : Pixabay(dot)com


Sejujurnya saya tak pandai dan tak suka dengan yang namanya menjual. Hanya saja fakta mengenai bisnis adalah tentang jual beli, not money if not selling. Itu artinya saya harus belajar tentang jual beli, titik.

Berawal dari ikut acara Internet Marketer Nahdlatul Ulama (IMNU) di Ponpes Entrepreuner Ar-Ridwan Wonosobo, saya mulai tertarik dengan bisnis online. Ekspetasi awal saat ikut sebenarnya karena berkaitan dengan internet yang salah satunya ada materi tentang blogging, dunia yang selama ini saya minati. Berlanjut dengan materi tentang bisnis online yang memanfaatkan media sosial seperti facebook dan istagram untuk jualan. Hal itulah yang melatarbelakangi saya akhirnya terjun dan belajar lebih dalam tentang bisnis online.

Sebagai awalan saya mencoba menghubungi teman untuk ikut menjajakan barangnya hingga akhirnya menemukan salah satu akun istagram yang membuka lowongan sebagai reseller. Saya hubungi nomor yang ada di bagian description dan mendaftarkan diri untuk jadi reseller. Walhasil, saya membuat toko online di Istagram sesuai dengan penjelasan yang saya dapatkan dari materi di dropshipaja(dot)com.

Apakah langsung berhasil? Tidak. Saya baru mendapatkan pembeli kurang lebih 3 bulan setelah toko online saya buat karena memang waktu itu belum paham mengenai cara mendapatkan atau mendatangkan traffic pengunjung ke toko online yang saya kelola.

Di sela-sela itu, karena ketertarikan pada bisnis online akhirnya membuat saya banyak berselancar untuk mencari-cari informasi hingga ketemulah Akademi BisnisDigital (ABDi).

Saya tonton vidio satu dan duanya yang disediakan GRATIS. Saya pelajari lagi vidionya dan akhirnya saya gabung. Mindset saya dulu saat gabung adalah investasi leher ke atas jauh lebih baik daripada dihabiskan tidak jelas, artinya apa yang berkaitan dengan otak berupa ilmu akan kembali berkali lipat dari nilai yang kita tukarkan untuk gabung. Itu yang mendasari saya kenapa saya beranikan diri untuk bergabung.

Akademi Bisnis Digital, Bisnis Online, Bisnis Digital
Sebagian Materi di Akademi Bisnis Digital (Dikpri)

ABDi inilah yang menjadi titik pertama saya mempelajari dasar-dasar mengenai dunia bisnis online. Mulai dari produk yang ideal untuk dijual, sistem leanding page yang bagus, alur sistem audience dari cold ke warm sampai ke hot audeince, serta bagaimana cara beriklan dengan tarffic gratisan dan paid traffic berupa FB Ads dan Istaram Ads.

Beruntungnya, karena sistem webinarnya memang di desain secara terstruktur mulai dari nol sampai bisa beriklan di FB Ads membuat saya lebih mudah mempelajari saat ada materi lain. Berlebih ilmunya aplikatif, artinya toton dan praktek. Untungnya lagi di ABDi ini sudah disediakan produk bagi orang-orang yang belum mempunyai produk dan ingin memulai bisnis online yang artinya bisa sebagai tambahan penghasilan.

Info lengkap tentang Akademi Bisnis Digital (ABDI) bisa klik disini.

Kenapa Harus Berbisnis?
Karena dengan bisnis penghasilan yang biasanya didapat dalam waktu satu bulan bisa di didapat dalam waktu satu atau tiga hari. Alasan inilah yang pada beberapa waktu terakhir ini menguatkan saya lebih mendalami mengenai bisnis online.

Bayangkan, jika sekali transaksi dapat keuntungan 500 ribu maka hanya dalam 3 hari dapat keuntungan setara gaji 1 bulan. Gila kan?

Andai saya tahu bisnis seasyik ini, saya menyesal kenapa baru memulai. But I know, never late to start. Tidak ada kata terlambat untuk memulai.

Pringamba, 05 November 2018