Peringatan Maulid Nabi dan Haul Ulama


Peringatan hari lahirnya Nabi Muhammad Saw atau sering disebut muludan merupakan salah satu tradisi yang sudah mengakar di masyarakat Indonesia. Cara atau tradisi dalam merayakannya pun berbeda dalam setiap daerah, ada yang dengan grebeg maulid atau dengan pengajian biasa.

Selain muludan, ada pula tradisi haul yang digunakan sebagai sarana untuk memperingati wafatnya para ‘alim ‘ulama atau kyai.

Kenapa nabi diperingati hari lahirnya sedangkan ulama/kyai diperingati hari wafatnya?
Alasan kenapa seseorang itu diperingati adalah karena jasa dan kemuliaannya. Mengenai nabi, tak diragukan lagi. Sewaktu beliau lahir keajaiban dan keberkahannya sudah dirasakan, bahkan kemuliaannya pun sudah terjamin. Sedangkan ulama atau kyai, ketika lahir tak ada yang menjamin bagaimana kisah hidupnya kelak. Baik atau buruk, tak ada jaminan. Akan menjadi pelengkap jalan haq atau batil, tidak ada yang tahu. Maka wafatnya menjadi penutup dan penentu apa yang ditorehkan selama hidup.

Beberapa keberkahan ketika nabi lahir adalah matinya semua api yang menjadi sembahan di beberapa kerajaan Persi, memancarnya cahaya sehingga menerangi gedung-gedung di negeri Syam yang dibawah kekuasaan kerajaan Qaishar, laut kecil di daerah Sawah yang terletak di antara dua kota Hamadzan dan Qum menjadi kering dan sumber-sumber air di daerah Sawah juga kering karena tertahannya gelombang aliran air laut kecil. Artinya, lahirnya nabi sudah membawa rahmat sehingga patut untuk diperingati.

Adapun haul salah satu tujuannya adalah untuk mengingat atau meneladani kebesaran ulama/kyai semasa hidupnya.
Pringamba, 1 Desember 2017

Pesan Bapak, Ambil Saja!


Kembali ke rutinitas, berseragam dan kantor. Sesutau yang dulu persah saya hindari, bekerja tetapi bebas tanpa terikat harus memakai baju apapun. Tetapi nyatanya takdir berkata lain, balai desa dengan aturan baju kheki setiap senin dan selasa menjadi hal yang mau tidak mau harus saya patuhi. Meski awalnya males juga tetapi seiring berjalannya waktu saya pun sudah mulai berdamai. Bukankah memang seperti itu seharusnya? Berdamai adalah cara terbaik move on dari masa lalu.

Pagi ini langit sedang mendung ketika saya berangkat. Mood yang saya jaga agar tetap baik ternyata berubah gegera bata yang dipesan tak sesuai harapan. Bata 500 buah yang dipesen kepada Pak Bambang dibarengkan dengan pemesanan bata untuk Paud Lestari yang mangkrak laiknya Hambalang, kualitasnya jelek.

Hal yang membuat mood saya berubah adalah ketika bata itu saya bawa dan tunjukan kepada bapak namun reaksinya mengisyaratkan kekecewaan. Meski tak diperlihatkan dengan ucapan, akan tetapi rasa sensitif saya mengiyakan akan isyarat itu. Setelah saya konsultasikan ke Pak Bambang, ia tak mempermasalhkan ketika pemesanan itu saya batalkan karena ia memahami bahwa kualitas batanya tak sesuai harapan. Plong, lega rasanya.

Namun kelegaan itu lenyap ketika saya mengirim sms ke bapak mengabarkan bahwa bata yang sudah dipesan tidak diambil. Jawabannya, kon jikot bae. Suruh diambil saja.


Entahlah, perintah itu di ambil masih dalam rasa kecewa atau karena terpaksa sudah kadung pesan. Benar-benar mbingungi, menyisakan rasa bersalah. Dan sampai tulisan ini dibuat, saya belum mengkonsultasikan lagi ke Pak Bambang terkait bata yang kata bapak suruh diambil saja.

Pringamba, 27 November 2017

Membangun Desa Berbasis Data

Penyampaian Materi oleh Mas Edi (Dokpri)
“Terkumpulnya bahan pokok penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa adalah inti dari kegiatan Sekolah Pembaharuan Desa agar APBDes atau Dana Desa digunakan sesuai aturan dan tepat sasaran,” itulah poin yang saya tangkap dari pertemuan asistensi pendidikan pembaharuan desa oleh Mba Alimah dan Mas Edi pada hari Minggu (12/11).

Ada beberapa tahapan yang saya tahu, pertama sosialisasi. Ini menjadi hal yang sangat penting mengingat atmosfir orang pedesaan adalah orang yang acuh, tidak suka ribet apalagi kumpulan. Berlebih kebanyakan sudah berkeluarga, lebih baik ke kebun ngurus tanaman salak.

Kedua, pembagian kelompok. Dari orang-orang yang ikut dalam Sekolah Pembaharuan Desa, dibagi menjadi empat kelompok atau tim yaitu, Tim Aset dan Potensi Desa, Tim Marginal, Tim Kesejahteraan dan Tim Kewenangan.

Ketiga, penugasan lapangan. Kegiatan yang ketiga ini berupa survei langsung ke masyarakat, mencari data sebagaimana mekanisme yang sudah dijelaskan dalam pertemuan sebelumnya.

Keempat, pengumpulan dan analisis data. Pengumpulan data ini berpedoman pada survei yang telah dilakukan oleh masing-masing tim. Artinya setiap tim mempunyai data sendiri dengan kriteria yang berbeda antar tim. Namun semuanya mempunyai muara yang sama, yaitu sebagai pedoman pemerintah dalam melakukan pembangunan di desa. Data yang telah terkumpul tersebut kemudian diolah, dipilah-pilah dan dikelompokan pada 4 bidang pembangunan desa, yaitu bidang pemerintahan, bidang pembangunan, bidang pembinaan masyarakat dan bidang pemberdayaan masyarakat.

Jika penyusunan RPJMDes biasanya difokuskan pada kebutuhan dan usulan masyarakat saat Musrengbangdes, maka dalam kegiatan Sekolah Pembaharuan Desa diajari untuk menyusun atas dasar data apresiatif. Yaitu data yang dikumpulkan atas partisipatif masyarakat desa.

Data apresiatif ini akan menjadi rujukan saat pemerintah desa bermaksud melakukan pembangunan ataupun memberikan bantuan kepada masyarakat. Selain itu, data ini mampu meminimalisir kecemburuan dan penyelewengan, bahwa si A dekat dengan Kades maka di bantu, atau si B keluarga Kades maka mendapat prioritas bantuan. Dengan data yang telah terkumpul, masyarakat mampu mengontrol sekaligus mengusulkan siapa yang berhak menerima bantuan.

Selain beberapa hal di atas, data tersebut juga menjadi kunci dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) satu tahun yang akan datang. RKPDes tersebut pada akhirnya di bawa dalam forum Musrengbangdes untuk mendapat pengesahan sekaligus dibuatkan peraturan desa (Perdes).

Dalam kesempatan tersebut, selaku pamateri Mas Edi juga menyampaikan bahwa awal mula adanya APBDesa adalah untuk mempercepat pembangunan, mempercepat pengentasan kemiskinan dan kemandirian desa. Maka sudah seharusnya masyarakat dilibatkan dalam penyusunan APBDesa tersebut.


Pringamba, 22 November 2017

Mimpi Itu Bayar, Tidak Gratis


Ada ketenangan saat persyaratan tahap II program RKMentee2018 terselesaikan. Setidaknya saat besok bangun pagi saya sudah tidak lagi memikirkan tentang bagaimana vidionya. Ada kelegaan dan mungkin bisa membuat tidur malam ini nyenyak. Kira-kira begitu yang saya rasakan sekarang. Kepanikan yang sempat muncul kini telah lenyap.



Bagiamana tidak panik, saat mendapat pengmuman lolos pendaftaran RKMentee2018 tahap I, saya harus membuat dua vidio untuk persyaratan tahap II. Ini benar-benar menantang saya untuk keluar dari zona nyaman dan menembus dunia yang tak pernah saya jajaki. Ada memang teman yang biasa membuat vidio, sayangnya mereka di Jogja. Gak mungkin kan saya ke Jogja hanya untuk membuat vidio, selain tidak mungkin karena alasan pekerjaan, juga karena bisa saja ia sedang sibuk dengan kegiatannya.

Belum lagi ketika di vidio tersebut saya harus menceritakan tema pendidikan (tema yang saya pilih dari beberapa tema) dan How do you see yourself in 10 years? Jika membuat tulisan mungkin saya akan bisa lebih santai, tetapi ini vidio. Saya harus berhadapan dengan camera pula. Hal yang selama ini saya hindari selain berfoto.

Namun dari situ saya menjadi terpacu untuk bisa menjadi vidio maker. Mendokumentasikan kehidupan di sekitar, salah satunya kegiatan yang ada di desa.

Persyaratan yang wajib saya penuhi jika ingin lolos seleksi tersebut membuat saya belajar untuk membuat vidio. Awalnya bingung, apakah dengan animasi atau rekaman langsung. Browsing, mencari referensi di istagram dan youtobe. Bongkar pasang aplikasi, download vidio maker di playstore. Tidak cocok, hapus. Download lagi yang lain, tidak cocok, hapus lagi. Maklum, memori internel terbatas. Jadi ketika ingin memasang aplikasi baru, aplikasi lama yang sudah terpasang harus saya hapus.

Tak hanya itu, saya juga belajar menulis scrip dan menghafalkannya. Saat perekaman, beberapa kali mengalami kesalahan. Rekam, ada yang kelupaan, berhenti kemudian hapus. Rekam lagi, salah, ulang lagi. Hingga pada akhirnya menetapkan vidio yang saya upload ke istagram sebagai vidio terakhir yang saya anggap baik.

Apakah langsung berhasil? Ternyata tidak. Ukuran vidio terlalu besar sehingga tidak bisa diupload  ke istagram ataupun dikirm lewat email.

Browsing lagi, bagaimana cara mengecilkan ukuran vidio? Hingga ketemu aplikasi VidCompact untuk mengkompres agar ukuran vidionya menjadi kecil. Sayangnya, kualitasnya menjadi berubah agak buruk. Karena tinggal satu hari, maka saya mengusahakan selesai hari ini. Takut besok terbentur dengan kegiatan yang lain.

Benar kata Mas Budi Waluyo, mimpi itu bayar. Bukan dengan uang, melainkan dengan ketekunan, kerja keras dan pantang menyerah.

Akhirnya, apapun hasilnya saya sudah melakukan dan mengusahakannya dengan maksimal. Tinggal berdoa, semoga Allah mengabulkan dan meloloskan pada tahap selanjutnya. Aamiin


Pringamba, 17 November 2017