Tak Bisa Ditolak


Menjadi tua dan sakit. Itulah dua hal yang tidak bisa ditolak. Dua hal itu pula yang membuat saya tak mampu menolak rasa sedih dan khawatir, bahkan air mata pun tak bisa saya bendung tatkala melihat dua sosok yang saya cintai terbaring sakit. Sungguh, saya tak tega melihatnya.

Terlahir sebagai anak bungsu membuat saya mempunyai tanggung jawab untuk menjaga kedua orang tua sampai akhir. Ada tugas yang secara tersirat melekat dalam pundak saya, berlebih kakak perempuan saya ikut suami di Jambi, Sumatra. Maka saya lah harapan mereka satu-satunya. Namun, keadaan saya yang masih dalam proses mencari kemapanan membuat saya dirundung rasa cemas. Usia saya yang sudah berkepala dua tak memungkinkan lagi merepoti mereka dengan hal sepela seperti meminta uang bensin. Malu rasanya.

“Lakukan yang terbaik dan lakukan semampunya,” hanya itu yang bisa saya lakukan sekarang. Selebihnya biarkan Tuhan yang menentukan. Karena bagaimana pun, Tuhan lah yang berada dibalik setiap fase perjalanan saya saat ini.

Ya Allah, jika menjadi tua tak mampu kami tolak, maka panjangkanlah umur ibu dan bapak saya. Pun jika sakit tak mampu kami tolak, maka sembuhkan dan sehatkan ibu dan bapak saya. Andaikan saat ini engkau sedang menguji bapak dengan tubuh yang menggigil kedinginan, jadikan sakit itu sebagai pelebur dosanya dan segera angkat sakitnya. Aamiin.

madsolihin.com
Daun Gugur (Dokpri)
Pringamba, 18 Mei 2018

Resensi Buku The Power of Frustration


Mad solihin, madsolihin.com
Sumber Gambar 
Apabila kita memiliki setumpuk impian namun tak berdaya untuk mewujudkannya, maka kita akan mudah dihinggapi oleh rasa frustasi. Frustasi itu sendiri muncul ketika seseorang memiliki keinginan atau kebutuhan namun tidak dapat terwujud, karena terhalang oleh hal-ihwal tertentu. Dan banyak orang menganggap bahwa frustasi merupakan hal yang negatif padahal frustasi bisa menjadi sarana untuk membuat perubahan, bahkan dapat mendorong kita untuk terus maju -apapun rintangan yang menghadang- hingga meraih sukses.

Selain mempunyai impian, dalam menjalani kehidupan tentu kita tidak pernah bebas dari sebuah masalah. Satu masalah selesai maka masalah lain pasti akan muncul. Dan untuk melewati masalah tersebut, kita harus memiliki daya tahan yang kuat dan kerpibadian yang tangguh. Tanpa kepribadian tersebut, maka kita akan diterpa kekecewaan, amarah, kerisauan, ketakutan atau duka nestapa yang teramat dalam yang pada akhirnya kita mengalami frustasi.

Buku The Power of Frustration karya Zishak K. Naen merupakan buku pengembangan diri yang dapat merubah pola pikir pembacanya dalam menyikapi frustasi. Menjadikan pembaca mempunyai mentalitas pemenang yang bermental tangguh dan optimis bukan bermental pecundang yang selalu ragu dan pesimistis. Di dalam buku ini, Zishak mengajak para pembacanya untuk menyikapi segala persoalan dengan kacamata positif, termasuk dalam hal frustasi.

Jika di masyarakat rasa frustasi merupakan momok yang mesti dijauhi, maka di dalam buku ini Zishak mencoba mengajak pembacanya untuk melihat dengan sudut pandang lain. Bahkan  memanfaatkan rasa frustasi untuk pengembangan diri, sebagai pendorong meraih keuntungan yang selama ini dianggap mustahil. Mengubah frustasi menjadi berkah dan berfaedah.

Secara umum buku The Power of Frustration ini lebih banyak berisi teknik mengolah rasa frustasi. Hanya pada bagian pertama dan kedua saja yang secara khusus membahas frustasi, selebihnya berisi tentang teknis mengolah rasa frustasi dan bagiamana cara mengubahnya menjadi sebuah peristiwa positif. Penyajiannya yang per bab juga membuat buku ini enak dibaca sekaligus bisa sekali duduk dan tidak terlalu berpengaruh jika antara satu bab dengan lainnya dibaca dalam waktu yang berbeda karena setiap bab mempunyai topik pembahasannya sendiri-sendiri.

Perbedaan setiap topik pembahasan dalam buku ini juga membuat kita lebih bebas memilih cara mana yang lebih cocok untuk di aplikasikan atau dipraktekan dalam diri kita. Karena tentunya setiap orang punya kecenderungan sendiri-sendiri terkait metode menangani rasa frustasinya, sehingga buku karya Zishak ini sangat cocok untuk dimiliki oleh siapapun. Buku ini juga sangat cocok untuk mereka yang sedang merasa galau dalam menentukan sebuah pilihan karena di dalamnya berisi tulisan mengenai cara membuat visi masa depan secara gamblang, bahkan sangat pas untuk mereka yang sedang berada dalam puncak pimpinan baik level paling rendah sebagai pemimpin kelurga maupun level yang lebih tinggi yaitu pemimpin dalam pemerintahan atau organisasi.

Hanya saja ada beberapa kata yang membuat pembaca merasa terganggu karena salah ejaan maupun pengulangan kata dalam satu kalimat. Beberapa kesalahan itu antara lain adalah salah ejaan kata “mnejadi” yang harusnya “menjadi” pada hal 44 baris ke 6 dari bawah. Pengulangan kata “mau” pada hal 140 baris ke 6 dari bawah. Pengulangan kata “segala” pada hal 152 baris ke satu dari atas. Salah ejaan kata “pezngembangan” pada hal 160 baris ke 6 dari bawah.


Namun secara keseluruhan isi buku The Power of Frustration ini laiknya makanan yang selain lezat, kandungan gizinya juga banyak. Untuk anak muda sangat recomended deh. Karena isinya sangat inspiratif dan benar-benar memotivasi ke arah yang lebih baik. Apalagi kondisi anak muda biasanya masih labil dan gampang terseret arus pemikiran orang lain. Sehingga buku ini sangat cocok untuk menjadi konsumsi pembaca, yang nantinya pembaca dapat tercerahkan bahwa semua masalah itu ada solusinya, termasuk ketika dalam keadaan frustasi. 

Judul Buku                : The Power of Frustration
Penulis                        : Ziskan K. Naen
Editor                         : Nur Kholis
Penerbit                      : Araska, Yogyakarta
Tahun Terbit             : 2015
Tebal Buku                : 207 Halaman

Bintek Pengelola Perpustakaan


Materi Hari Ke 3 (Dokpri)
Selasa-Kamis, 25-27 April 2017 bersama dengan 49 guru SD se-Kabupaten Banjarnegara, saya mengikuti acara Bimbingan Teknis Pengelola Perpustakaan Sekolah Dasar di Aula Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DISARPUS) Kabupaten Banjarnegara. Acara ini diselenggarakan oleh pengelola perpusda secara rutin setahun sekali sebagai salah satu bentuk tanggung jawab dalam peningkatan kualiatas SDM (pustakawan, red) yang mumpuni dan profesional.

Bintek ini tentu harapannya bukan hanya sebagai penggugur kewajiban atas agenda rutin tahunan dari perpusda ataupun penggugur kewajiban dari sekolah yang penting ada perwakilan guru yang berangkat, akan tetapi benar-benar terwujudnya optimalisasi peras perpustakaan sekolah sebagai media penanaman minat baca anak didik sejak dini. Ditengah gejala menjamurnya gadget saat ini, peran perpustakaan sangatlah penting. Salah satunya adalah penanaman minat baca sejak dini lantaran anak SD adalah anak yang siap dibentuk menjadi apa saja, tergantung gurunya.

Hanya saja pentingnya peran perpustakaan tersebut belum bisa diimbangi dengan manajemennya yang profesional. Berbagai permasalahan rill di lapangan muncul, mulai dari pengelola perpustakaan yang juga punya peran sebagai guru, penyediaan bahan perpustakaan (buku, red) yang minim, bahkan banyak yang belum memiliki gedung perpustakaan. Melihat realita tersebut, saya hanya berguman pantas saja minat baca orang Indonesia lemah. Belum lagi efek TV yang hampir setiap rumah pasti punya, dampaknya budaya menonton orang Indonesia lebih tinggi daripada membaca. Miris.

Step by step. Perlahan, itulah yang kini sedang dilakukan oleh pemerintah. Bentuk nyatanya adalah bintek ini. Karena kebanyakan background pendidikan pengelolanya bukanlah pustakawan, maka pelatihan ini menjadi hal yang wajib untuk menunjang keprofesionalan dalam mengelola perpustakaan.
Beberapa materi dalam pelatihan tersebut adalah :
1. Klasifikasi dan Katalogisasi oleh Ibu Dyah Nugraheni, S.S (Selasa)
2.  Manajement Perpustakaan, Pengadaan Bahan Pustaka dan Pengantar Perpustakaan Sekolah oleh Ibu Nur Chayati, S.Sos (Rabu)
3. Inventarisasi dan Perlengkapan Bahan Pustaka, Layanan Perpustakaan dan Pengenalan Otomatisasi Perpustakaan oleh Bapak Nugroho Sismartanto, S.Sos (Kamis)

Diakhir acara sebelum penutupan, dipilih tiga peserta terbaik. Dan saya salah satunya. Entah bagaimana penilaiannya yang jelas saya bersyukur dapat hadiah buku gratis. J Lumayan untuk tambahan koleksi.

Pringamba, 30 April 2017

Mad Solihin

Awal Mula Desa Pringamba


Dahulu, desa yang kini bernama Pringamba ini adalah daerah kosong tanpa penghuni. Hingga datanglah para petualang yang menyebarkan agama islam di daerah tersebut. Mereka adalah Mbah Candra Geni, Ciung Wanara, Nyai Garwati, Nyai Suwanti, Mbah Menara Suci, Mbah Klowong dan Mbah Jali Khotob.

Karena merasa cocok dan senang dengan tempat yang mereka datangi maka menetaplah mereka di daerah tersebut. Namun, dari ketujuh petualang tersebut hanya Kyai Klowonglah yang menetap sampai meninggal dan makamnya berada di Pekuburan Pringamba. Sedangkan yang lain melanjutkan petualangannya ke daerah lain. Adapun makam yang sekarang ada adalah petilasan dari para sesepuh awal desa Pringamba.

Penetapan Nama Pringamba
Penetapan nama desa menjadi Pringamba tidak lain adalah hasil musyawarah dari ke tujuh sesepuh awal setelah berjalannya waktu dari bulan ke bulan hingga tahun ke tahun. Kenapa Pringamba? Itu tidak lain karena daerah tersebut pada mulanya merupakan hutan pring (bambu, red) dan glagah.

Adapun pring (bambu) merupakan pohon yang banyak manfaatnya atau multiguna. Ketika masih pendek bisa dikonsumsi atau kita sering menyebutnya dengan nama bung, ketika panjang sedikit bisa buat kerik cangkul (mengeruk tanah yang menempel di cangkul), jika lebih panjang lagi bisa digunakan untuk mbatan (alat buat memikul laiknya tongkat), dan jika lebih panjang lagi bisa untuk membuat tali.

Imbuhan “amba” pada nama Pringamba berasal dari pohon pring yang rindang dengan dapuran (gerombolan) pohon pring yang luas. Atau sederhananya, pohon pring (bambu) tersebut tumbuh dalam jumlah yang banyak. Sehingga ditetapkanlah nama daerah tersebut dengan nama Pringamba.

Nama Pringamba tersebut juga mengandung filosofi dan pesan yang begitu dalam, sebagai kunci kemakmuran masyarakat Desa Pringamba. Yaitu, “Apabila masyarakat Desa Pringamba bisa bersatu seperti halnya pohon pring, maka daerah tersebut bisa menjadi daerah yang gemah ripah loh jinawi.”

Artinya, Desa Pringamba akan menjadi daerah yang makmur dan aman sentosa jika masyarakatnya bersatu dan saling merangkul satu sama lain.

Cungkup Makam Mbah Candra Geni (Dokpri)
Sumber : Bapak Wahidin

Pringamba, 3 April 2017